Menuju konten utama

Harga Minyak Bertahan Tinggi, Brent ke 95,04 US$ per Barel

Lonjakan ini dipicu ketidakpastian negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran, serta potensi dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Harga Minyak Bertahan Tinggi, Brent ke 95,04 US$ per Barel
kilang minyak.foto/shutterstock
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak bertahan tinggi pada awal perdagangan Selasa (2/6/2026), mempertahankan sebagian besar kenaikan tajam yang terjadi pada sesi sebelumnya. Lonjakan ini dipicu ketidakpastian negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, serta potensi dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik tipis 6 sen AS, atau 0,06 persen, menjadi 95,04 dolar AS per barel pada Selasa dini hari pukul 00.01 GMT. Sementara, minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) turun 17 sen atau 0,18 persen, ke level 91,99 dolar AS per barel.

Kedua acuan harga minyak tersebut melonjak lebih dari 5 persen pada sesi perdagangan sebelumnya. Namun, kenaikannya kemudian menyusut setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya tidak menerima informasi mengenai penghentian pembicaraan oleh Iran dengan Washington. Trump juga mengatakan bahwa Israel telah menyetujui untuk menarik kembali pasukan yang sebelumnya bersiap melancarkan serangan ke wilayah Lebanon selatan.

Pada Senin (1/6/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung. Namun, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Teheran telah menangguhkan perundingan tidak langsung dengan Washington.

Dalam wawancara terpisah dengan CNBC pada Senin, Trump mengatakan bahwa ia tidak mempermasalahkan jika perundingan dengan Iran benar-benar berakhir.

Tak lama kemudian, Trump mengunggah pernyataan di media sosial yang menyebut bahwa pembicaraan dengan Iran masih terus berlangsung. Ia juga mengatakan kepada ABC News pada Senin bahwa dirinya memperkirakan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz dapat tercapai “dalam pekan depan”, sebagaimana dikutip ABC News melalui unggahannya di platform X.

“Pasar saat ini berfokus pada apakah ada kemajuan nyata atau justru kemunduran dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, nada serta substansi pernyataan dari kedua belah pihak—terutama terkait ancaman Iran mengenai Selat Hormuz—serta pergerakan aktual kapal tanker yang melintasi jalur perairan tersebut,” kata Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer.

Ia menambahkan perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran pada akhirnya akan menentukan apakah premi risiko yang saat ini menopang harga minyak akan tetap bertahan atau mulai berkurang.

Sementara itu, Lebanon pada Senin mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hezbollah dan Israel. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya deeskalasi terbatas dalam konflik yang telah memperluas ketegangan perang di kawasan, termasuk dengan Iran.

“Dengan berbagai perkembangan dan pernyataan yang terus bermunculan dari Timur Tengah, harga minyak diperkirakan akan tetap bergejolak hingga muncul bukti yang lebih jelas mengenai kemajuan menuju kesepakatan damai,” ujar Analis Pasar IG, Tony Sycamore terpisah.

Sementara itu, Iran secara efektif telah menghentikan hampir seluruh aktivitas pelayaran non-Iran yang keluar masuk Teluk Persia sejak perang dimulai. Kondisi ini menghambat sekitar seperlima arus perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, serta mendorong harga energi melonjak hingga 50 persen atau lebih.

Di sisi lain, ekspor minyak mentah Amerika Serikat mencapai rekor tertinggi sebesar 5,6 juta barel per hari pada Mei. Berdasarkan data pelacakan kapal yang dirilis pada Senin, lonjakan tersebut terjadi karena krisis di Timur Tengah meningkatkan permintaan minyak AS dari kilang-kilang di Asia dan Eropa.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK NAIK atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama