24 Mei 1995

Harold Wilson, PM Inggris yang Dituduh sebagai Mata-mata Uni Soviet

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah - 24 Mei 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Di tengah Perang Dingin, Perdana Menteri Inggris dituding sebagai mata-mata Soviet.
tirto.id - Pangeran Philip gusar. Berita yang baru diterimanya membuat ia cemas sekaligus rongseng. Kegusaran itu tampak dari nada bicara dan air mukanya saat berbicara pada istrinya, Ratu Elizabeth II.

"Kau tahu, jika Wilson menang, dia akan menghabisi kita. Mereka ingin menghancurkan monarki," ujar Philip. Istrinya terperangah, lalu menimpali, "Tuan Wilson? Mustahil."

"Pendahulunya, Hugh Gaitskell, diracuni pihak Rusia. Itu kata seorang teman klub makan siangku yang punya teori, kalau Wilson berkhianat saat melakukan misi dagang ke Rusia. Dengar-dengar, dia punya nama kode di KGB: Olding," tambah Philip.

Elizabeth menghela napas lalu berujar, "Phil, jika kau dan temanmu tahu, pasti MI5 akan tahu. Mereka telah menyimpulkan bahwa Tuan Wilson bersih. Jika tidak, mereka pasti akan bertindak."

Dialog di atas bukanlah kejadian faktual, melainkan cuplikan dari serial Netflix tentang sejarah kehidupan monarki Inggris, The Crown (2016), dalam episode “Olding”, yang khusus menjelaskan tentang keterlibatan Harold Wilson dalam Dinas Intelijen Asing Rusia atau KGB.


Berpolitik Sejak Muda

James Harold Wilson lahir di Yorkshire, Inggris, pada 11 Maret 1916. Ia berasal dari keluarga kelas menengah. Bapaknya, James Herbert Wilson, adalah seorang guru dan ahli industri. Selain menekuni dua pekerjaan itu, bapaknya juga aktif sebagai anggota Partai Liberal. Keterlibatannya di politik kemudian mendorong Wilson untuk mengikuti jejaknya.

Langkah politik Wilson dimulai ketika menempuh studi di Universitas Oxford jurusan sejarah pada 1934. Ia bergabung dengan Partai Liberal. Namun, menurut Kevin Hickson dan Andrew Crines dalam Harold Wilson: The Unprincipled Prime Minister? (2016), keanggotaannya di partai tersebut tidak berlangsung lama. Karena dekat dengan G.D.H Cole, ekonom yang menganut sosialisme, ia akhirnya bergabung dengan Partai Buruh.

Setelah lulus, ia bekerja sebagai amtenar. Wilson ingin ikut serta dalam pertempuran melawan NAZI Jerman dan fasisme Italia, tapi keinginan itu ditolak oleh negara.

Kualifikasi akademik Wilson yang cukup tinggi mengarahkannya pada jabatan sipil di Kementerian Bahan Bakar—semacam Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Ia mengemban jabatan sebagai kepala statistik dan ekonomi sampai 1945. Dari posisi inilah pemahamannya tentang ekonomi dan liberalisasi bertambah.

Usai Perang Dunia II, Wilson kembali terjun ke dunia berpolitik. Ia mendaftar menjadi senator Partai Buruh dalam pemilihan umum 1945 karena memperjuangkan perubahan kondisi buruh dan kelas menengah Inggris.

Pada usia 29 tahun Wilson terpilih sebagai senator dan karier politiknya kian moncer. Pada 1947, ia diangkat oleh Perdana Menteri Clement Attlee sebagai Presiden Dewan Perdagangan (setingkat menteri) dan menjadikannya sebagai anggota kabinet termuda dalam sejarah tata negara Inggris. Lalu ketika menjadi oposisi pada 1951, ia menjadi menteri di kabinet bayangan (kabinet bentukan oposisi) sampai tahun 1963.

Pada Februari 1963 ia menjadi Ketua Partai Buruh. Lalu menjadi Perdana Menteri Inggris dua periode: 1964-1970 dan 1974-1976.


Tuduhan sebagai Mata-mata Soviet

Inggris di era pemerintahan Wilson ditandai dengan lahirnya kebijakan yang disebut Kevin Hickson dalam “Wilson and British Socialism” (2016) sebagai korporatisme dan modernisasi. Sektor ekonomi dan sosial mulai mengalami perkembangan pesat. Liberalisasi perekonomian pun berjalan dengan baik.

Di bidang pendidikan, Wilson mendirikan Open University yang memungkinkan studi paruh waktu untuk membantu warga Inggris memperoleh gelar sarjana. Selain itu, ia juga melonggarkan UU sensor, melegalkan homoseksualitas dan aborsi, serta menghapus hukuman mati.

Namun di luar itu, Wilson punya catatan buruk. Pria yang meninggal pada 24 Mei 1995, tepat hari ini 27 tahun lalu, gagal menghentikan konflik di Vietnam, Irlandia Utara, dan beberapa bekas koloni Kerajaan Inggris, seperti Rhodesia dan Nigeria.

Sepanjang dua periode menguasai Downing Street, Wilson juga tak luput dari incaran para musuhnya. Ia tercatat sebagai salah satu perdana menteri yang banyak mendapat serangan. Mulai dari perencanaan kudeta oleh militer hingga yang paling terkenal adalah tuduhannya sebagai agen intelijen Soviet atau KGB, yang kemudian diproduksi dan ditayangkan oleh Netflix.

Cerita bermula pada 1960-an ketika Wilson masih menjadi calon Perdana Menteri. Saat itu salah seorang pembelot KGB bernama Anatoly Golitsyn memberi tahu ke publik bahwa ketua Partai Buruh itu adalah mata-mata KGB. Ia juga memberi tambahan jika Hugh Gaitskel, kandidat kuat calon Perdana Menteri dari Partai Buruh, meninggal mendadak karena dibunuh oleh Wilson demi kekuasaan.

Infografik Mozaik Harold Wilson
Infografik Mozaik Harold Wilson. tirto.id/Tino


Ketika kabar ini tersebar, di tengah ketegangan Perang Dingin, langsung menjadi bahan perbincangan. Apalagi, tidak ada pernyataan resmi dari Wilson yang menampik tuduhan tersebut. Namun, melansir BBC, kabar ini dibantah oleh Direktur MI5 karena tidak berdasar.

Meski demikian, dua dekade kemudian tepatnya pada 1987, kabar ini muncul kembali. Kali ini dibawa oleh mantan agen MI5 Peter Wright dalam bukunya Spycatcher. Selain mengamini pendapat Goltisyn, ia juga memaparkan beberapa fakta tambahan.

Pada 1945-1947, Wilson beberapa kali melakukan kunjungan ke Uni Soviet dalam kapasitasnya sebagai Presiden Dewan Perdagangan, ia melakukan negosiasi perdagangan senjata dengan Soviet. Namun, Wright menyebut itu bukan kunjungan biasa. Pada momen tersebut Wright mengklaim jika Wilson telah direkrut sebagai mata-mata Soviet. Apalagi ia juga punya hubungan dekat dengan pengusaha dan pejabat tinggi Soviet.

Dan lagi-lagi Wilson tidak menanggapi tuduhan ini. Akibatnya, citranya semakin buruk meski tak lagi menjabat sebagai orang nomor satu di Inggris. Namun, menurut Ben Pimlott dalam Harold Wilson (1993), penyelidikan yang dilakukan tahun 1987 menyimpulkan bahwa tuduhan ini tidak berdasar.

Baca juga artikel terkait PERDANA MENTERI INGGRIS atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Politik)

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah
Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight