Menuju konten utama

5 Fakta Unik House of Raminten Jogja Salah Satu Ikon Wisata DIY

"House of Raminten" adalah salah satu ikon wisata di Jogja. Selain tempatnya yang unik, berbagai menu yang dihidangkan juga disukai pengunjung.

5 Fakta Unik House of Raminten Jogja Salah Satu Ikon Wisata DIY
House of Raminten resto Jogja. wikimedia commons/Okkisafire
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - House of Raminten adalah salah satu ikon wisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tempatnya tidak pernah sepi pengunjung dan menyajikan beragam menu masakan Nusantara. Simak 5 fakta unik dari House of Raminten Jogja berikut.

House of Raminten adalah salah satu usaha milik Hamzah Sulaiman yang dibuka pada 26 Desember 2008. Rumah makan ini berlokasi di Kotabaru tepatnya di Jl. Faridan M Noto No.7, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Hamzah Sulaiman yang juga pemilik dari Hamzah Batik itu tercetus untuk membuka usaha kuliner House of Raminten karena terinspirasi dengan karakter “Raminten” yang diperankannya pada komedi situasi “Pengkolan” di Jogja TV.

Sosok Raminten adalah wanita yang berdandan dengan busana Jawa seperti memakai konde, kebaya, dan jarit. Yang lebih ikonik adalah pemakaian riasan yang cukup tebal dan kacamata untuk menunjang penampilannya.

House of Raminten awalnya hanya menyajikan macam-macam jamu seperti beras kencur, kunir asem, jamu kolesterol, dan sebagainya. Kemudian berkembang dengan penambahan menu nasi kucing yang dijual hanya dengan harga seribu rupiah.

Resto ini lantas menjadi terkenal dan banjir pengunjung. House of Raminten kemudian menyajikan menu lain yang kini lebih beragam. Resto Raminten cocok untuk mereka yang suka tempat makan dengan vibes nostalgic, berbudaya, dan tetap unik.

5 Fakta Unik House of Raminten Jogja

Wisatawan Jogja baik dari dalam maupun luar negeri mayoritas sudah pernah mengunjungi House of Raminten. Selain untuk memenuhi lapar dahaga, tempat ini juga kerap menjadi spot foto yang Instagramable.

Bagi yang belum pernah mengunjungi, simak fakta-fakta unik House of Raminten berikut ini.

1. Patung Raminten Menghiasi Interior Resto

Karena merupakan ikon dari House of Raminten, tak heran jika penempatan patung Raminten dalam ukuran cukup besar dipilih untuk ditaruh di area depan. Saat pengunjung masuk ke dalam restoran, pengunjung dapat menemukan patung Raminten itu dengan mudah. Patung ini juga digunakan untuk spot foto yang populer.

House of Raminten resto Jogja

House of Raminten resto Jogja. Foto/raminten

2. Nuansa Kental Budaya Jawa

Selain patung Raminten berukuran besar, desain interior House of Raminten juga dibuat dengan nuansa Jawa yang kental. Pemilihan meja dan kursi yang terbuat dari kayu, tembok-tembok yang dihiasi dengan wayang, serta tiang-tiang yang dihiasi dengan jarit membawa kesan oldis.

3. Pelayan Memakai Busana Jawa Kuno

Di House of Raminten terdapat pelayan laki-laki dan perempuan yang kesemuanya memakai busana Jawa kuno. Pelayan laki-laki memakai jarit yang dilengkapi dengan blankon. Sedangkan pelayan wanitanya memakai kemben yang dipadu dengan jarit dan sanggul kecil.

4. Penyajian Makanan Unik dan Tradisional

Jika dilihat dari buku menu, House of Raminten memilih menamai masakan yang mereka sajikan dengan nama-nama yang unik. Contohnya seperti Sarung jagung yang merupakan jagung yang dicampur kental manis dan keju atau lazim disebut jasuke. Lalu ada Ayam Koteka, adalah campuran ayam dan telur yang dimasak di dalam bambu.

5. Buka 24 Jam dan Hanya Menerima Pembayaran Tunai

House of Raminten buka 24 jam, namun restoran ini tidak pernah sepi pengunjung. Mereka yang datang, apalagi di jam-jam sibuk seperti jam makan siang atau jam makan malam, harus banyak bersabar.

Di bagian kasir, tertulis pembayaran hanya bisa dilakukan secara tunai atau Cash Only. Pemilihan metode pembayaran yang tidak mengikuti zaman ini kemungkinan juga bagian House of Raminten dalam menjaga kesan "kuno".

Baca juga artikel terkait WISATA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra