tirto.id - Grab Indonesia meluncurkan program “Grab untuk Indonesia: Dukungan untuk Mitra Pengemudi dalam 3 Babak.” Inisiatif ini menjadi wujud komitmen jangka panjang dalam perlindungan sosial, kesejahteraan, dan peningkatan kapasitas mitra pengemudi di era ekonomi digital. Program ini diharapkan mendukung arah kebijakan pemerintah dalam menjaga keseimbangan ekosistem kemitraan transportasi daring.
Chief Executive Officer Grab Indonesia, Neneng Goenadi, mengungkapkan bahwa ekonomi digital menjadi kesempatan masyarakat Indonesia untuk memperoleh pendapatan baru. Hal ini pun terbukti dengan pembukaan 4,6 juta lapangan kerja melalui ekosistem digital yang dibentuk oleh Grab selama lebih dari satu dekade beroperasi. Grab juga dinilai berkontribusi sekitar 50 persen terhadap total PDB industri ride-hailing dan pengantaran online.
“Sejak awal, Grab meyakini bahwa pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan hanya bisa terwujud ketika mitra pengemudi merasa aman, berdaya, dan memiliki masa depan,” ujar Neneng dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa (13/1/2026).
Dia menjelaskan, lewat "Dukungan untuk Mitra Pengemudi dalam 3 Babak," Grab Indonesia menggelar program berkelanjutan senilai Rp100 miliar yang terdiri dari tiga bagian utama.
Babak pertama ialah menjaga rasa aman melalui penyediaan akses BPJS Ketenagakerjaan gratis bagi mitra pengemudi berprestasi. Menurut dia, perlindungan ini diberikan agar para mitra pengemudi Grab bisa bekerja bekerja dengan tenang tanpa mengkhawatirkan risiko.
Babak kedua, yakni dengan memberi makna. Hal ini diwujudkan dengan pemberian Bonus Hari Raya (BHR) 2026 bagi mitra yang berprestasi. Program ini bentuk apresiasi tambahan Grab di momen Ramadhan dan Hari Raya, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dalam ekosistem kemitraan.
Selanjutnya, babak ketiga adalah melangkah bersama yang diwujudkan lewat program Mitra Naik Kelas melalui Grab Akademi. Program ini mendorong mitra pengemudi untuk meningkatkan keterampilan agar tetap produktif dan mampu menangkap peluang baru di tengah perkembangan ekonomi digital.
Neneng mencontohkan pengalaman Yodi, salah satu mitra yang bergabung dengan Grab sejak 2015 dan berhasil naik kelas menjadi mitra merchant pada 2018. Meski sempat terdampak pandemi hingga harus menutup outlet, Yodi kembali bangkit melalui dukungan ekosistem Grab dan pembelajaran di Grab Akademi. Hingga kini, ia memiliki enam gerai kuliner dan ratusan mitra kerja.
“Ini bukti bahwa di setiap langkah, selalu ada harapan untuk melangkah lebih jauh,” kata Neneng.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Koordinasi Ketenagakerjaan dan Pariwisata Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dida Gardera, menilai konsep program "tiga babak" Grab sebagai preseden positif yang melampaui kepatuhan regulasi.
“Skema kemitraan ini perlu dijaga. Perusahaan tentu harus profit, tapi kesejahteraan mitra juga harus menjadi prioritas. Konsep tiga babak ini beyond compliance dan patut menjadi contoh,” ujar Dida.
Menurut dia, inisiatif Grab juga sejalan dengan kebijakan pemerintah terkait perlindungan pekerja bukan penerima upah, termasuk relaksasi iuran BPJS Ketenagakerjaan sebesar 50 persen. Pemerintah, terus mencari titik optimal agar perlindungan dan kesejahteraan mitra dapat meningkat secara bertahap.
Dia sekaligus mengapresiasi kontribusi industri transportasi online terhadap perekonomian nasional yang mencapai hampir Rp400 triliun atau sekitar 2 persen dari PDB Indonesia.
Sementara itu, Menteri UMKM Republik Indonesia, Maman Abdurrahman, menilai konsep kemitraan dalam bisnis transportasi online merupakan model yang bisa membuka peluang ekonomi bagi masyarakat karena memberikan fleksibilitas waktu dan kesetaraan hubungan.
“Kalau ojek online dijadikan tenaga kerja, mereka akan terikat sistem ketenagakerjaan. Padahal sejak awal konsepnya adalah kemitraan,” kata Maman.
Maman pun mengapresiasi komitmen Grab dalam memberikan akses BPJS Ketenagakerjaan gratis dan bonus Hari Raya kepada mitra pengemudi, meski secara regulasi hal itu tidak diwajibkan. Menurut dia, langkah tersebut menunjukkan itikad baik perusahaan dalam menjaga hubungan kemitraan yang konstruktif dan berkelanjutan.
“Indikator keberhasilan Grab adalah produktivitas dan kesejahteraan mitra pengemudi. Karena itu, Grab tidak punya pilihan selain terus menjaga hubungan baik dan mendorong mitra untuk naik kelas,” ujarnya.
Dia berharap, dengan hadirnya program “Grab untuk Indonesia”, keseimbangan ekosistem antara platform digital, mitra pengemudi, dan UMKM merchant dapat terus terjaga. Inisiatif ini dinilai tidak hanya memperkuat perlindungan sosial, tetapi juga menjadi strategi jangka panjang dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan.
Editor: Dina T Wijaya
Masuk tirto.id































