tirto.id - DPRD DKI Jakarta mendukung rencana Perumda Pasar Jaya yang akan membangun sistem pengelolaan sampah mandiri di Pasar Induk Kramat Jati. Inisiatif Perumda Pasar Jaya dinilai bisa berdampak strategis sebab perusahaan daerah tersebut mengelola ratusan pasar yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar, terutama organik.
Ketua Komisi B, Nova Harivan Paloh, mengatakan pengelolaan sampah mandiri diperlukan untuk mengurangi beban TPST Bantargebang yang saat ini menerima sekitar 7.800 ton sampah per hari.
"Kami mendukung pengelolaan sampah mandiri. Beban Bantargebang sudah sangat besar dan armada pengangkut sangat banyak sehingga antrean panjang," ujar Nova dalam rapat kerja bersama Perumda Pasar Jaya di Ruang Rapat Komisi B DPRD DKI Jakarta, pada Rabu (25/2/2026).
Dalam pandangan DPRD DKI Jakarta, sistem pengelolaan sampah di pasar perlu didukung pemilahan dari sumber, pengolahan sampah organik, hingga optimalisasi daur ulang melalui bank sampah. Selain akan mengurangi suplai sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sistem tersebut juga berguna mengubah perilaku pedagang dan konsumen pasar agar lebih peduli pada lingkungan.
Meskipun demikian, Nova juga mengingatkan, pembangunan fasilitas pengolahan sampah di pasar harus memperhatikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), terutama jika menggunakan insinerator atau mesin pembakaran bersuhu tinggi. Dia meminta Dinas Lingkungan Hidup memberikan supervisi agar risiko polusi bisa dihindari.
"Insinerator jangan sampai berdampak pada pedagang maupun konsumen di sekitarnya. Aspek AMDAL dan residu pembakaran harus diawasi ketat," tegas Nova.
Komisi B DPRD DKI Jakarta juga menyoroti keterbatasan armada pengangkut sampah yang kerap menyebabkan penumpukan di Pasar Induk Kramat Jati. Volume sampah di pasar itu bisa mencapai sekitar 200 ton per hari, terutama saat Ramadan dan musim panen.
“Jika kebutuhan armada 15 hingga 17 unit per hari tidak terpenuhi, penumpukan sampah akan terus berulang,” kata Nova.
Menanggapi masukan tersebut, Direktur Properti dan Perpasaran Perumda Pasar Jaya, Raja Malem Tarigan, membenarkan pengangkutan sampah kini masih sepenuhnya bergantung pada armada Dinas Lingkungan Hidup. "Jika kondisi armada seperti ini terus berlangsung, penumpukan sampah berpotensi kembali terjadi,” ujarnya.
Sebagai langkah jangka panjang, Perumda Pasar Jaya menjalin kerja sama dengan LAPI ITB, lembaga afiliasi penelitian dan industri Institut Teknologi Bandung, untuk menyiapkan sistem pengelolaan sampah mandiri yang ditargetkan mulai berjalan pada 2027.
“Pengelolaan sampah mandiri sangat tepat karena komposisi sampah pasar didominasi sampah organik, mencapai 90–95 persen,” kata Raja.
Komisi B DPRD DKI memastikan akan melakukan pengawasan agar pengelolaan sampah mandiri di pasar berjalan efektif, ramah lingkungan, dan tidak menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat sekitar.
Komitmen ini merupakan bagian dari upaya mendorong transformasi pengelolaan pasar di Jakarta menjadi lebih modern, sehat, dan ramah lingkungan, sekaligus mendukung realisasi target pengurangan sampah di tingkat kota secara menyeluruh.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id





























