Menuju konten utama

Dua Balita di Cirebon Meninggal Dunia Akibat Campak

Selain campak, mereka juga menderita faktor pemberat lain, yakni kelainan jantung dan juga gizi buruk.

Dua Balita di Cirebon Meninggal Dunia Akibat Campak
Direktur Utama RSD Gunung Jati saat melakukan pers rilis, Jumat 17 April 2026. Foto: CirebonBanget/Wibawa
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jumlah kasus positif campak di Kota Cirebon terus meningkat pesat sejak akhir 2025 sampai dengan saat ini. Terbaru, dua anak berusia di bawah dua tahun dilaporkan meninggal dunia akibat campak.

Dokter Spesialis Anak RS Gunung Jati Cirebon, Suci Saptyuni, mengatakan kedua anak tersebut meninggal tidak hanya karena campak saja, tapi juga karena faktor penyakit pemberat lain, yakni kelainan jantung dan juga gizi buruk.

“Kedua anak tersebut memang ada faktor pemberatnya, di samping tidak dilakukan imunisasi yang lengkap terutama campak,” kata Suci, Jumat (17/4/2026).

Selain dua anak tersebut, RS Gunung Jati juga menerima pasien dalam kondisi gawat sebanyak 4 pasien. Beberapa pasien bahkan harus dirawat inap lantaran bergejala demam tinggi, dehidrasi, dan juga komplikasi.

Dalam beberapa kasus, RS Gunung Jati mendapati adanya komplikasi dari radang paru, sakit telinga, bahkan sampai dengan infeksi berat, dan juga bisa menyebabkan radang otak.

Suci menjelaskan organisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah mengeluarkan beberapa rekomendasi terkait kondisi ini. Upaya yang paling utama adalah mengejar imunisasi.

“Anak wajib di-screening, imunisasi sejak usia 9 bulan sampai dengan usia 15 tahun, selain itu kami sebagai tenaga kesehatan juga harus dilakukan vaksinasi. Terlebih, sudah ada rekomendasi per April ini untuk dilakukan vaksinasi,” jelasnya.

Menurut Suci, IDAI juga mengeluarkan rekomendasi untuk penguatan pemeriksaan laboratorium. Saat ini, pemeriksaan laboratorium harus ke Dinas Kesehatan.

Selain itu, pasien campak sendiri dilakukan isolasi dan tidak disatukan oleh pasien lain untuk mencegah penularan virus campak.

Sementara itu, Direktur Utama RS Gunung Jati, Katibi, mengatakan rumah sakitnya berdasarkan data rawat jalan telah merawat enam kasus campak pada periode Januari hingga 16 April 2026.

“Sedangkan yang terdata dari Instalasi Gawat Darurat (IGD) jumlah kasus relatif lebih besar, yakni 50 kasus yang masuk ke ruang rawat inap di sini,” jelas Katibi.

Kota Cirebon Tetapkan Kondisi Luar Biasa (KLB) Campak

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listiawati, mengatakan kota tersebut telah berstatus Kondisi Luar Biasa (KLB) campak. Penerapan KLB tersebut dilakukan sejak Februari lalu setelah melalui kajian epidemiologi.

“Jumlah kasus campak sendiri meningkat sejak minggu ke 53 atau pada Desember 2025 lalu, dan sampai saat ini masih ada kasus campak baru,” kata Siti.

Pada 2025, kasus suspect campak tercatat 238 kasus. Setelah dilakukan pengujian laboratorium, kasus positif pada 2025 berjumlah 44 kasus.

Per 4 April 2026, jumlah kasus suspect campak mencapai 150 kasus, sementara yang terkonfirmasi positif ada 9 kasus.

Daerah dengan jumlah kasus tertinggi adalah Kelurahan Argasunya dengan 30 kasus, disusul Kelurahan Kalijaga dengan 28 kasus.

Kasus campak terbanyak menyerang anak usia 1-4 tahun (6 kasus). Kemudian, usia dewasa (di atas 15 tahun) tercatat ada 15 orang suspect.

“Beberapa gejala penyakit campak antara lain demam, pilek. Setelah demam itu, akan muncul bercak, ada juga sebelum muncul bercak itu, matanya ada konjungtivitis. Jadi, kelihatannya seperti sakit mata. Setelah muncul bercak diharapkan untuk melakukan isolasi mandiri ataupun datang ke puskesmas untuk dapat diperiksa. Kalau sudah positif, bisa isolasi mandiri di rumah sembari menjaga daya tahan tubuh,” tutup Siti.

Baca juga artikel terkait KLB CAMPAK atau tulisan lainnya dari Cirebon Banget

tirto.id - Flash News
Kontributor: Cirebon Banget
Penulis: Cirebon Banget
Editor: Fadrik Aziz Firdausi