Menuju konten utama

Apa Itu Harvest Supermoon, Kapan 2025, & Jam Berapa Puncaknya?

Harvest Supermoon dapat mendominasi langit malam dengan tampilan cahaya bulan, apabila cuaca cerah. Simak jadwal Harvest Supermoon dan waktu puncaknya.

Apa Itu Harvest Supermoon, Kapan 2025, & Jam Berapa Puncaknya?
Fenomena Bulan Supermoon atau super Pink Moon menghiasi langit Kota Lhokseumawe, Aceh, Selasa (27/4/2021). ANTARA FOTO/Rahmad/rwa.

tirto.id - Penggemar astronomi dapat menyaksikan fenomena langit yang spektakuler, yaitu hadirnya Harvest Supermoon di bulan Oktober 2025. Fenomena ini menyita perhatian masyarakat, termasuk kapan Harvest Supermoon terjadi. Lantas, apa itu Harvest Supermoon dan jam berapa puncaknya?

Apabila cuaca cerah, Harvest Supermoon dapat mendominasi langit malam dengan tampilan cahaya bulan. Fenomena ini terjadi terjadi ketika Bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi, atau disebut dengan istilah perigee.

Istilah supermoon pertama kali dicetuskan pada tahun 1979 oleh astrolog Richard Nolle untuk menggambarkan Bulan purnama yang tampak jauh lebih besar dan lebih terang saat bertepatan dengan perigee.

Fenomena Harvest Supermoon Bulan Oktober 2025

Harvest Supermoon bulan Oktober akan menjadi supermoon pertama di tahun 2025. Fenomena ini akan muncul di langit pada malam Selasa (6/10), mengawali serangkaian fenomena bulan.

Supermoon terjadi ketika bulan purnama bertepatan dengan titik terdekat bulan dengan Bumi dalam orbitnya, yang dikenal sebagai perigee. Menurut laporan NBC Chicago, Senin, (6/10/2025), secara astronomi, perigee ini akan terjadi beberapa kali secara berturut-turut

Harvest Moon terbit di Inggris sekitar pukul 18.20 GMT pada tanggal 7 Oktober dan akan menandai dimulainya rangkaian tiga supermoon berturut-turut dalam tiga bulan terakhir tahun 2025.

Seturut laporan ABC, Selasa, (7/10), Harvest Supermoon akan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi, yaitu 359.818 km, lebih dari 24 jam setelah Bulan purnama. Harvest Supermoon terjadi ketika Bulan, Bumi, dan Matahari sejajar, yaitu pada pukul 14.49 AEDT, 7 Oktober.

Harvest Supermoon dapat dilihat hingga Rabu, 8 Oktober 2025. Fenomena astronomi ini akan terbit saat matahari terbenam di langit timur, dan akan berada di langit sepanjang malam sebelum terbenam di barat.

Artinya, Bulan akan tampak penuh selama tiga hari, termasuk malam sebelumnya tanggal 5 Oktober dan malam berikutnya tanggal 7 Oktober.

Laporan Space, Senin (6/10), menyebutkan fase Harvest Supermoon akan terjadi pukul 23.48 EDT pada tanggal 6 Oktober (03.48 GMT 7 Oktober). Fase ini terjadi ketika piringan bulan akan tampak sepenuhnya terang di seberang matahari di langit Bumi, bersinar di samping bintang-bintang konstelasi Pisces dengan Saturnus bersinar di kanan atasnya.

Meskipun akan tampak besar dan terang sepanjang malam, Bulan terlihat paling besar tepat setelah senja, saat ia berada rendah di cakrawala.

Supermoon sebenarnya bukanlah istilah astronomi. Namun, banyak orang menganggap bulan purnama (atau bulan baru) sebagai supermoon jika berada dalam jarak 90 persen dari titik terdekatnya dengan Bumi atau perigee.

Sebab, orbit Bulan mengelilingi Bumi tidak melingkar melainkan elips, yang berarti jarak antara keduanya bervariasi sepanjang tahun. Harvest Supermoon tampak hingga 14% lebih besar dan 30% lebih terang daripada bulan purnama lainnya.

Pada fase ini, Bulan terlihat lebih jingga kemerahan di dekat cakrawala. Hal ini terjadi karena cahaya Matahari menembus bagian atmosfer Bumi yang lebih panjang saat Bulan berada rendah di langit.

Atmosfer menyebarkan lebih banyak cahaya biru gelombang pendek, meninggalkan rona kemerahan gelombang panjang yang diproyeksikan ke Bulan.

Harvest Supermoon untuk menyebut Bulan purnama yang terbit paling dekat dengan ekuinoks musim gugur. Sebelum ditemukannya listrik, Harvest Supermoon secara tradisional merupakan waktu untuk memanen.

Bulan ini juga terbit sekitar matahari terbenam selama beberapa malam berturut-turut, menciptakan cahaya tambahan bagi para petani yang bekerja di luar ruangan.

Pembaca juga dapat mengetahui info lebih lanjut tentang hujan meteor melalui artikel di bawah ini:

Artikel tentang Fenomena Astronomi

Baca juga artikel terkait FENOMENA SUPERMOON atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo