Dana Publik dan Kicauan Ananda Badudu untuk Demo DPR

Oleh: Mawa Kresna - 26 September 2019
Dibaca Normal 3 menit
Urun dana publik bagi aksi demo menolak sejumlah regulasi bermasalah di DPR adalah semangat solidaritas di era internet.
tirto.id - "Teman-teman massa aksi Jakarta, titik mana yang paling butuh air? Bisa reply di bawah ini."

Kalimat itu dicuit oleh musisi dan jurnalis Ananda Badudu, relawan aksi yang membantu logistik dan bantuan medis demo mahasiswa ke DPR, pada Senin malam, 24 September.

Saat ia mengunggah cuitan itu, situasi di sekitar DPR kacau. Demonstrasi ribuan mahasiswa menolak RUU KUHP dan RUU bermasalah lain berujung ricuh.

Polisi dengan pentungan, gas air mata, mobil pemecah masa dan meriam air menyerang massa. Sebaliknya, massa membalasnya dengan lemparan batu. Mahasiswa, dengan perlawanan seadanya, dipukul mundur hingga buyar.

Ada mahasiswa yang terluka. Ada yang kepalanya bocor terkena pukulan. Ada yang sesak napas karena gas air mata. Ada pula yang kelelahan karena berusaha lari dari serangan polisi. Mereka terpencar di beberapa titik yang jauh dari jangkauan polisi.

Cuitan Ananda itu direspons seribuan retwit, tujuh ratusan like dan seratusan balasan. Alfa Gumilang adalah salah satu yang ligat membalas.

“Bunderan Semanggi. Di situ korban dievakuasi,” cuit Alfa, dua menit setelah Ananda mengunggah cuitan itu.

Alfa membalas cuitan itu dari bundaran Semanggi. Ia dan puluhan massa terpaksa mundur setelah polisi melepaskan tembakan gas air mata berkali-kali.

Alfa melihat ada puluhan mahasiswa yang sudah keleleran. Ada yang luka, kepala bocor, ada yang sesak napas karena gas air mata, ada juga berbaring kelelahan.

Sementara itu, beberapa mahasiswa masih ada yang berseliweran membawa kawan-kawannya yang semaput ke Bundaran Semanggi. Lokasi itu dijadikan tempat berkumpul karena jauh dari pusat kericuhan.

Relawan dan PMI segera memberikan pertolongan pertama kepada massa yang terluka. Sayangnya perlengkapan medis dan obat-obatan terbatas. Persediaan air pun menyusut.

Balasan cuitan Alfa direspons Ananda: “Air + oksigen senilai 3 juta sedang dalam perjalanan menuju Semanggi."

Tak berapa lama, mobil ambulans tiba di Bundaran Semanggi, membawa minum dan obat-obatan. Juga mengangkut mahasiswa yang semaput ke rumah sakit.

Tak jauh dari Bundaran Semanggi, Dio tengah mengindari serangan polisi. Ia terjebak di antara fly over Senayan dan Bundaran Semanggi. Sisi utara Jalan Gatot Subroto ke arah gedung DPR sudah ditutup. Polisi bergerak dari arah itu menghampiri mahasiswa di sisi selatan jembatan layang Senayan.

Polisi berkali-kali menembakkan gas air mata. Serangan itu dilakukan sejak pukul setengah tujuh malam. Mahasiswa hanya bisa memperlambat laju barakuda dan rombongan polisi dengan membakar kardus di jalan. Sesekali mereka membalas serangan polisi dengan lemparan batu.

Ketika terpojok dan kehabisan tenaga, massa meminta polisi berhenti menyerang. Tapi, polisi tak menggubrisnya. Polisi tetap menembakkan gas air mata.

Para mahasiswa yang tumbang lantas diangkut dengan sepeda motor lalu dibawa menjauh ke arah Bundaran Semanggi. Di sana, ambulans dan medis yang dikirim Ananda sudah siaga.

Sekitar pukul delapan malam, massa yang lain memilih menyelamatkan diri ke area JCC lewat pintu 8. Dio ikut masuk. Ia melihat ada banyak mahasiswa yang kelelahan. Ia membuka Twitter dan membaca cuitan Ananda dan membalasnya: “Bawah JPO gerbang 8. Polisi udah sampe situ."


Kisah Faisal Amir

Menjelang pukul setengah sembilan malam, Ananda kembali mencuit: "Tambahan 2 ambulans sudah dipesan untuk menuju ke GBK.”

Cuitan itu dibalas oleh Chiesaputra A. Fahad, empat menit kemudian: “Assalamualaiakum, Kak. Mungkin Kak Ananda bisa bantu teman saya di Pelni. Kondisi pendarahan bernama Faisal Amir dari Universitas Al-Azhar angkatan 2016 Fakultas Hukum."

Saat itu sejumlah mahasiswa berada di Kampus Al-Azhar Indonesia, salah satu posko peserta aksi. Sementara Faisal sedang kritis di Rumah Sakit Pelni karena kepalanya bocor saat aksi di depan DPR.

Peristiwa itu terjadi tak lama setelah polisi melepaskan tembakan gas air mata. Serangan itu membuat mahasiswa lari ke arah Bundaran Semanggi. Faisal, berada di garis depan, tiba-tiba jatuh. Sesuatu menghantam kepalanya hingga bocor.

Iman Setiawan, salah seorang demonstran dari kampus lain, melihat Faisal ambruk dan langsung menolong. Mahasiswa lain ikut membopong Faisal dan memberinya minum. Namun, Faisal tak sadarkan diri. Iman bisa mengenali asal kampus Faisal dari jas almamater. Faisal segera dilarikan ke Rumah Sakit Pelni.

Kabar kondisi Faisal itu diterima Ananda. Lewat tengah malam, ia kembali mengunggah cuitan:

“Ada kemungkinan kanal donasi di KitaBisa.com dibuka lagi karena ada beberapa teman mahasiswa terluka parah (kepala bocor) dan harus segera operasi. Kepastiannya nanti saya kabari."

Esok harinya, Ananda menghubungi keluarga Faisal dan menerima kabar bahwa Faisal berhasil dioperasi dan melewati masa kritis. Faisal, cuit Ananda, "sekarang sedang persiapan operasi bahu."

"Mari doakan beliau cepat pulih. Ada kemungkinan kitabisa.com dibuka lagi dan Faisal jadi prioritas.”



Bergerak Bersama di Media Sosial
Bergerak Bersama di Media Sosial

Dana dan Cerita dari Ambulans

Sebelum demo besar-besar mahasiswa digelar di DPR, Ananda sudah berinisiatif menggalang dana publik untuk aksi pada 23 dan 24 September 2019. Ia membuat donasi di platform crowdfunding kitabisa.com dengan target donasi Rp50juta.

Sumbangan donasi melonjak melebihi target menjadi Rp175 juta selama empat hari terakhir. Uang itu lantas digunakan untuk menyewa 20 ambulans serta tenaga medis, pembelian air dan konsumsi untuk para mahasiswa.

“Aku memang bikin donasi di kitabisa.com untuk membantu aksi mahasiswa. Ini untuk kebutuhan sewa ambulans, konsumsi. Enggak kepikiran juga jadi banyak sekali yang mau ikut menyumbang,” kata Ananda kepada Tirto.

Ananda mengunggah laporan penggunaan dana via akun Twitter dia. Bukti pembayaran berupa nota atau kuitansi tulis tangan dilampirkan. Sampai Rabu kemarin, 25 September, sisa uang tinggal sekitar Rp40 jutaan.

Penggalangan dana ini hanya satu bagian dari banyak hal yang dikerjakan oleh Ananda. Ia bersama teman-temannya menggunakan Twitter untuk berbagi informasi terkait aksi mahasiswa. Dari lokasi aman, titik jemput ambulans, pengiriman air dan obat-obatan, hingga informasi orang hilang.

Sayangnya, aksi kemanusiaan yang digalang oleh Ananda ini dihalang-halangi oleh polisi.

Pada 25 September menjelang tengah malam, Ananda mencuit: "Jika kamu menyaksikan kepolisian menghalangi/mempersulit kerja ambulans/tim medis di lapangan saat aksi, bisa ceritakan di bawah ini. Kalau ada video & foto lebih bagus.”

Cuitan itu dibalas oleh Hamada, seorang petugas medis di ambulans.

“Mohon maaf kepada teman-teman aksi, kebetulan tim dari kesehatan semua sudah ditarik mundur. Ini semua demi keselamatan kami, dan menjauhkan hal-hal yg tidak diinginkan, misalnya fitnah. Kita ambulans pelat merah murni tugas kemanusiaan. Kami bersifat netral untuk semua.”

Penghentian aktivitas ambulans itu lantaran informasi sesat yang disebarkan oleh akun @TMCPoldaMetro yang menuding ambulans dipakai untuk "mengangkut batu dan bensin".

"02:14 Polri amankan 5 kendaraan ambulans milik Pemprov DKI Jakarta yang digunakan untuk mengangkut batu dan bensin yang diduga untuk molotov di dekat Gardu Tol Pejompongan Jl. Gatot Subroto," tulis akun @TMCPoldaMetro.

Namun, tak berselang lama, cuitan itu dihapus.

Hamada kembali mencuit, “Alhamdulillah, postingan yg menyudutkan kami sudah dihapus oleh akun resminya. Ini bukan pencitraan. Hanya dokumentasi saja.

Siapa tau ada yang lihat petugas bawa-bawa batu di tangannya, monggo dilihat. #IndonesiaKuDamai #MahasiswaBergerak #medis #ambulansgawatdaruratDKIjkt."

Baca juga artikel terkait DEMO DPR atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Politik)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight