Menuju konten utama

Fakta-Fakta Pemerintahan Madagaskar Bubar Usai Didemo Gen Z

Presiden Madagaskar Andry Rajoelina pecat perdana menteri dan membubarkan pemerintahannya setelah demo besar para Gen Z. Simak fakta-faktanya berikut ini.

Fakta-Fakta Pemerintahan Madagaskar Bubar Usai Didemo Gen Z
Seorang pengunjuk rasa menendang tabung gas air mata yang dilemparkan oleh petugas polisi anti huru hara Malagasi untuk membubarkan pengunjuk rasa dalam demonstrasi menentang pemadaman listrik dan kekurangan air yang sering terjadi, di lingkungan Antaninandro, di Antananarivo, Madagaskar, 30 September 2025. REUTERS/Zo Andrianjaf

tirto.id - Presiden Madagaskar, Andry Rajoelina, secara resmi membubarkan pemerintahannya pada Senin (30/9/2025)., setelah aksi protes besar-besaran yang dipimpin oleh generasi muda (Gen Z). Keputusan ini diambil usai unjuk rasa yang dilakukan generasi muda (Gen Z) di berbagai kota. Aksi tersebut dipicu oleh krisis listrik dan air yang memburuk di seluruh negeri.

Gelombang demonstrasi yang disebut sebagai "Protes Gen Z" ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Madagaskar. Ribuan pemuda turun ke jalan menuntut perbaikan layanan dasar dan menolak kondisi ekonomi yang makin sulit. Protes juga diwarnai spanduk bertuliskan tuntutan hidup layak serta simbol anime sebagai bentuk ekspresi gerakan.

Kerusuhan sempat pecah di sejumlah titik, menyebabkan 22 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya luka-luka, menurut data PBB. Pemerintah memberlakukan jam malam dan pasukan keamanan dikerahkan untuk mengendalikan situasi. Perdana Menteri Christian Ntsay turut diberhentikan, dan kabinet saat ini hanya akan bertugas sementara sampai terbentuk pemerintahan baru.

Fakta-fakta Pemerintahan Madagaskar Bubar

Pembubaran pemerintahan Madagaskar menjadi titik balik penting dalam krisis politik yang dipicu oleh gejolak sosial. Presiden Andry Rajoelina mengakhiri masa jabatan pemerintahannya di tengah tekanan dari aksi massa. Langkah itu diumumkan setelah situasi keamanan dalam negeri memburuk akibat rangkaian demonstrasi yang meluas.

Berbagai fakta mulai terungkap di balik keputusan tersebut. Mulai dari penyebab protes hingga respons aparat yang menuai sorotan internasional. Berikut ini adalah rangkuman fakta-fakta di balik bubarnya pemerintahan Madagaskar:

1. Penyebab kisruh Madagaskar

Kemarahan publik Madagaskar bermula dari seringnya pemadaman listrik dan air yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Situasi ini menimbulkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari warga, terutama di kota-kota besar.

Akses listrik di Madagaskar hanya dinikmati oleh sekitar 36 persen penduduk. Namun, layanan itu pun kerap terputus berjam-jam setiap hari, tanpa pemberitahuan jelas. Masalah ini diperparah oleh kondisi ekonomi yang memburuk dan angka kemiskinan yang tinggi.

Di sisi lain, Bank Dunia mencatat bahwa 75 persen dari total populasi 30 juta penduduk Madagaskar hidup berada di bawah garis kemiskinan menurut data tahuan 2022. Hal ini menjadikan Madagaskar sebagai negara termiskin di kawasan lepas pantai negara Afrika.

Madagascar juga memiliki tingkat korupsi sangat tinggi. Posisinya berada di urutan 140 dari 180 negara pada Indeks Persepsi Korupsi Transparency International.

2. Demo Besar Berakhir Bentrok

Aksi unjuk rasa di Madagaskar pertama kali pecah di ibu kota Antananarivo pada Kamis (27/92025). Aksi ini diikuti ratusan warga, didominasi oleh anak muda. Mereka menyuarakan tuntutan untuk perbaikan layanan listrik dan air yang sanfat buruk.

Dalam waktu singkat, protes pun meluas ke kota-kota lainnya. Beberapa kota yang juga terdapat demonstrasi antara lain Antsirabe, Toamasina, Mahajanga, dan Antsiranana.

BBC menyebutkan situasi di lapangan memburuk saat terjadi gesekan antara massa dan aparat keamanan. Sejumlah toko, bank, dan rumah politisi dirusak dalam kerusuhan. Ditemukan pula adanya aksi penjarahan yang terjadi di tengah kekacauan.

Namun, pengunjuk rasa dari gerakan "Gen Z" ini merasa ada yang menunggangi aksi mereka. Adanya penjarahan kemungkinan dilakukan preman bayaran untuk melemahkan tujuan utama mereka.

Pihak berwenang memberlakukan jam malam dari sore hingga dini hari untuk meredam gejolak. Polisi juga menggunakan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan kerumunan. Kendati demikian, aksi demo masih berlanjut pada hari lainnya

3. PBB temukan korban jiwa dan luka

Menurut The Guardian, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, mengonfirmasi adanya korban jiwa dalam aksi unjuk rasa. Setidaknya 22 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 100 lainnya mengalami luka-luka. Beberapa korban merupakan warga sipil yang tidak terlibat langsung dalam aksi.

"Saya mendesak aparat keamanan untuk menghentikan penggunaan kekuatan yang tidak perlu dan tidak proporsional, serta segera membebaskan semua pengunjuk rasa yang ditahan secara sewenang-wenang," kata Türk.

Menurut PBB, penggunaan kekuatan oleh aparat disebut tidak proporsional. Selain gas air mata dan peluru karet, ditemukan juga laporan penggunaan peluru tajam. Bentrokan terjadi di banyak titik, termasuk di luar ibu kota.

Namun, pemerintah Madagaskar membantah laporan tersebut. Kementerian Luar Negeri setemppat menyatakan angka-angka korban tidak berasal dari sumber resmi dan menganggapnya sebagai informasi yang menyesatkan. Pihak otoritas menyebut data itu belum bisa diverifikasi secara sah.

4. Presiden Madagaskar umumkan pembubaran pemerintahan

Sebagai respons atas tekanan publik yang makin besar, Presiden Andry Rajoelina mengumumkan pembubaran pemerintahan pada Senin (30/9/2025). Perdana Menteri Christian Ntsay resmi dipecat. Adapun pejabat yang sebelumnya menduduki kursi di pemerintahan tetap bertugas untuk sementara sembari menanti pembentukan pemerintahan baru.

Presiden menyatakan bahwa permohonan pengajuan untuk posisi perdana menteri baru akan dibuka selama tiga hari. Setelah itu, struktur pemerintahan akan dibentuk ulang sesuai proses konstitusi. Dalam pidatonya, ia juga mengajak generasi muda berdialog dan berjanji memberi dukungan pada bisnis yang terdampak kerusuhan.

"Saya memahami kemarahan, kesedihan, dan kesulitan yang disebabkan oleh pemadaman listrik dan masalah pasokan air," kata Rajoelina dalam pidatonya di stasiun televisi Televiziona Malagasy.

Sebelumnya, pada Jumat (26/9/2025), Rajoelina telah memecat menteri energi. Namun, langkah itu tidak cukup untuk meredam gelombang kemarahan publik. Para demonstran tetap menuntut agar seluruh jajaran pemerintahan bertanggung jawab atas krisis yang terjadi.

Pembaca yang ingin mengikuti informasi seputar berita internasional dapat kunjungi tautan di bawah ini.

Kumpulan Artikel tentang Berita Internasional

Baca juga artikel terkait INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Satrio Dwi Haryono

tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Satrio Dwi Haryono
Penulis: Satrio Dwi Haryono
Editor: Ilham Choirul Anwar