Menuju konten utama

Fotokopi Tidak Akan Mati meski Digempur Digitalisasi hingga AI

Firman menilai digitalisasi memang membuat kebutuhan layanan fotokopi menyusut, tetapi tidak akan menghilangkannya dalam 5-10 tahun ke depan.

Fotokopi Tidak Akan Mati meski Digempur Digitalisasi hingga AI
Cerita pemilik usaha fotocopy. FOTO/Putri Az zahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - "Maaf sedang ramai. Belum ada waktu."

Itu adalah jawaban satu dari sekian pengusaha fotokopi yang saya temui, Rabu (15/7/2026). Setidaknya, lebih dari tiga tempat fotokopi yang saya kunjungi dari Jalan Ridwan Rais hingga daerah Beji yang dikenal dengan daerah Kukusan Kelurahan alias Kukel enggan diwawancarai. Salah satu jawaban yang saya ingat ya tadi, menolak dengan alasan ramai dan belum ada waktu.

Di hari itu, saya memang ingin mengetahui bagaimana usaha fotokopi masih bertahan. Maklum, digitalisasi disebut membuat orang tidak perlu lagi memegang bahan kuliah fisik, seperti buku atau dokumen fotokopian. Fail digital berformat pdf atau penggunaan artificial intelligence (AI) diklaim membawa dampak negatif bagi bisnis fotokopi.

Saya pun keluar dari jam delapan pagi demi menjawab rasa penasaran tersebut. Satu demi satu fotokopi yang juga berlokasi dekat dengan kampus Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) itu saya datangi, tapi tanpa hasil. Jawabannya ya tadi, belum ada waktu.

Namun, selama saya mendatangi setiap warung fotokopi, saya mulai meyakini pandangan fotokopi mulai ditinggalkan tidak sepenuhnya benar. Warung fotokopi yang saya temukan tampak sibuk melayani antrean mahasiswa. Mesin cetak terus bekerja tanpa jeda, sementara pemilik dan pegawai berpindah dari satu pelanggan ke pelanggan lain.

Bersyukur. Saat waktu memasuki senja, salah seorang pengelola fotokopi bersedia diwawancarai. Fotokopi Ratu Agung namanya. Fotokopi yang terletak di Jalan Palakali, Beji, Kota Depok, Jawa Barat ini tidak hanya menyediakan layanan fotokopi, tetapi juga cetak dokumen, jilid, laminasi, cetak poster, cetak stiker, cetak kartu, hingga pembuatan stempel.

Saat saya tiba di lokasi dan masuk, suara mesin printer dan keyboard digunakan dengan cepat langsung terdengar bersahutan. Tumpukan kertas, dus berisi rim HVS, gulungan laminasi, dan beberapa mesin fotokopi memenuhi hampir setiap sudut ruangan. Meski ruangnya tidak terlalu besar, aktivitas di dalamnya nyaris tak berhenti.

Pengelola Ratu Agung, Dwi, pun terlihat duduk di balik meja kasir. Dwi bercerita, usaha fotokopi tersebut sudah beroperasi selama 10 tahun. Berbeda dengan anggapan bahwa bisnis fotokopi mulai redup karena AI dan dokumen digital, Dwi justru mengaku omzet tokonya meningkat dibanding awal berdiri.

"Sepuluh tahun sudah beroperasi... perubahan omzet naik,"kata Dwi, di Fotokopi Ratu Agung, Depok, Jawa Barat, Rabu (15/7/2026).

Cerita Pemilik Usaha Fotocopy

Cerita pemilik usaha fotocopy. FOTO/Putri Az zahra

Dwi mengaku, pelanggannya saat ini tidak hanya mahasiswa, tetapi juga instansi pemerintah dan perusahaan. Musim penyusunan skripsi dan ujian memang menjadi periode tersibuk, tetapi di luar itu toko tetap ramai. Dwi pun tidak memungkiri, usahanya masih bertahan karena faktor lokasi.

"Kalau fotokopi lokasi paling ngaruh. Di sini beberapa langkah udah kampus," ujarnya.

Kini, Dwi mengaku tidak hanya mengandalkan lokasi. Dia pun mulai mengembangkan aplikasi internal untuk menghitung biaya cetak secara otomatis berdasarkan jumlah halaman dan warna.

"Saya sudah bikin aplikasi sendiri... nanti rencananya pengen di-import API. Jadi orang kirim file, langsung keluar harganya," katanya sambil menunjukkan aplikasi tersebut.

Usai berbincang dengan Dwi, saya pun melangkahkan kaki ke Fotokopi Aira, yang sedikit jauh dari kawasan sekitar kampus. Berbeda dengan Ratu Agung yang sejak siang dipenuhi pelanggan, suasana Aira jauh lebih lengang. Cahaya matahari senja menerpa papan bertuliskan Photo Copy Aira, sementara beberapa kendaraan melintas tanpa banyak pelanggan yang mampir.

Pemiliknya, Epi, mengatakan tokonya telah berdiri sejak 2018. Namun, kondisi usaha belakangan ini tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya.

"Akhir-akhir ini menurun," katanya ketika saya bertanya mengenai perkembangan penjualan.

Epi menduga penurunan itu dari faktor ekonomi. Meski demikian, Epi memilih tetap mempertahankan usahanya.

"Sementara masih bertahan gitu aja," katanya singkat.

Cerita Pemilik Usaha Fotocopy

Cerita pemilik usaha fotocopy. FOTO/Putri Az zahra

Mahasiswa Tetap Butuh Fotokopi meski Ada AI

Persepsi fotokopi masih dibutuhkan oleh mahasiswa diakui oleh Taqi Bagus Angkasa (20). Mahasiswa semester enam Teknik Listrik PNJ ini tidak memungkiri kehadiran AI mempermudahnya dalam belajar di kampus. Namun, Taqi menilai AI hanya membantu pelaksanaan tugas kampus.

"AI itu bisa dibilang sangat membantu, terutama saya yang mahasiswa tingkat akhir menjadi teman diskusi saya. Bukan berarti AI menjadi tolak ukur saya dalam mengerjakan tugas," katanya saat ditemui di kampus, Rabu (15/7/2026).

Pria yang tinggal di Depok, Jawa Barat ini mengakui sebagian besar tugas saat ini dikumpulkan dalam bentuk PDF melalui sistem pembelajaran daring. Namun, menurutnya, kebutuhan mencetak dokumen belum hilang sepenuhnya.

"Untuk saya pribadi, masih banyak tugas yang dicetak, terutama laporan tugas akhir," ujarnya.

Justru, Taqi mengaku masih rutin menggunakan jasa fotokopi karena dosen pembimbing meminta dokumen dalam bentuk fisik.

"Jasa print dibutuhkan saat pengumpulan tugas ataupun bimbingan, karena rata-rata dosen saya menginginkannya dalam bentuk hard file," katanya.

Sebagai mahasiswa yang tidak memiliki printer pribadi, Taqi mengaku keberadaan warung fotokopi masih sangat membantu.

"Masih sih, Mbak... fotokopi membantu saya mencetak file-file yang dibutuhkan kampus. Apalagi saya tidak punya printer," ucapnya.

Fotokopi Masih Dibutuhkan

Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital, Firman Kurniawan, menilai digitalisasi memang membuat kebutuhan layanan fotokopi menyusut, tetapi tidak akan menghilangkannya.

"Dia akan tertekan dan menyusut, tetapi tidak mati sama sekali karena jasa fotokopi akan berubah bentuk," jelas Firman kepada Tirto, Rabu (15/7/2026).

Firman menilai pelaku usaha harus mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.

"Mati enggak, tapi berubah bentuk. Kalau bentuknya enggak berubah ya akan mati," katanya.

Firman memperkirakan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan jumlah usaha fotokopi di sekitar kampus akan semakin sedikit. Namun, pelaku usaha yang mampu melakukan diversifikasi layanan masih memiliki peluang untuk bertahan.

"Menyusut cukup drastis tetapi tidak hilang sama sekali. Mereka yang mempunyai diversifikasi usaha akan bertahan hidup," ujarnya.

Saat saya meninggalkan kawasan kampus menjelang malam, lampu di Fotokopi Aira masih menyala. Sementara itu, di fotokopi Ratu Agung, lampu sudah mati dan setengah koridor sudah menutupi sebagian toko.

Perjalanan hari itu membuat saya menyadari bahwa AI, PDF, dan digitalisasi memang telah mengubah cara mahasiswa belajar. Namun, perubahan itu tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan akan warung fotokopi. Yang berubah bukan lagi sekadar mesin yang bekerja, melainkan cara para pemilik usaha membaca zaman. Di antara lembaran PDF dan kecanggihan AI, suara mesin printer rupanya masih menemukan alasan untuk terus berputar.

Dr Firman Kurniawan

Pakar komunikasi dari Universitas Indonesia (UI) Dr Firman Kurniawan Sujono. ANTARA/HO- Dok pri/pri.

Baca juga artikel terkait DIGITALISASI atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Andrian Pratama Taher