Menuju konten utama

Delegasi Iran Walk Out di Perundingan Swiss usai Ancaman Trump

Delegasi Iran walk out dari perundingan di Swiss usai Trump ancam serangan jika Iran tak hentikan dukungan ke Hizbullah di Lebanon.

Delegasi Iran Walk Out di Perundingan Swiss usai Ancaman Trump
Televisi pemerintah Pakistan menyiarkan pertemuan Wakil Presiden AS JD Vance dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di pusat media yang didirikan untuk meliput pembicaraan AS-Iran di Islamabad, Pakistan, Sabtu, 11 April 2026. reuters/Muhammad Reza
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Burgenstock, Swiss, pada Minggu (21/6/2026) mengalami ketegangan. Delegasi Iran sempat walk out atau meninggalkan lokasi pembicaraan setelah Presiden AS, Donald Trump mengeluarkan ancaman. Trump meminta Iran menghentikan dukungannya pada Hizbullah.

Perundingan di Swiss tersebut merupakan bagian dari upaya diplomatik lanjutan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan membuka jalan menuju penyelesaian berbagai persoalan yang selama puluhan tahun membebani hubungan Washington dan Teheran.

Namun suasana perundingan menjadi memanas ketika Trump mengancam akan menyerang Iran apabila negara itu tidak segera menghentikan dukungannya terhadap kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya di Lebanon, khususnya Hizbullah.

Menurut laporan media pemerintah Iran, delegasi Iran meninggalkan gedung perundingan setelah terlebih dahulu bertemu dengan perwakilan Qatar selaku mediator.

“Delegasi Republik Islam Iran, setelah bertemu dengan delegasi Qatar sebagai salah satu pihak mediator, meninggalkan gedung tempat negosiasi berlangsung,” kata kantor berita negara Iran, IRNA dikutip The Straits Times (22/6/2026).

Keputusan tersebut disebut berkaitan dengan unggahan Trump di media sosial yang kembali melontarkan ancaman terhadap Iran tepat ketika pembicaraan sedang berlangsung.

“Iran harus segera menghentikan PROKSI mereka yang dibayar mahal di Lebanon agar tidak menimbulkan masalah. Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, bahkan lebih keras lagi!!!” tulis Trump di Truth Social @realDonaldTrump pada 21 Juni 2026.

Meski demikian, sumber diplomatik yang mengetahui jalannya negosiasi membantah bahwa Iran benar-benar keluar dari proses perundingan. Sumber tersebut menegaskan bahwa delegasi Iran tetap terlibat dalam pembahasan dan tidak pernah menyampaikan niat untuk menghentikan negosiasi kepada para mediator.

Itamar Ben Gvir Desak Netanyahu Tolak Gencatan Senjata dengan Hizbullah

Pernyataan keras kembali muncul dari Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, yang pada Senin (22/6), menyerukan agar Israel menolak segala bentuk kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.

Dalam wawancara dengan lembaga penyiaran publik Israel, KAN, Ben Gvir bahkan menyebut bahwa Lebanon seharusnya diperlakukan sebagai arena permainan Israel.

Ia menegaskan bahwa Israel tidak boleh menyetujui gencatan senjata dalam kondisi apa pun dan mendorong Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menyampaikan penolakan tersebut secara langsung kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang saat ini terlibat dalam upaya diplomatik regional.

"Israel tidak boleh menyetujui gencatan senjata di Lebanon," tegas Ben Gvir dikutip Anadolu Ajansi (22/6/2026).

Ben Gvir juga menekankan bahwa meskipun Trump dianggap sebagai sekutu penting Israel, kepentingan keamanan nasional tetap harus menjadi prioritas utama Israel dalam menentukan arah kebijakan perang di Lebanon.

"Trump adalah teman sejati, dan kita harus memperlakukannya dengan sopan dan merangkulnya, tetapi kita perlu mengatakan kepadanya bahwa kita tidak dapat menyetujui gencatan senjata di Lebanon," tambahnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya perdebatan di kalangan politik dan keamanan Israel mengenai kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, yang dinilai dapat memengaruhi dinamika konflik di Lebanon.

Beberapa pejabat Israel khawatir bahwa kesepakatan tersebut dapat memperkuat posisi Iran dan kelompok sekutunya, termasuk Hizbullah.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi menanggapi unggahan Ben Gvir tentang penderitaan yang dialami warga Israel, terutama ibu-ibu yang kehilangan anaknya, harus dibalas dengan penderitaan yang jauh lebih besar di pihak Lebanon.

Araghchi melabeli Israel sebagai kelompok fanatik genosida.

“Ini bukan ocehan seorang fanatik genosida yang tidak dikenal. Ini adalah unggahan publik dari menteri keamanan nasional rezim Israel. Kelompok fanatik genosida yang bermarkas di Tel Aviv merupakan ancaman bagi seluruh umat manusia. Kelompok ini mengancam semua manusia. Satu-satunya kepentingannya adalah perang abadi,” tulisnya di X @araghchi pada 19 Juni 2026.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra