Menuju konten utama

DEN Waspadai Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Harga Barang

DEN telah mengusulkan langkah-langkah antisipasi yang dapat dilakukan oleh pemerintah.

DEN Waspadai Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Harga Barang
muhammad chatib basri.foto/antaranews

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp18.058 pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Nilai rupiah tercatat naik 129,5 poin atau 0,71 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp18.187,5.

Meskipun menguat, jika ditarik dalam rentang yang lebih panjang sejak awal 2026, rupiah telah terdepresiasi (melemah) sebesar 7,97 persen. Nilai tukar rupiah yang terus melemah membuat Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mewaspadai potensi kenaikan harga-harga barang.

“Kami juga menyampaikan bahwa salah satu isu penting yang harus diperhatikan itu adalah kemungkinan mengenai risiko kenaikan harga-harga yang bisa terjadi akibat dari pelemahan rupiah,” ujar Anggota DEN, Chatib Basri, dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2026).

Menurut Chatib, pelemahan rupiah ini harus diwaspadai karena kenaikan harga-harga barang secara langsung akan berdampak kepada masyarakat kelas menengah ke bawah. Selain itu, kondisi ini juga dikhawatirkan akan menumbuhkan masalah kepercayaan kepada pemerintah.

“Termasuk, juga untuk menumbuhkan masalah confidence, masalah trust kepada pemerintah,” tambahnya.

Karenanya, untuk mengantisipasi masalah yang dapat ditimbulkan dari pelemahan rupiah, DEN telah mengusulkan langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah. Salah satunya adalah terkait efisiensi anggaran, termasuk dana yang digulirkan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Salah satunya adalah langkah-langkah yang dilakukan di dalam efisiensi anggaran, termasuk salah satu di antaranya di dalam kaitan dengan MBG,” tutur Chatib.

Meski begitu, sepakat dengan pemerintah, DEN juga menilai bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi baik, bahkan jauh dibandingkan dengan kondisi krisis 1998. Selain dari indikator-indikator makro—seperti pertumbuhan ekonomi nasional yang masih tinggi dan inflasi yang masih stabil, baiknya fundamental ekonomi nasional ini terlihat pula dari neraca korporasi yang dalam posisi sangat sehat.

“Salah satunya kalau teman-teman lihat, utang perusahaan dalam dolar itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan kondisi 1998 ya. Kemudian, kalau kita lihat posisi cash dari perusahaan, juga dalam posisi yang tinggi. Jadi, ketidakpastian yang terjadi mereka masih cukup bisa mitigasi,” jelas Anggota DEN, Mochamad Firman Hidayat, pada kesempatan yang sama.

Pun, capital adequacy ratio (CAR) di sektor perbankan juga masih dalam posisi di atas 25. Ini menunjukkan sistem perbankan nasional cukup kuat.

“Namun, memang kita perlu waspada terhadap ketidakpastian ekonomi global. Dampak perang ini sepertinya lebih tinggi, lebih lama dari perkiraan kita. Kemudian, ada faktor pelemahan rupiah,” tutupnya.

Baca juga artikel terkait PELEMAHAN RUPIAH atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi