tirto.id - Situasi di Selat Hormuz masih tidak stabil akibat blokade yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan Iran secara bersamaan. Di tengah hampir berhentinya lalu lintas kapal, tiga kapal terpantau melintas, yakni dua kapal kargo dan satu kapal tanker bahan bakar. Dua kapal milik Indonesia masih tertahan.
Tiga kapal kargo yang melewati Selat Hormuz adalah satu kapal berbendera Iran “Shoja 2” yang berhasil menyeberang ke arah Teluk Oman, dua kapal lainnya adalah kapal “Lian Star” dan “Ean Spir”.
Kapal “Lian Star” tersebut terdaftar secara resmi berbendera Gambia, sedangkan “Ean Spir” berbendera Komoro.
Kapal “Shoja 2” setelah berhasil melewati Selat Hormuz kemudian mematikan sinyal pelacaknya. Hal ini menimbulkan kecurigaan dan pengawasan ketat, terutama setelah sebelumnya Angkatan Laut AS menyita kapal Iran lain pada Minggu, 19 April kemarin.
Dua Kapal Indonesia Tertahan di Selat Hormuz
PT Pertamina International Shipping (PIS) mengonfirmasi bahwa dua kapalnya, yaitu “Pertamina Pride” dan “Gamsunoro”, hingga kini masih tertahan di Teluk Arab dan belum dapat melintasi selat tersebut.
Kondisi ini terjadi karena jalur pelayaran yang sangat vital itu sedang berada dalam situasi tidak aman dan penuh ketidakpastian, sehingga kapal-kapal komersial, termasuk milik Pertamina, harus menunda perjalanan demi menghindari risiko konflik atau insiden militer di laut.
“Kedua kapal PIS yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz. PIS terus memonitor secara saksama perkembangan situasi yang sangat dinamis di Selat Hormuz,” ungkap Pjs Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping Vega Pita dikutip Antara News, Minggu (19/4/2026).
Vega Pita menambahkan bahwa PIS terus memantau perkembangan situasi secara intensif karena kondisi di Selat Hormuz sangat dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu.
Untuk itu, PIS melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kementerian terkait dan otoritas maritim internasional, guna mencari waktu dan jalur paling aman bagi kapal untuk melintas.
“Kami terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk kementerian dan otoritas berwenang, sambil tetap menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) yang aman,” tuturnya.
Berdasarkan pantauan TirtoID dari laman MarineTraffic, Kapal Pertamina Pride yang terdaftar berbendera Singapura memiliki status “At Anchor” dengan kecepatan 0 knot menunjukkan kapal sedang berhenti dan berlabuh, bukan dalam perjalanan.
Kapal berstatus “Reported destination: FOR ORDERS” berarti kapal tersebut belum memiliki tujuan pasti dan sedang menunggu instruksi dari operator atau pemilik.
Data MarineTraffic untuk kapal Gamsunoro menunjukkan kondisi operasional kapal tanker ini yang juga terdampak situasi keamanan di kawasan Selat Hormuz.
Kapal berbendera Panama ini berstatus “At Anchor” dengan kecepatan 0 knot menandakan kapal sedang berlabuh dan tidak bergerak.
Keterangan di kapal Gamsunoro adalah “Reported destination: DUBAI FOR ORDERS” yang berarti kapal menuju area perairan Dubai, namun belum memiliki tujuan akhir yang pasti dan sedang menunggu instruksi lanjutan.
Ketegangan di Selat Hormuz juga dipicu oleh sikap keras Iran, khususnya melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), yang menyatakan bahwa Selat Hormuz kini berada di bawah kendali ketat militer mereka sebagai respons terhadap blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran.
Iran menegaskan bahwa pengawasan ketat akan terus dilakukan sampai kebebasan pelayaran bagi kapal-kapal yang keluar-masuk Iran dipulihkan sepenuhnya.
"Tidak ada kapal yang boleh bergerak dari tempat berlabuhnya di Teluk Persia atau Laut Oman. Mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh, dan kapal yang melanggar akan menjadi sasaran," ujar Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dikutip BBC Minggu (19/4/2026).
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































