Menuju konten utama

IHSG Anjlok Imbas Konflik Iran-Israel, BEI Minta Investor Tenang

Bos BEI, Jeffrey Hendrik, imbau investor tetap rasional dan perhatikan fundamental.

IHSG Anjlok Imbas Konflik Iran-Israel, BEI Minta Investor Tenang
Pengunjung melihat layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/10/2025). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot ke level 8.016,832 pada perdagangan Senin (2/3/2026). Anjloknya indeks dipicu eskalasi konflik militer antara Iran vs Israel-Amerika Serikat (AS).

Menanggapi gejolak pasar ini, Pjs. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, meminta para investor untuk tidak panik. Dia juga mengimbau investor tetap mengedepankan analisis fundamental dalam mengambil keputusan investasi.

"Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental," katanya dalam keterangannya kepada awak media, dikutip Senin (2/3/2026).

Selain itu, Jeffrey juga meminta para investor untuk menyesuaikan strategi investasi dengan toleransi investasi yang mereka miliki.

"Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor," lanjutnya.

Sementara itu, dalam risetnya, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, sedang terjadi kondisi kehati-hatian di pasar keuangan global hingga pasar domestik. Situasi ini dipicu ketegangan di Timur Tengah, kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang terus berubah, serta proyeksi tekanan fiskal Indonesia oleh lembaga pemeringkat kredit.

"Dipengaruhi oleh meningkatnya risiko geopolitik global dan sentimen fiskal domestik. Eskalasi konflik Iran–Israel serta ketegangan di kawasan Asia Selatan meningkatkan premi risiko global, terutama dengan berkembangnya situasi di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi energi dunia,” jelasnya.

Berbagai macam sentimen itu lantas membuat IHSG pekan ini berpotensi bergerak volatile dengan kecenderungan konsolidasi dengan support di 8.031 dan resistance di 8.437.

Ketidakpastian ini berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi, yang biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia," Imam melanjutkan.

Namun, bagi IHSG, kenaikan harga minyak dan batu bara justru dapat menjadi penopang bagi sektor energi dan pertambangan, terutama jika harga komoditas bertahan tinggi. Indonesia sebagai eksportir batu bara dan sejumlah komoditas energi berpotensi diuntungkan dari sisi peningkatan harga jual rata-rata (ASP) dan potensi perbaikan margin emiten sektor terkait.

"Dalam kondisi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas sering kali menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global," tambah Imam.

Sebagai informasi, sejak dibuka pada di level 8.092,905 pada perdagangan Senin pagi, indeks terus mengalami pelemahan. Ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah berdampak pada indeks yang ditutup merah pada level 8.016,832.

Mengutip RTI Business, indeks terkoreksi 218,6 poin atau sebesar 2,65 persen dari perdagangan hari sebelumnya yang finish di posisi 8.235,455.

Pergerakan IHSG sepanjang hari ini diwarnai oleh 108 saham menguat, 671 melemah, dan 41 saham stagnan atau belum mengalami perubahan. Kapitalisasi pasar BEI tercatat sebesar Rp14.370,61 triliun.

Aktivitas perdagangan di bursa tercatat cukup aktif dengan 56,6 miliar saham berpindah tangan melalui 3.652.154 kali transaksi. Sementara nilai jual-beli saham tersebut tercatat mencapai Rp29,83 triliun.

Baca juga artikel terkait IHSG ANJLOK atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah