tirto.id -
RAF yang merupakan warga Kabupaten Bekasi diketahui mengikuti kategori trail run sejauh 28,73 kilometer. Rute tersebut melintasi berbagai medan berat seperti perbukitan, gunung, hutan, hingga jalur berbatu, berpasir, dan berlumpur.
Dalam ketentuan lomba, peserta diwajibkan memiliki pengalaman minimal menyelesaikan trail run sejauh 10 kilometer, berada dalam kondisi fisik yang prima, serta mampu menghadapi risiko seperti kelelahan, cedera ringan, hingga gangguan fisik lainnya secara mandiri.
Detik-detik Jatuhnya Korban di Etape Kelima
Logo Sentul Ultra Trail Running Academy. Foto/Instagram @sentulultra

Perlombaan dimulai sejak pagi hari dengan titik start dari kawasan Sentul Nirwana. Para pelari kemudian melintasi sejumlah wilayah seperti Sentul City, Desa Karang Tengah, Desa Bojong Koneng, sebelum kembali ke titik akhir di lokasi semula.
Karakter lintasan dalam ajang ini tergolong ekstrem dengan mountain level 11 dari skala 1 hingga 12. Selain itu, memiliki nilai International Trail running Association (ITRA) endurance points sebesar 2, setara energi berlari 45–74 km di rute landai. Panitia menetapkan batas waktu penyelesaian lomba selama 10 jam.
Kapolsek Babakan Madang AKP, Trias Karso Yuliantoro, mengatakan insiden yang menimpa RAF terjadi saat korban berada di etape kelima lomba. RAF mengalami kelelahan ekstrim sehingga tubuhnya ambruk saat berada di Kampung Gunung Pipisan, Bojong Koneng, Babakan Madang, sekitar pada pukul 10.30 WIB.
Menurut Trias, korban terjatuh dengan kondisi mulut sudah berbusa dan terdengar bunyi dengkuran dari dadanya.
“Di etape ke-5 korban tiba-tiba jatuh, mulutnya berbusa, wajahnya pucat, dan nadinya semakin lama semakin lemah,” ujar Trias, Senin (30/3/2026) sebagaimana dilansir dari Kompas.
Menurut Trias, korban sempat mendapatkan pertolongan dari peserta lain sebelum akhirnya dievakuasi ke Rumah Sakit EMC Sentul. Namun, nyawa korban tidak tertolong setelah tiba di fasilitas kesehatan tersebut. Menurut keterangan medis, lanjut Trias, korban diduga meninggal akibat kelelahan berat dan dehidrasi setelah menempuh lintasan panjang.
“Dari keterangan dokter, penyebabnya karena kecapekan dan dehidrasi. Untuk saat ini tidak ditemukan unsur tindak pidana,” kata dia.
Polisi Sayangkan Penyelenggaraan Tanpa Izin
Kepolisian menyoroti aspek penyelenggaraan ajang lari trail Lebarun Sentul Ultra 2026. Trias mengungkapkan, pihak panitia tidak menyampaikan pemberitahuan maupun permohonan izin kepada aparat kepolisian setempat.
“Yang disayangkan, kegiatan ini tidak ada tembusan atau laporan ke kami. Padahal event seperti ini harus dilengkapi prosedur, terutama dari sisi kesehatan dan pengamanan,” ujarnya.
Hingga saat ini, pihak keluarga korban disebut telah menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan tidak melaporkannya kepada kepolisian. Hal itu membuat proses hukum tidak berlanjut.
“Yang jelas kami melakukan upaya penyelamatan dan evakuasi korban. Kasus ini sebenarnya termasuk delik aduan. Jadi jika pihak keluarga membuat laporan, maka bisa diproses lebih lanjut, termasuk melalui otopsi untuk memastikan penyebab kematian,” kata Trias.
PP ALTI Minta Evaluasi Menyeluruh
Pengurus Pusat Asosiasi Lari Trail Indonesia (PP ALTI) menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya salah satu peserta dalam ajang Lebaran Run 2026. Organisasi ini juga menegaskan pentingnya evaluasi dan pembenahan standar keselamatan dalam penyelenggaraan lomba lari trail di Indonesia.
Dalam pernyataan resminya, PP ALTI menyebut Roysi Adipura Firdaus selaku korban. Organisasi tersebut juga menyampaikan harapan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.
“PP ALTI menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya salah satu peserta LEBARUN 2026 bernama Bapak Roysi Adipura Firdaus. Semoga Almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan,” tulis pernyataan resmi PP ALTI yang telah ditandatangani oleh Ketua Umum PP ALTI, Bima Arya Sugiarto dan Sekretaris Jenderal Donny Gahral Adiansyah.
Lebih lanjut, PP ALTI mengingatkan seluruh penyelenggara kompetisi lari trail untuk mematuhi ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, terutama terkait aspek keselamatan, keamanan, dan perizinan.
“PP ALTI mengingatkan seluruh penyelenggara kompetisi lari trail agar mematuhi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, khususnya terkait aspek keselamatan, keamanan, dan perizinan,” lanjut pernyataan itu.
Organisasi tersebut juga menegaskan perizinan kegiatan olahraga harus mengikuti ketentuan yang berlaku, termasuk memperoleh rekomendasi dari induk cabang olahraga terkait.
“PP ALTI menegaskan pentingnya pengurusan perizinan sesuai amanat Pasal 54 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2022, termasuk memperoleh rekomendasi dari induk cabang olahraga lari trail, yaitu PP ALTI,” tulis mereka.
Sebagai respons atas insiden ini, PP ALTI menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan lomba lari trail, sekaligus mendorong pembenahan standar keselamatan di masa mendatang.
“PP ALTI akan segera melakukan evaluasi menyeluruh serta pembenahan terkait standar keselamatan dan keamanan pada seluruh penyelenggaraan kompetisi lari trail di Indonesia,” demikian pernyataan tersebut.
PP ALTI juga menekankan bahwa tanggung jawab keselamatan peserta sepenuhnya berada di tangan penyelenggara, meskipun olahraga trail run memiliki karakter yang menuntut kemandirian individu.
“Setiap penyelenggara kompetisi lari trail bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan dan keamanan peserta, meskipun karakter olahraga ini menuntut kemandirian individu,” tulis PP ALTI.
Pernyataan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa aspek keselamatan tidak dapat dinegosiasikan dalam penyelenggaraan event olahraga, terutama yang memiliki tingkat risiko tinggi seperti lari trail. PP ALTI berharap kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
KONI Desak Standar Keselamatan Diperketat
sejumlah pelari mengikuti rammang-rammang trail run 2016 di taman kars rammang-rammang, desa salenrang, kabupaten maros, sulawesi selatan, minggu (31/7). lomba lari dengan memperlombakan nomor lari 6k yang diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di indonesia tersebut menyusuri lintasan alam yang berada di sekitar kawasan taman kars rammang-rammang dan juga sebagai promosi salah satu objek wisata di kabupaten maros . antara foto/abriawan abhe/pd/16
Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman angkat bicara terkait insiden meninggalnya seorang peserta dalam ajang Lebarun 2026 yang berlangsung pada 28 Maret 2026.
Marciano menyampaikan duka cita atas peristiwa tersebut sekaligus menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan kompetisi olahraga.
“KONI Pusat menyampaikan turut berduka cita atas meninggalnya salah satu peserta Lari Trail, semoga Almarhum dapat di terima di sisi Allah SWT dan keluarganya diberikan kekuatan,” kata Marciano melalui keterangan tertulis yang diterima Tirto, Selasa (31/3/2026).
Ia menilai, insiden ini harus menjadi momentum untuk memperbaiki sistem penyelenggaraan kejuaraan olahraga ke depan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Ini merupakan momentum untuk melakukan evaluasi agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali di masa yang akan datang,” sambungnya.
Menurut Marciano, setiap kegiatan olahraga pada dasarnya bertujuan meningkatkan kebugaran peserta. Oleh karena itu, seluruh potensi risiko harus diantisipasi secara cermat oleh penyelenggara.
Ia menambahkan, standar pengamanan dalam ajang olahraga perlu diperketat, termasuk mengacu pada praktik yang diterapkan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON), terutama terkait jaminan kesehatan peserta dan kesiapan tenaga medis.
“Ke depan, kita harus lebih ketat melakukan evaluasi sebagai antisipasi. Bila mengacu pada Pekan Olahraga Nasional (PON), setiap peserta harus dijamin oleh BPJS dan tenaga kesehatan harus disiapkan dengan baik,” jelas Marciano.
Sebagai langkah konkret, KONI Pusat melalui bidang Kesehatan Olahraga disebut siap memberikan pendampingan kepada induk cabang olahraga maupun penyelenggara kompetisi. Ia juga mendorong Asosiasi Lari Trail Indonesia (PP ALTI) untuk berkoordinasi dengan para penyelenggara guna memperkuat standar keselamatan.
Selain itu, Marciano mengingatkan seluruh cabang olahraga agar meningkatkan perhatian terhadap aspek keamanan dan keselamatan peserta dalam setiap kegiatan. “Kita targetkan olahraga Indonesia tidak ada korban,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi, khususnya merujuk pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan. Dalam beleid tersebut, tepatnya Pasal 54 ayat (1), disebutkan bahwa penyelenggaraan kejuaraan olahraga yang menghadirkan massa penonton wajib memperoleh rekomendasi dari induk organisasi cabang olahraga terkait.
“Saya berharap agar penyelenggara kegiatan olahraga dapat bersinergi dengan induk cabang olahraga dalam melakukan kegiatannya,” pungkas Marciano.
Kesaksian Peserta: Tak Ada Tim Medis-Penanganan Lambat
Poster Lebarun Sentul Ultra 2026. Foto/Instagram @sentulultra

Kesaksian salah satu peserta Lebaran Run 2026 beredar di media sosial Threads dan menyoroti berbagai aspek penyelenggaraan, mulai dari tingkat kesulitan jalur hingga dugaan minimnya dukungan keselamatan saat insiden terjadi.
Dalam unggahannya, peserta dengan nama pengguna @*u*****s**a yang menyatakan tulisannya ditujukan sebagai bentuk kepedulian terhadap komunitas lari trail, bukan sekadar sensasi.
Dalam tulisannya, peserta tersebut mengkritik desain rute lomba yang dinilai sangat ekstrem sejak awal, dengan dominasi tanjakan dan turunan curam bergradien tinggi yang masuk kategori very steep.
Jalur berbentuk “V” dengan minim lintasan datar serta pola naik-turun bukit secara beruntun di kawasan Sentul disebut menambah tingkat kesulitan. Kondisi itu, menurutnya, harus diselesaikan dalam batas waktu atau cut off time (COT) 10 jam yang dinilai sangat ketat, sehingga memberi kesan rute dirancang untuk memaksimalkan perolehan elevation gain (EG).
“Sejak awal start, peserta langsung disuguhi tanjakan dan turunan (gradien rata-rata 20%–30% yang sudah masuk kategori very steep), dengan bentuk course ‘V’, minim flat route, dan naik-turun bukit ‘Pasir to Pasir’ secara beruntun di Sentul. Semua itu harus diselesaikan dengan COT 10 jam yang sangat ketat. Memang terasa rute ini sengaja dibuat untuk mengumpulkan EG sebanyak mungkin,” jelas dia.
Ia juga memaparkan kronologi kejadian yang menimpa salah satu peserta di jalur awal lomba. Dia mengaku sempat berada dekat dengan korban sebelum lomba dimulai, termasuk parkir dan beristirahat bersama menjelang flag off. Ia menjelaskan, insiden terjadi di jalur turunan menuju Curug Ciung, tepatnya di segmen Batu Tapa dan Warung Ciung, saat lomba masih berada di tahap awal, yakni sekitar kilometer 5-6 atau kurang lebih dua jam setelah start sekitar pukul 09.00.
Korban diketahui memulai lomba pada wave 3 pukul 06.30 pagi dan sempat tertinggal dari rombongan. Berdasarkan informasi yang ia dengar dari peserta lain, korban sebelumnya juga mengeluhkan kelelahan sebelum akhirnya memperlambat laju.
“Almarhum start di wave 3 pukul 06.30 pagi. Almarhum memang tertinggal dari rombongan, dan dari yang saya dengar (dari peserta 1 wave) beliau sempat mengeluhkan rasa capek sebelum kejadian sehingga melambat.”
Ia melanjutkan, kondisi korban memburuk secara cepat setelah terjatuh di jalur turunan.
“Di turunan menuju Curug Ciung, almarhum tiba-tiba lemas dan terjatuh di jalur. Kami peserta langsung berinisiatif membantu membaringkan, dan beberapa mencoba melakukan CPR. Dari smartwatch terlihat Heart Rate (HR) sekitar 185. Tapi kondisinya cepat sekali drop lemas, kehilangan napas, nadi pun cepat menghilang. HR di smartwatch terus menurun. Saat itu kami masih berharap ini hanya pingsan,” jelas dia.
Upaya mencari bantuan disebut terkendala kondisi lapangan. Dalam situasi darurat itu, katanya, sebagian pelari berinisiatif turun untuk mencari sinyal telepon guna meminta bantuan, sementara yang lain berlari menuju checkpoint terdekat di Warung Ciung yang berjarak sekitar 15–20 menit. Ia juga menyebut bahwa secara kebetulan terdapat rombongan trekking yang melintas, dan salah satunya merupakan dokter yang kemudian turut membantu melakukan CPR.
“Kebetulan dari rombongan trekking lewat juga ada dokter yang bersedia membantu CPR,” ungkap dia.
Kemudian, peserta tersebut menilai penanganan darurat berjalan lambat dan tidak terkoordinasi dengan baik. Dia menggambarkan situasi di lapangan saat itu berlangsung panik dan membingungkan. Ia menyebut salah satu pelari sempat mencoba menghubungi panitia melalui pesan langsung Instagram yang disebut dikelola oleh Race Director, Nanang Handoko.
Namun, katanya, mereka mendapatkan respons dari penyelenggara bahwa katanya kegiatan tersebut bersifat “self support”, atau pelayanan peserta dilakukan secara mandiri. Ia juga menyebut minimnya dukungan teknis di lapangan.
“Tidak punya empati. Respon pertama saat kami berusaha menghubungi panitia direspon dengan ‘INI KAN SELF SUPPORT’ di kondisi darurat sudah cukup menggambarkan betapa tidak bermoral nya orang ini,” ungkap dia.
“Panitia di lapangan juga tidak ada yang menggunakan HT. Dari yang kami lihat, memang tidak ada SOP penanganan darurat, dan panitia juga tidak menyediakan tim medis,” tambahnya.
Lalu, peserta tersebut juga menyebut proses evakuasi korban berlangsung cukup lama, bahkan mendekati 1,5 jam sejak kejadian. Dalam satu jam pertama, menurutnya, belum ada penanganan terkoordinasi dari pihak penyelenggara, sehingga para peserta berinisiatif sendiri memindahkan korban ke pinggir jalur dan mencoba menggendongnya, meski tanpa pengalaman evakuasi. Proses evakuasi akhirnya dilakukan dengan bantuan warga sekitar, peserta lain, serta beberapa panitia melalui jalur parkiran Cisadon.
“Hampir 1,5 jam almarhum belum terevakuasi. Bahkan di 1 jam pertama, hanya peserta yang berinisiatif memindahkan ke pinggir jalur dan mencoba menggendong (yang jelas tidak mudah dan tanpa pengalaman evakuasi),” katanya.
Selain kronologi kejadian, peserta tersebut juga mengkritik sejumlah aspek teknis lomba, termasuk batas waktu dan sistem kualifikasi.
Dia pun mempertanyakan relevansi batas waktu lomba atau COT yang ditetapkan selama 10 jam, apakah ditujukan untuk atlet atau peserta umum. Ia menilai wajar jika pelari berupaya menyesuaikan kecepatan dengan COT tersebut.
Ia juga menyoroti pernyataan Race Director yang disebut membanggakan tingkat kelulusan atau finish rate yang rendah, yakni sekitar 20 persen. Menurutnya, hal itu ironis, terlebih pembuat rute disebut tidak turut serta dengan alasan sakit. Dari sekitar 600 peserta, ia menyebut hanya 72 orang yang mampu finis di bawah COT, itu pun dalam batas waktu yang sangat ketat.
“Ironisnya, sang pembuat rute sendiri tidak jadi start dengan alasan ‘sakit’. Dari 600 peserta, hanya 72 yang finish under COT (itu pun mepet). Dengan kondisi jalur se-ekstrem ini, apakah tidak dipertimbangkan COT ‘Wajar’ untuk publik dengan kemampuan yang berbeda-beda?” tekan dia.
Lalu, dia juga menyoroti lemahnya kontrol kualifikasi peserta. Ia menilai tidak ada proses verifikasi yang ketat, seperti pengecekan rekam jejak lomba atau data aktivitas lari, sementara jumlah peserta justru ditambah hingga mencapai 600 orang. Dalam kondisi itu, ia mempertanyakan motif di balik penetapan jalur dan batas waktu yang dinilai sangat ekstrem tanpa diimbangi pengawasan yang memadai.
“Lemahnya kontrol kualifikasi. Tidak ada verifikasi serius seperti bukti race result atau Strava. Bahkan slot peserta ditambah hingga total 600. Apa sebetulnya motif membuat jalur dan COT sangat ekstrim tanpa kontrol ketat?” cecarnya.
Selanjutnya, dia juga menyinggung narasi yang kerap menyalahkan peserta karena memilih ajang dengan biaya pendaftaran yang lebih terjangkau. Menurutnya, hal itu tidak seharusnya menjadi pembenaran atas minimnya fasilitas di lapangan.
“‘INI KAN RACE MURAH 75K’. Berkali2 sejak awal kami sering disalahkan bahwa peserta lah yang ‘sengaja mencari Race murah’. Memang ternyata saat Race Day tidak ada tim medis, marshal, HT komunikasi, bahkan water station. Murah seharusnya bukan berarti mengabaikan keselamatan?” ucapnya.
Berikutnya, peserta tersebut juga mengkritik dokumen persetujuan atau waiver yang digunakan dalam lomba. Ia menilai isi dokumen tersebut terkesan menjadi upaya perlindungan hukum bagi penyelenggara, dengan redaksi yang menurutnya tidak lazim dan cenderung memberatkan peserta. Dalam pandangannya, waiver itu mencerminkan pola penyelenggaraan yang minim dukungan di lapangan, namun di saat yang sama berupaya meminimalkan tanggung jawab.
“WAIVER ‘paling cuci tangan’. Dokumen sepanjang 3 halaman ini adalah WAIVER dengan kata2 paling mengerikan dari perlombaan yang kami pernah temui. Seolah menjadi tameng hukum, polanya terlihat jelas: minim support, tapi maksimal berusaha melarikan diri dari tanggung jawab,” ungkap dia.
Dia pun juga menyinggung dugaan persoalan perizinan acara. Ia menyebut, saat proses klarifikasi di lapangan, Nanang Handoko selaku Race Director disebut menyatakan bahwa kegiatan tersebut hanya bersifat “latihan/halal bihalal”. Pernyataan itu dinilai janggal, mengingat menurutnya event telah diselenggarakan dengan mekanisme layaknya lomba resmi, termasuk adanya biaya pendaftaran, penetapan cut-off time (COT), hingga penyediaan medali.
“Bagaimana bisa dari mulutnya keluar kata-kata tersebut, padahal event ini sudah di set dengan biaya regis, COT, bahkan medali,” ujarnya.
Selain itu, ia dia juga menyampaikan tudingan bahwa Nanang berupaya menghindari tanggung jawab dengan menyebut kegiatan tersebut sebagai event pertama yang ia koordinasikan. Pernyataan itu dipersoalkan karena, menurutnya, yang bersangkutan sebelumnya telah beberapa kali menyelenggarakan event atau kegiatan serupa.
Peserta Lebaran Run 2026 itu juga mengeklaim memiliki bukti berupa rekaman percakapan. Selain itu, ia menilai sikap yang ditunjukkan penyelenggara saat berinteraksi dengan keluarga korban tidak mencerminkan empati.
“Kalian tidak akan percaya betapa angkuhnya orang ini, bahkan saat berbicara dengan keluarga almarhum dia berbicara dengan muka tertawa tanpa mencopot kacamata larinya,” kuaknya.
Ia juga menilai komunikasi penyelenggara tidak profesional. “Komunikasi arogan. Silahkan tanya kepada para peserta betapa ketus dan arogannya sang Race Director menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para peserta,” tambahnya.
Penyelenggara ajang lari trail Lebarun 2026, Sentul Ultra, belum memberikan tanggapan rinci terkait sejumlah isu aspek keselamatan yang mencuat usai meninggalnya salah satu peserta dalam perlombaan tersebut.
Saat dihubungi Tirto, Selasa (31/3/2026), untuk mengonfirmasi kesaksian peserta, pihak penyelenggara hanya menyatakan bahwa mereka masih dalam suasana berkabung dan memilih untuk memprioritaskan pendampingan terhadap keluarga korban.
“Mohon sebesar besar nya, kami masih berkabung, dan fokus ke keluarga korban hingga 100 hari nya mengikut ada keluarga korban, sekali lagi mohon,” tulis pihak Sentul Ultra dalam pesan singkat melalui Instagram kepada Tirto.
Golden Time 3 Menit Penanganan Kolaps 
Ilustrasi trail run. FOTO/iStockphoto

Meninggalnya RAF saat mengikuti ajang Lebaran Run 2026 turut disorot Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, Andhika Raspati. Dia menilai, risiko dalam olahraga lari, termasuk trail run, dapat terjadi pada berbagai sistem tubuh.
“Oke, jadi faktor risiko utama pada pelari trail sebenarnya sih memang pada lari apa pun risiko tetap bisa terjadi ya pada jantung, pada sistem paru-paru, pernapasan, sampai yang paling sering ya mungkin sistem otot ya, kram, cedera, dan sebagainya,” ujar Andhika saat dihubungi Tirto, Selasa (31/3/2026).
Andhika menjelaskan, karakteristik trail run menuntut perhatian khusus karena medannya tidak rata dan lebih menantang. Selain itu, faktor ketinggian juga berpengaruh, terutama pada jalur di atas 2.500 meter dpl atau di atas permukaan laut yang memiliki kadar oksigen lebih tipis. Kondisi ini membuat beban kerja tubuh tidak hanya terasa pada otot kaki, tetapi juga meningkat pada jantung dan paru-paru.
“Nah, itu bisa lebih berat beban kerja jantungnya. Jadi memang kalau untuk trail dengan elevasi yang tinggi dan dengan dpl yang tinggi, secara effort nggak cuma berat di kaki, tapi juga berat di jantung dan paru-paru, seperti itu,” jelasnya.
Dalam situasi kolaps saat olahraga, Andhika menegaskan bahwa kecepatan penanganan menjadi faktor penentu keselamatan. Ia menyebut, kondisi seperti henti jantung harus ditangani dalam hitungan sangat cepat.
“Nah, terkait dari kecepatan penanganan pertama, memang kalau bicaranya olahraga, kita bicara olahraga dulu deh, kalau olahraga kan memang henti jantung ya, mau olahraga mau apa pun itu kan harus hitungan menit ya, bahkan hitungan detik lah kalau mau bagus. Jadi kalau bicara henti jantung, memang mau itu di sarana atau di event olahraga, mau di kantor, mau di public space, itu ya harus cepat. Hitungan detik hingga hitungan menit lah paling tidak, jadi memang harus cepat,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyoroti adanya periode emas penanganan dalam tiga menit pertama saat seseorang mengalami henti jantung.
“Jadi memang lebih ke sana sih kalau bicara henti jantung mah tetap mau apa pun itu mesti dalam hitungan menit ya, bahkan bisa dikatakan 3 menit pertama lah, periode emasnya 3 menit pertama,” kata Andhika.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam trail run terletak pada medan yang sulit dijangkau, sehingga memperlambat proses evakuasi dan penanganan medis dibandingkan lomba lari di jalan raya.
“Nah, untuk di trail itu problem-nya adalah medannya kan susah tuh, tidak seperti, tidak segampang pada road race atau pada balapan di jalan raya yang mana ambulans bisa dengan leluasa lalu lalang. Kalau di trail kan susah, mau evakuasi juga sulit gitu ya,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia menilai penyelenggara event trail run semestinya melibatkan tenaga medis yang memiliki kemampuan khusus menghadapi medan ekstrem.
“Jadi memang kalau kita bicara untuk trail run, biasanya memang kita melibatkan evakuator atau tenaga medis yang memang sudah terbiasa untuk bergerak dengan cepat, dengan lincah bahkan bisa dikatakan begitu, untuk menyusuri medan yang sangat tidak rata itu,” terang Andhika.
Ia menambahkan bahwa dalam pengalamannya menangani event di medan pegunungan, seperti trail run maupun mountain bike, penyelenggara kerap bekerja sama dengan tim evakuasi profesional seperti Tim SAR atau tim tanggap bencana yang telah terbiasa melakukan evakuasi di jalur sulit.
Kemudian lanjutnya, kebutuhan tenaga medis dalam event semacam ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian krusial dari sistem keselamatan. “Dan tadi dengan medan trail yang sulit, ya butuh memang tenaga medis yang memang mungkin lebih banyak dan juga lebih berpengalaman dan lebih skillful untuk bisa bergerak di bidang yang sulit,” ungkap Andhika.
Terkait usulan pencegahan agar kejadian serupa tak terulang, Andhika memberikan catatan tegas kepada penyelenggara agar tidak mengabaikan aspek keselamatan demi efisiensi biaya. “Rekomendasi utama ya penyelenggara jangan pelit buat biaya medis yang proper (layak),” ujarnya.
Sementara dari sisi peserta, ia menekankan pentingnya memastikan kondisi kesehatan sebelum mengikuti lomba, terutama bagi mereka yang rutin mengikuti event lari.
“Kalau dari peserta ya sebisa mungkin kalo emang sering ikut event gitu ya sering medical check up, biar tau kondisinya layak apa nggak,” pungkas Andhika.
Kualifikasi Lebarun 2026 dari Website Resminya
Ajang lari lintas alam bertajuk Lebaran Run 2026 kembali digelar di kawasan Sentul Highland, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu, 28 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi agenda tahunan yang dirancang khusus bagi para penggemar trail running untuk merayakan momen Idul Fitri melalui aktivitas olahraga menantang.
Tirto pun menelusuri situs resmi Lebarun Sentul Ultra. Berdasarkan yang tercantum dalam situs resminya, pada tahun 2026 ini, Lebarun benar menghadirkan kategori lari sejauh 28,73 kilometer dengan total elevasi mencapai +2.903 meter. Rute tersebut diklasifikasikan dalam Mountain Level 11 dan Finisher Level 210, serta memiliki batas waktu penyelesaian atau COT selama 10 jam. Ajang ini juga tercatat memiliki ITRA Endurance Point sebesar 2.
Start dan finish lomba berlokasi di kawasan The HD Land, Raya Kalimata No. 1, Wangun Depok, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Bogor. Berbeda dengan kompetisi pada umumnya, Lebarun merupakan kegiatan non-kejuaraan yang mengusung konsep full autonomy dan self-support, peserta dituntut untuk mandiri sepanjang perlombaan. Hal ini tentu mendukung kesaksian peserta terkait sistem self support dalam pelayanan kepada peserta.
Penyelenggara menetapkan bahwa peserta minimal berusia 18 tahun pada hari pelaksanaan dan dalam kondisi sehat. Selain itu, peserta diharapkan memiliki pengalaman sebagai finisher dalam lomba trail run minimal 10 kilometer sebagai syarat pendaftaran.
Pihak penyelenggara juga memiliki kewenangan penuh untuk menyetujui atau menolak pendaftaran, termasuk memberikan dispensasi tertentu dengan pertimbangan khusus bagi peserta yang belum memenuhi kriteria.
Dalam pelaksanaannya, peserta diingatkan untuk memahami karakteristik trail running yang menantang, termasuk berlari sejak dini hari hingga siang hari di medan pegunungan. Peserta juga dituntut mampu menghadapi berbagai kondisi ekstrem secara mandiri, seperti cuaca buruk, kelelahan, cedera ringan, hingga gangguan fisik dan mental.
Di dalam situs itu, Lebarun Sentul Ultra juga menekankan bahwa seluruh tanggung jawab keselamatan berada pada masing-masing peserta, mengingat kegiatan ini mengandalkan kemampuan dan kesiapan individu dalam menghadapi situasi di lapangan.
Selain itu, penyelenggara menyatakan seluruh dokumentasi kegiatan, seperti foto, video, dan hasil lomba, dapat digunakan untuk keperluan publikasi di berbagai media.
Penyelenggara Lebarun 2026 Minta Maaf
Permintaan maaf penyelenggara Lebarun Sentul Ultra 2026. Foto/Instragram @sentulultra

Penyelenggara Lebarun Sentul Ultra menyampaikan duka cita atas meninggalnya salah satu peserta dalam rangkaian kegiatan Lebarun 2026. Dalam pernyataan resminya, panitia menyebut peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan di masa mendatang.
“Dengan rasa duka yang mendalam, kami selaku penyelenggara Lebarun-Sentul Ultra menyampaikan belasungkawa atas kejadian yang menimpa peserta dalam rangkaian kegiatan Lebarun tahun ini,” tulis panitia dalam keterangannya yang diunggah melalui akun media sosial Instagram @sentulultra, dikutip Selasa (31/3/2026).
Pihak penyelenggara mengakui bahwa peristiwa tersebut membawa kesedihan bagi banyak pihak. Mereka menyatakan hal ini sebagai pengingat untuk melakukan perbaikan ke depan.
“Kami memahami bahwa kejadian ini membawa duka yang mendalam bagi banyak pihak. Hal ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan ke depan,” lanjut pernyataan tersebut.
Panitia juga menyampaikan simpati kepada keluarga korban serta pihak-pihak yang terdampak. Mereka berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dalam menghadapi situasi ini.
“Kami menyampaikan simpati dan empati yang sebesar-besarnya kepada keluarga, kerabat, dan orang-orang terkasih. Semoga diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi masa sulit ini,” tulis panitia.
Dalam pernyataan yang sama, penyelenggara turut mengapresiasi pihak-pihak yang terlibat dalam penanganan insiden di lapangan, termasuk tim medis dan relawan.
“Kami juga mengapresiasi setinggi-tingginya kepada tim medis, relawan, serta seluruh pihak yang telah berupaya memberikan penanganan secara cepat dan maksimal,” demikian keterangan tersebut.
Sebagai tindak lanjut, panitia menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan acara guna meningkatkan standar ke depan.
“Sebagai bentuk tanggung jawab, kami akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aspek penyelenggaraan event guna memastikan peningkatan standar ke depan,” tulis panitia.
Penyelenggara menutup pernyataannya dengan doa bagi almarhum serta keluarga yang ditinggalkan.
“Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan,” tutup pernyataan tersebut.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































