Menuju konten utama

Harga Ayam dan Cabai Naik, Inflasi Agustus 2026 Tembus 0,21%

Bukan cuma ayam dan cabai, BPS ungkap lonjakan harga emas perhiasan ikut dongkrak inflasi Agustus 2026 hingga 0,21%.

Harga Ayam dan Cabai Naik, Inflasi Agustus 2026 Tembus 0,21%
Ilustrasi daging ayam mentah segar. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan (month-to-month/mtm) Indonesia naik menjadi 0,21 persen pada Agustus 2026. Laju Indeks Harga Konsumen (IHK) ini didorong oleh kenaikan harga komoditas pangan harian masyarakat, terutama daging ayam ras dan cabai rawit, yang menjadi motor penggerak utama inflasi di sektor makanan, minuman, dan tembakau.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, melaporkan inflasi bulanan Indonesia mengerek IHK dari posisi 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada bulan berikutnya.

Sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama penggerak laju harga konsumen tersebut dengan laju inflasi kelompok sebesar 0,57 persen serta menyumbang andil 0,17 persen terhadap total inflasi bulanan.

“Komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah daging ayam ras dengan andil inflasi sebesar 0,17 persen serta cabai rawit, ikan segar, dan beras dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,02 persen,” jelas Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono pada konferensi pers di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Dilihat dari klasifikasi komponennya, tekanan harga bergejolak (volatile food) tercatat mengalami inflasi 0,88 persen dengan andil 0,15 persen, sementara komponen inti naik 0,21 persen dengan andil 0,13 persen.

Di sisi lain, kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) justru mengalami deflasi 0,33 persen dengan kontribusi menahan inflasi sebesar 0,07 persen.

Jika dilihat secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Agustus 2026 berada pada tingkat 3,19 persen, melonjak dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di angka 2,31 persen. Adapun inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) hingga Agustus 2026 ini berada di level 1,86 persen.

Secara tahunan, seluruh kelompok komponen menyumbang inflasi, di mana komponen inti menjadi penyumbang terbesar hingga 1,87 persen. Peningkatan pada komponen inti tersebut sebagian besar bersumber dari naiknya komoditas emas perhiasan, minyak goreng, porsi nasi dengan lauk, gawai, pelumas mesin, hingga komputer jinjing.

Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil tahunan sebesar 1,13 persen, tekanan inflasi tahunan turut ditopang oleh sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya (0,63 persen) serta sektor transportasi (0,58 persen).

Secara geografis, tidak ada provinsi yang luput dari inflasi tahunan; Maluku Utara menjadi yang tertinggi dengan angka 5,28 persen, sedangkan Kalimantan Utara mencatatkan angka terendah sebesar 2,17 persen.

Baca juga artikel terkait LAJU INFLASI atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah