tirto.id - Kasus campak di Indonesia melonjak tinggi pada 2026. Ribuan kasus telah diidentifikasi. Kasus terbaru, seorang dokter internship di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pagelaran, Cianjur, Jawa Barat meninggal dunia akibat campak.
Dokter yang meninggal saat bertugas itu adalah Andito Mohammad Wibisono (26). Ia dilaporkan meninggal pada Kamis (26/3/2026) lalu.
Berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Andito mengalami sejumlah gejala khas campak sebelum meninggal dunia seperti demam, ruam merah hingga sesak napas berat.
Dalam kasus meninggalnya Andito, penyakit campak yang diduga ia derita diperburuk dengan komplikasi pneumonia. Komplikasi ini menyebabkan penanganan medis sulit dilakukan, kendati Andito telah mendapatkan penanganan intensif RSUD Cimacan, Cinajur, pada Rabu (25/3/2026).
Mendiang Andito jadi salah satu kasus kematian terbaru akibat campak di Indonesia. Seturut data Kemenkes, kasus campak memang sedang melonjak di Indonesia.
Hingga pekan ke-11 2026, Kemenker mencatat telah terjadi 58 kejadian luar biasa (KLB) campak di 39 kabupaten/kota di 14 provinsi. Jumlah kasus campak yang dikonfirmasi sempat menyentuh angka 2.740 kasus pada awal tahun, meskipun per akhir Maret telah turun menjadi 177 kasus.
Penyebaran kasus campak yang tergolong tinggi ini membuat Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit merilis surat edaran nomor HK.02.02/C/1602/2026 untuk menggenjot laju imunisasi campak secara nasional.
Surat edaran itu juga berisi imbauan bagi rumah sakit dan para tenaga medis yang bekerja untuk memperketat protokol kesehatan dalam penanganan campak.
"Diimbau kepada seluruh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan Direktur Rumah Sakit melakukan langkah-langkah kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi penularan campak kepada tenaga medis dan tenaga kesehatan," tulis surat edaran tersebut.
Menurut Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Andi Sugani, memperkuat kewaspadaan dan protokol perlindungan merupakan hal krusial dalam mencegah penularan campak terus meluas. Hal ini, terutama, ditujukan bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan tenaga medis.
"Respons cepat sangat penting untuk mencegah penularan yang lebih luas," kata Andi, dikutip dari laman resmi Kemenkes.
Akan tetapi, mengingat adanya peningkatan kasus campak secara signifikan di Indonesia, bagaimana cara campak menular dari manusia ke manusia lain? Apakah laju penularannya tergolong cepat?
Apakah Penularan Campak Cepat?
Campak, yang merupakan penyakit akibat infeksi virus Measles morbilivirus, dikategorikan sebagai salah satu penyakit paling menular di dunia bagi manusia.
Seturut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), laju penularan campak dikenal sangat tinggi. Dalam skenario kelompok masyarakat yang tidak divaksinasi, setiap satu pasien campak diperkirakan dapat menularkan 9 hingga 10 orang di sekitarnya.
Luasnya penularan campak itu dapat terjadi karena virus Measles morbilivirus dapat menyebar melalui udara (airborne) dan mengendap di permukaan benda.
Ketika virus campak menginfeksi tubuh manusia, virus akan menyebabkan gangguan fungsi organ tubuh secara sistemik. Infeksi virus ini dapat mengganggu sistem pernapasan, imun, limfatik, hingga kulit manusia.
Infeksi virus Measles morbilivirus juga dapat jadi membahayakan nyawa karena kemampuannya untuk memicu komplikasi. Contohnya virus ini dapat mengakibatkan pneumonia, pembengkakan otak, kejang hingga hilang ingatan.
Campak memiliki ciri gejala yang khas berupa ruam kemerahan yang menjalar di tubuh penderitanya. Gejala ini akan terjadi bersama gejala lain seperti demam, batuk, pilek, hingga mata merah dan berair.
Umumnya, gejala-gejala tersebut akan dirasakan selama 10 hari. Gejala kemudian akan hilang setelah mendapatkan perawatan. Namun, ketika komplikasi yang sudah terlanjur terjadi, gejala mungkin masih bertahan.
Upaya pencegahan campak di seluruh dunia dilakukan melalui vaksinasi dini. Indonesia merupakan salah satu negara yang menerapkan program imunisasi campak nasional untuk bayi baru lahir hingga anak usia 18 tahun.
Meski vaksinasi telah secara saintifik terbukti mencegah penularan campak, namun sejumlah negara masih asing dengan imunisasi penyakit yang juga dikenal sebagai rubeola ini.
Sepanjang 2025 hingga awal tahun 2026, peningkatan kasus campak juga tercatat di Amerika Serikat (AS). Ribuan kasus campak terkonfirmasi di AS selama rentang waktu tersebut.
Situasi tersebut terjadi setelah adanya penurunan tingkat vaksinasi campak dalam beberapa tahun terakhir. Di sejumlah negara seperti AS, vaksinasi campak telah dikaitkan dengan berbagai teori konfirmasi dan informasi yang menyesatkan, membuat kesediaan masyarakat untuk mengakses vaksinasi menurun secara konstan.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





























