Menuju konten utama

Harga Minyak Melandai usai Trump Janji Perang Iran Akan Berakhir

Harga minyak Brent turun hari ini usai Trump tegaskan perang dengan Iran segera berakhir, meski Selat Hormuz masih diganggu.

Harga Minyak Melandai usai Trump Janji Perang Iran Akan Berakhir
Foto udara sebuah kapal tanker melakukan bongkar muat crude palm oil (CPO) di Dermaga Teluk Bayur Padang, Sumatera Barat, Selasa (28/4/2026). PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur mencatat produksi bongkar muat CPO dan turunannya pada Triwulan I/2026 sebanyak 873.214 ton, meningkat dibandingkan periode sama tahun 2025 sebanyak 648.606 ton, menyusul kebijakan relaksasi ekspor Januari - Februari dan meningkatnya permintaan CPO ke India. ANTARA FOTO/Fitra Yogi/wsj.

tirto.id - Harga minyak melandai pada perdagangan Rabu (20/5/2026) setelah Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan bahwa perang dengan Iran akan berakhir "sangat cepat", meskipun para investor tetap waspada terhadap hasil pembicaraan damai di tengah gangguan yang terus berlanjut di Selat Hormuz akibat konflik.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun 45 sen atau 0,4 persen, menjadi 110,83 dolar Amerika Serikat (AS) per barel pada pukul 00.50 waktu setempat. Sedangkan, harga minyak acuan AS West Texas Intermediate (WTI) turun 27 sen atau 0,3 persen ke posisi 103,88 dolar AS per barel.

Kedua patokan minyak mentah dunia tersebut turun hampir 1 dolar AS pada perdagangan Selasa (19/5/2026), setelah Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa AS dan Iran telah membuat kemajuan dalam pembicaraan, dengan tidak ada pihak yang ingin melihat dimulainya kembali aksi militer.

"Investor sangat ingin mengukur apakah Washington dan Teheran benar-benar dapat menemukan titik temu dan mencapai kesepakatan damai, dengan sikap AS yang berubah setiap hari," kata analis di Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa.

"Harga minyak kemungkinan akan tetap tinggi mengingat kemungkinan serangan baru AS terhadap Iran dan harapan bahwa, bahkan jika kesepakatan damai tercapai, pasokan minyak mentah tidak akan segera kembali ke tingkat sebelum perang," tambahnya.

Meskipun Donald Trump mengatakan kepada para anggota parlemen AS pada Selasa malam bahwa konflik tersebut akan segera berakhir, sebelumnya ia menyatakan bahwa Amerika Serikat mungkin perlu kembali menyerang Iran. Ia juga mengatakan bahwa dirinya sempat hanya tinggal satu jam lagi sebelum memberi perintah serangan, namun kemudian menundanya.

Pernyataan Trump mengenai kemungkinan perlunya kembali melakukan serangan disampaikan sehari setelah ia mengatakan bahwa dirinya menunda rencana dimulainya kembali aksi militer, menyusul adanya proposal baru dari Teheran untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Dalam pernyataannya pada Selasa, Trump juga mengatakan bahwa para pemimpin Iran “memohon” agar tercapai kesepakatan. Ia memperingatkan bahwa serangan baru dari Amerika Serikat dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan jika tidak ada perjanjian yang dicapai.

Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah menyebabkan penutupan efektif Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), kondisi ini menciptakan gangguan pasokan minyak terbesar di dunia.

Citigroup pada Selasa memperkirakan harga minyak mentah Brent akan naik ke level US$120 per barel dalam waktu dekat. Menurut Citi, pasar minyak saat ini masih meremehkan risiko gangguan pasokan berkepanjangan serta berbagai risiko besar lainnya yang dapat muncul.

Untuk menutupi kekurangan pasokan global akibat perang, berbagai negara kini mengandalkan cadangan minyak komersial dan cadangan strategis mereka.

Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah tercatat turun untuk minggu kelima berturut-turut pekan lalu, berdasarkan sumber pasar yang mengutip data dari American Petroleum Institute yang dirilis pada Selasa. Persediaan bahan bakar juga dilaporkan mengalami penurunan.

Baca juga artikel terkait MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra