Menuju konten utama
Debat Kedua Capres-Cawapres

IKN Jadi Bahan Saling Serang dalam Debat Perdana Cawapres

Ketiga cawapres saling serang dan sanggah, terutama soal pembiayaan IKN yang menyedot APBN dan sulitnya menarik investor.

IKN Jadi Bahan Saling Serang dalam Debat Perdana Cawapres
Cawapres nomor urut 1 Muhaimin Iskandar (kiri), cawapres nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka (tengah), dan cawapres nomor urut 3 Mahfud MD (kanan) bergandengan tangan usai mengikuti debat cawarpres di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (22/12/2023). Debat cawapres mengangkat tema ekonomi kerakyatan, ekonomi digital, keuangan, investasi pajak, perdagangan, pengelolaan APBN/APBD, infrastruktur, dan perkotaan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom.

tirto.id - Debat pilpres putaran kedua yang diikuti calon wakil presiden (cawapres) berlangsung sedikit panas. Selain adu gagasan, ketiga cawapres, yakni Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, Gibran Rakabuming Raka, dan Mahfud MD, saling serang ketika tema pembahasan mengarah kepada Ibu Kota Nusantara (IKN).

Mula-mula Gibran mendapatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan dari panelis soal sepertiga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang bisa digunakan untuk membiayai pembangunan. Jumlah ini kontras dengan seluruh program pasangan calon yang memerlukan biaya tinggi.

Pertanyaan dilanjutkan ihwal anggaran mana yang menjadi prioritas, apakah pembangunan infrastruktur fisik atau pembangunan kualitas SDM ekonomi rakyat.

Merespon pertanyaan itu, Gibran menjawab dengan tenang. Menurutnya tidak semua program harus menggunakan APBN. Ia lalu memberi contoh pembiayaan pembangunan IKN, yang menurutnya banyak disalahpahami.

Putra sulung Jokowi itu menjelaskan, pembangunan IKN saat ini hanya menggunakan sekitar 20 persen dari APBN. Sementara sisanya dari swasta dan investasi asing.

"Ini (pembiayaan pembangunan IKN) banyak yang gagal paham," tegas Gibran dalam sesi debat di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jumat (22/12/2023).

Pernyataan Gibran mengenai IKN kemudian ditanggapi oleh Mahfud MD dan Cak Imin. Mahfud mengaku tertarik dengan pernyataan Gibran tentang IKN. Terlebih program ini harus dilaksanakan sebagai warisan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Namun, Mahfud justru agak tergelitik dengan pernyataan Gibran soal pembiayaan anggaran IKN 20 persen dari APBN dan sisanya berasal dari investor. Sebab menurut Mahfud MD, sejauh ini belum ada investor yang masuk ke IKN.

"Coba kalau ada sebutkan misalnya dua atau satu gitu investor mana yang sudah masuk ke sana, yang saya dengar justru ratusan ribu hektare tanah sudah dikuasai oleh pengusaha-pengusaha tertentu sekarang ini," kata Mahfud.

Sementara Cak Imin menyinggung pembangunan IKN sebagai program ambisius. Ia mengatakan anggaran IKN yang mencapai Rp500 triliun seharusnya bisa digunakan untuk pembangunan jalan di seluruh Kalimantan.

"Dari seluruh anggaran IKN itu bisa membangun sekolah dengan baik di seluruh Kalimantan. Itu contoh kemampuan mengambil skala prioritas," ujarnya.

Niat ingin memojokkan Gibran, keduanya justru diserang balik. Wali Kota Surakarta itu membuka kartu bahwa Cak Imin adalah salah satu orang yang ikut meresmikan dan memotong tumpeng saat pembukaan proyek IKN.

"Ini nggak konsisten, dulu dukung sekarang nggak dukung karena menjadi wakilnya Pak Anis yang mengusung tema perubahan," tegas Gibran.

Gibran menekankan, IKN bukan hanya membangun bangunan pemerintah, tapi juga sebagai simbol pemerataan pembangunan di Indonesia. Serta sebagai simbol transformasi pembangunan di Tanah Air.

Sementara kepada Mahfud MD, Gibran justru meminta Menkopolhukam itu untuk kembali mengecek ulang data, investor mana saja yang sudah masuk di IKN. Untuk diketahui, hingga saat ini, nilai investasi di IKN yang dilaporkan Jokowi mencapai Rp41 triliun.

Nilai investasi yang terkumpul saat ini dibangun oleh 13 investor besar dalam negeri. Investasi itu disalurkan untuk pembangunan sekolah internasional hingga pusat olahraga.

"Mungkin nanti setelah pulang dari debat [Pak Mahfud] bisa [lihat] di Google, sudah banyak [investor] yang masuk, [di antaranya] Mayapada, Agung Sedayu, dan nanti akan tambah lagi," katanya.

Gibran Melampaui Ekspektasi Publik?

Analisis politik dari Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo, menilai sentilan-sentilan Gibran kepada Cak Imin dan Mahfud MD di luar ekspektasi publik.

"Paling tidak dia dengan mudah melampaui ekspektasi publik yang sangat rendah terhadapnya sehingga kita dikejutkan. Kejutan yang positif dari Gibran," kata Kunto kepada Tirto, Jumat (22/12/2023) malam.

Kunto menyebut, tim TKN Prabowo-Gibran berhasil mendobrak ekspektasi publik yang kadung terbentuk lewat berbagai media, seakan-akan Gibran tidak bisa apa apa. Apalagi sering kali saat ditanya media, Gibran selalu memberikan jawaban pendek.

"Itu kan dia (Gibran) tidak ingin membuka kartunya. Menurut saya inilah Gibran setelah mungkin masuk karantina, masuk pelatihan debat panjang, dan sekarang kelihatan hasilnya," ujarnya.

Dalam debat, Kunto melihat Gibran terlihat lebih luwes karena ia paling muda dari cawapres lainnya. Posisi ini juga, menurutnya, yang membuat rival debatnya yang lebih tua merasa tidak enak jika menyerang Gibran.

"Pak Mahfud takut dianggap sebagai bully kalau menyerang Gibran terlalu dalam, sedangkan Cak Imin malah fokus soal slepetan-slepetannya sendiri sehingga gagal mengeksploitasi beberapa kelemahan pada jawaban Gibran," kata Kunto.

"Bahkan beberapa kali Gibran kick balik atau counter attack serangan dari cak Imin," lanjut Kunto.

Sementara analis politik dari SMRC, Saidiman Ahmad, menilai upaya Gibran menyerang balik lawan merupakan bagian dari strategi. Menurutnya, Cak Imin juga menyerang tapi dengan gaya yang lebih halus. Misalnya soal tips kota bisa mendapatkan investasi besar.

"Gibran terlihat ingin membuktikan diri menguasai persoalan. Dia cukup sukses untuk itu," kata dia kepada Tirto, Jumat (22/12/2023) malam.

Namun dalam beberapa kesempatan, Saidiman melihat Gibran terlalu bersemangat sehingga kurang fokus menjawab pertanyaan. Misalnya ketika menjawab pertanyaan Muhaimin soal strategi kota menarik investasi. Menurutnya, pertanyaan itu kurang dielaborasi, malah justru terlihat defensif.

"Gibran juga mengajukan pertanyaan teknis yang tak dijelaskan," ujarnya.

Siapa yang Paling Mendominasi?

Peneliti Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai Gibran sebenarnya cukup mengejutkan dalam debat cawapres. Bahkan cenderung menggurui Mahfud MD dan Cak Imin.

"Memang paparan yang ia sampaikan cukup bagus dari sisi argumen, tapi jika diperhatikan justru Gibran terkesan memaksakan statement dan tidak fokus," kata dia kepada Tirto, Jumat (22/12/2023) malam.

Ia menambahkan, sebagai contoh Gibran bicara soal investasi IKN, sementara Mahfud MD meluruskan investor di IKN baru sekadar janji, belum implementasi. Gibran juga singgung ICOR dengan ukuran persentase, padahal ICOR bukan index.

"Artinya Gibran potensial tidak memahami apa yang ia bicarakan, ada kesan ia menghafal," katanya.

Menyinggung Cak Imin, menurut Dedi, cawapres pasangan nomor 1 itu sebenarnya dalam situasi yang baik, ia tidak berlebihan dalam mengutarakan visi misi. Menurutnya, apa yang disampaikan Cak Imin justru lebih praktis.

Secara umum, imbuh Dedi, jika perlu memberi nilai, Mahfud jauh lebih unggul dan jelas. Menurutnya, Mahfud membawa misi pertumbuhan ekonomi melalui pemberantasan korupsi, hal itu benar dan sesuai realitas.

"Gibran hanya bagus dalam hal pemaparan dan provokasi, dari sisi subtansi justru jauh panggang dari api," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - News
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Irfan Teguh Pribadi