tirto.id - Seorang pria mendayung perahu kecil di Sayung. Melaju pelan, dayungnya memecahnya permukaan air yang dipenuhi serpihan berwarna putih. Itu bukan serpihan biasa, melainkan hamparan bangkai ikan.
Sepanjang garis batu penahan ombak, bangkai-bangkai ikan menumpuk lebih rapat. Geliat ombak mendorong ribuan tubuh ikan yang memucat dan saling berhimpitan itu melekuk bergelombang mengikuti bentuk tepi pantai. Mayoritas berukuran kecil, tetapi sesekali tampak yang lebih besar—seukuran telapak tangan—ikut mengambang. Warna sisiknya memudar, menandakan dia sudah lama tak bernyawa.

Seorang warga mendokumentasikan pemandangan getir tersebut. Rekaman amatirnya tersebar luas di media sosial pada akhir November 2025. Bahkan, kontennya diposting ulang oleh berbagai akun.
Kondisi tersebut merupakan peristiwa di pesisir Dukuh Tonosari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Demak, Mulyanto, membenarkan matinya ikan-ikan tersebut. Pasca kejadian, timnya terjun ke lokasi untuk mengecek, kemudian meminta tim di tingkat provinsi melakukan uji kualitas air lebih lanjut.
“Yang mengadakan uji laboratorium adalah provinsi, karena Demak belum punya alatnya,” kata Mulyanto saat dikonfirmasi, Selasa (9/12/2025).
Air Keruh Mematikan
Kematian ikan dalam jumlah besar ini menyita perhatian publik. Berbagai spekulasi muncul, salah satunya dugaan pencemaran akibat pembuangan limbah pabrik di sekitar kawasan tersebut.
Tirto mendapat salinan hasil uji lapangan kualitas air di lokasi kejadian. Dari surat berkop DLH Demak, diketahui petugas mengecek sampel menggunakan tiga alat uji: Horiba Water Checker U-10, Hach Sension+, dan DO meter.
Berbagai parameter diperiksa: tingkat keasaman air (pH), konduktivitas, tingkat kekeruhan (turbiditas), oksigen terlarut (DO), temperatur, salinitas, hingga kadar total zat padat terlarut dalam air (TDS).
Hasil pengujian kualitas air secara in situ menunjukkan betapa keruh perairan di sana. Namun, indikasi kekeruhan itu bukan berasal dari pencemaran zat kimia limbah pabrik.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah, Endi Faiz Effendi, mengatakan berdasarkan hasil uji, beberapa parameter air telah melebihi baku mutu yang dipersyaratkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021.
Menurutnya, tingkat kekeruhan air di lokasi mencapai 143 nephelometric turbidity unit (NTU). Padahal, standar kekeruhan perairan yang sehat bagi biota laut maksimal 5 NTU. Tingkat keasaman air (pH) juga melebihi 8,5.
“Tingginya nilai kekeruhan disebabkan pembuangan lumpur dan sisa material pembangunan jalan tol,” ungkap Endi saat dihubungi lewat telepon, Selasa (9/12/2025).
Buangan tersebut mengakibatkan partikel tersuspensi menempel pada insang ikan dan mengiritasi jaringan insang. Efisiensi pertukaran oksigen menurun, menyebabkan ikan lemas bahkan mati.
Terdampak Proyek Tol
Area pesisir yang dipenuhi bangkai ikan itu berada dekat proyek Tol dan Tanggul Laut Semarang–Demak. Proyek strategis nasional tersebut hingga kini masih dalam tahap konstruksi.
Akademisi Universitas Diponegoro (Undip), Aris Ismanto, menjelaskan secara teoritis hubungan antara kematian ikan dan pembangunan pesisir. Menurutnya, kematian ikan massal tak lepas dari aktivitas konstruksi tol.
Kegiatan pengerukan, penimbunan, dan pembuangan lumpur membuat air sangat keruh. Kekeruhan yang meningkat otomatis menaikkan total padatan tersuspensi (TSS) dan menghalangi cahaya matahari masuk ke kolom air.
Fitoplankton tak bisa berfotosintesis. Rantai makanan terputus, sementara oksigen terlarut turut turun. Kondisi pesisir yang berlumpur membuat proses dekomposisi menghabiskan oksigen yang tersisa.

Jika melihat peta Tol Semarang–Demak, lokasi kematian ikan berada di dalam tanggul laut yang membentang dari Sayung (Demak) hingga Kota Semarang.
Aris, sebagai dosen Oseanografi, mengatakan area yang tertutup tanggul membentuk ruang air yang nyaris tidak memiliki aliran. Akibatnya, suhu meningkat sementara salinitas menjadi tidak stabil karena pasokan air laut terputus.
Dua faktor tersebut melewati batas toleransi sebagian besar ikan. Jika suhu terlalu panas atau kadar garam berubah drastis, ikan tak mampu beradaptasi dan kolaps secara fisiologis.
“Tentu saja ikan juga punya batas toleransi. Ketika kondisinya sudah tidak bisa ditolerir, ya akhirnya ikannya mati,” kata Aris.
Sementara itu, Endi selaku Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan juga tidak menutup mata. Ia mengakui kematian ikan di pesisir Demak terdampak proyek tol dan tanggul laut.
Lokasi kejadian berada tepat di sebelah kolam retensi yang terintegrasi dengan proyek tol. Meski begitu, ia menegaskan area itu telah disepakati warga sekitar sebagai tempat pembuangan lumpur dan sisa material jalan tol.
“Nantinya lokasi itu akan menjadi daratan apabila Tol Semarang–Demak selesai dibangun,” ujar Endi.
Ekosistem Pesisir Terancam
Matinya ikan-ikan di area proyek tanggul laut beberapa waktu lalu menjadi semacam alarm dini. Aris menyoroti ancaman terbesar yang justru muncul dalam jangka panjang.
Pembangunan tanggul laut memutus aliran yang selama ini menopang ekosistem pesisir. Aktivitas konstruksi tak hanya mempengaruhi kualitas air saat ini, tetapi juga membentuk kondisi baru yang mengubah pola arus hingga karakter perairan di masa depan.
Menurut Aris, proyek raksasa seperti Giant Sea Wall membutuhkan keterbukaan dokumen dan kajian ilmiah. Ia menilai keputusan sebesar itu seharusnya didasarkan pada analisis yang dapat diakses dan dikaji bersama.
“Apakah Giant Sea Wall itu solusi akhirnya? Saya rasa ada beberapa alternatif. Tipenya seperti apa, itu teman-teman teknik sipil yang lebih paham. Tapi kajiannya harus dibuka,” ujarnya.
Ia menyinggung fenomena rob yang justru meningkat dalam satu hingga dua bulan terakhir. Kondisi tersebut dinilainya sebagai konsekuensi fase konstruksi proyek, di mana tanggul sudah berdiri tetapi pompa pembuangan belum berfungsi.
“Harusnya kalau memang kajiannya matang, fenomena seperti ikan mati massal atau rob berbulan-bulan di Jalur Pantura bisa terantisipasi,” kritiknya.

Bagas Kurniawan dari WALHI Jawa Tengah menyampaikan hal serupa. Ia melihat fenomena ikan mati dan rob berkepanjangan sebagai tanda ada yang salah dalam pembangunan Tol dan Tanggul Laut Semarang–Demak.
Menurutnya, penutupan kawasan pesisir dengan tanggul dilakukan sebelum infrastruktur pendukung seperti kolam retensi, polder, dan sistem pompa selesai dibangun. Akibatnya, air dari daratan tidak memiliki jalan keluar.
Padahal hujan dapat datang kapan saja. Air pun terperangkap, mengendap berbulan-bulan, hingga kualitasnya melampaui baku mutu dan berujung pada kematian ikan.
Bagas menyebut kondisi ini membuat pesisir seperti “comberan raksasa”, karena pintu keluar-masuk air sangat terbatas. Banyak aliran sungai kecil juga ditutup karena dianggap memicu banjir.
Lebih jauh, gelombang yang tertahan tanggul akan memantul dan mengarah ke sisi lain, memperbesar risiko kerusakan di wilayah pesisir yang tidak terlindungi. Tekanan arus itu dapat memicu abrasi yang kian agresif.
Ujungnya, proyek tol dan tanggul laut tidak hanya mengancam kehidupan ikan. Ia juga mengubah nasib kampung-kampung yang tidak tercover tanggul, seperti sebagian wilayah Desa Bedono, Demak.
Jika air yang terperangkap saja sudah menyebabkan kematian biota, maka kegagalan mengantisipasi aliran, arus, dan rob dapat berujung pada risiko yang lebih besar: keselamatan manusia yang tinggal di garis depan pesisir.
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id




























