Menuju konten utama

Guru Besar Undip Sebut Belanja Masyarakat Turun Imbas Danantara

Dampak penurunan konsumsi jangka pendek akibat reformasi Danantara terutama terjadi di kelompok masyarakat kalangan bawah dan masyarakat kalangan atas.

Guru Besar Undip Sebut Belanja Masyarakat Turun Imbas Danantara
Pekerja membersihkan kaca gedung Wisma Danantara Indonesia di Jakarta, Selasa (8/7/2025). Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menjalin kerja sama investasi dengan perusahaan asal Arab Saudi, ACWA Power senilai 10 miliar dolar AS atau setara Rp162 triliun yang berfokus pada proyek pembangkit energi terbarukan, turbin gas siklus gabungan, hidrogen hijau, dan desalinasi air. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.

tirto.id - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undip Firmansyah menilai pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara berdampak penurunan konsumsi (pengeluaran) masyarakat dalam jangka pendek.

Hal ini diketahui berdasarkan analisis menggunakan model ekonomi makro dinamis Overlapping Generations-Indonesia (OG-IDN) yang dikembangkan bersama Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (UNDESA).

Menurut Firmansyah, penurunan konsumsi jangka pendek terjadi di semua kelompok masyarakat atau rumah tangga. Penurunan konsumsi terbesar terjadi di kelompok masyarakat kalangan bawah dan masyarakat kalangan atas.

"Nah, konsumsi turun, konsumsi di semua persentil. Penurunan terbesarnya ada di kelompok bottom 25 persen [masyarakat kalangan bawah] dan top satu persen [masyarakat kalangan atas]," sebutnya saat konferensi pers virtual, Kamis (8/1/2026).

Firmansyah menyampaikan, penurunan konsumsi jangka pendek tersebut terjadi karena semua kelompok menahan pengeluaran untuk mendapatkan manfaat pendapatan yang lebih tinggi nantinya.

Di satu sisi, penurunan konsumsi dari kalangan masyarakat kalangan bawah terjadi karena mereka sensitif likuiditas. Artinya, masyarakat kelas bawah cenderung tidak memiliki tabungan atau cadangan uang tunai.

Sementara itu, lanjut Firmansyah, penurunan konsumsi masyarakat kalangan atas terjadi karena mereka menahan pengeluaran untuk menantikan keuntungan dari reformasi Danantara.

Ia menilai reformasi Danantara bukan merupakan kebijakan yang regresif. Sebab, semua kalangan masyarakat terdampak pembentukan tersebut.

"Jadi, ini bukan kebijakan regresif, tapi lebih ke transisi intertemporal. Distribusi dampak ini bersifat sementara dan tidak mencerminkan kerugian kesejahteraan prrmanen. Jadi, efek-efek awalnya seperti itu," urai Firmansyah.

Ia menambahkan, berdasar penurunan konsumsi jangka pendek itu, Danantara memang bukan instrumen untuk menstimuluskan konsumsi maupun ekspansi fiskal.

"Danantara adalah reform dari sisi penawaran. Jadi, tentu saja ini sisi penawaran yang bekerja," tutur Firmansyah.

Baca juga artikel terkait DANANTARA atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana