tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mengungkap, kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa baru menjadi salah satu faktor utama pemicu inflasi tarif pendidikan tinggi. Lonjakan biaya kuliah ini dinilai menjadi beban finansial yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Asep Riyadi, menjelaskan kenaikan UKT langsung tercatat sebagai kenaikan harga dalam penghitungan inflasi. Namun, dampaknya tidak serta-merta dirasakan oleh seluruh mahasiswa pada waktu yang sama.
"Misalnya ada mahasiswa baru yang UKT-nya katanya naik, itulah yang dicatat sebagai kenaikan harga inflasi. Masalahnya adalah mahasiswa baru kan sebelumnya belum merasakan membayar UKT tahun sebelumnya," kata Asep saat diwawancarai kontributor tirto.id di Kantor BPS Provinsi Riau pada Rabu (1/7/2026).
Ia menjelaskan, mahasiswa lama akan merasakan kenaikan UKT ketika melakukan registrasi ulang dan membayar biaya kuliah pada semester berikutnya.
"Nah untuk mahasiswa-mahasiswa yang sudah merasakan UKT tahun yang lalu itu baru terasa. Kalau mahasiswa yang belum membayar registrasi ulang itu belum merasakan," ujarnya.
Di sisi lain, Kepala BPS Riau mengatakan perekonomian Provinsi Riau pada triwulan tersebut tetap tumbuh positif sebesar 4,89 persen. Meski demikian, kenaikan UKT di perguruan tinggi dinilai menjadi beban yang dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya mahasiswa.
"Secara langsung perekonomian tumbuh 4,89 persen triwulan di Riau. Kalau tingkat nasional 5,61 persen. Kalau dilihat dari perekonomian ya tumbuh positif, tapi masalahnya perguruan tinggi meningkatkan UKT itu yang menjadi beban langsung ke masyarakat yang dirasakan langsung mahasiswa," pungkasnya.
Penulis: Abdul Haris
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































