Reformasi Dikorupsi: Bentrok Polisi dan Demonstran di DPR

Oleh: Felix Nathaniel , Reja Hidayat, Haris Prabowo - 26 September 2019
Dibaca Normal 5 menit
Bentrokan dua hari antara polisi dan mahasiswa-pelajar tak terhindarkan di areal dekat gedung DPR.
tirto.id - Di depan gedung DPR, dibatasi pagar, Selasa siang kemarin, amarah memuncak. Di barisan depan demonstran—ribuan mahasiswa dan warga sipil—melempar botol plastik kosong. Di seberang mereka adalah barisan polisi. Saat situasi memanas, orator demo mewanti-wanti agar massa tidak rusuh.

Dari atas mobil komando si orator mengatakan Ketua DPR Bambang Soesatyo akan menemui mereka pada pukul empat sore. Amuk massa agak mereda.

Namun, sampai pukul empat sore, Bamsoet tak kunjung datang di depan gedung DPR/MPR. Si orator mengambil sikap. Ia meminta massa perempuan mundur. Itu adalah tanda massa siap bertempur.

Aba-aba itu dibarengi sorakan massa makin nyaring. Mereka mulai melempar botol dan batu ke arah gerbang utama DPR. Pagar di tembok sekitar gerbang utama digoyang-goyang.

Di balik pagar, polisi bersiap diri. Helm dan rompi sudah dipakai. Sameng sudah di tangan. Meriam air sudah menghadap ke massa yang melempari polisi dengan batu.

Sejurus kemudian, meriam air menyemproti mahasiswa, yang mencoba memanjat gerbang utama. Tembakan gas air mata dilepaskan oleh polisi. Tapi, sebelum massa bubar karena gas air mata, massa sudah berhasil merobohkan pagar. Polisi buru-buru mendekat ke pagar agar tak ada massa yang masuk ke areal halaman gedung DPR.

Saat itu, massa sudah bergerak ke sisi lain. Mereka menggoyang pagar sebelahnya hingga roboh. Polisi membalas dengan gas air mata. Sialnya, arah angin membuat gas air mata itu tertiup balik ke arah polisi.

Massa yang terus kembali meski diberondong gas air mata membuat polisi kelabakan mengamankan sekitar gedung DPR.

Kapolres Jakarta Pusat Kombes Harry Kurniawan memutuskan membuka satu dari dua gerbang utama dan mengeluarkan pasukan dari sana. Di belakang barisan polisi, terlihat marinir TNI mengenakan atribut lengkap.

Konsentrasi Demonstran Terpecah

Serangan polisi membuat konsentrasi massa terpecah di tiga lokasi: jembatan menuju Slipi, jalan tol dan seberang gedung DPR, serta jalan ke arah Semanggi. Dari depan gedung DPR, terlihat sejumlah titik api yang dibuat massa.

Salah satu yang terparah adalah di jalan tol. Asap hitam pekat dari ban yang dibakar membumbung sampai ke jembatan penyeberangan. Bau asap ban bercampur sisa gas air mata menusuk hidung.

Massa dari arah Slipi terlihat bertahan meski berhadapan dengan polisi. Sebagian besar adalah mahasiswa Universitas Trisakti dan Universitas Negeri Jakarta.

Namun, saat beranjak pergi, kericuhan pecah. Massa melempari polisi, yang bergerak ke arah mereka, dengan batu. Massa bertambah dari arah stasiun Palmerah. Pos polisi di dekat jembatan layang Slipi dibakar.

Sementara massa di seberang DPR dan jalan tol masih bertarung dengan polisi. Polisi menembakkan gas air mata. Dibalas lemparan batu. Begitu terus sampai polisi marengsek dan membuat massa kabur. Sebagian ke arah Pejompongan, selebihnya ke arah Semanggi. Namun, sebelum pecah, massa sudah membakar gerbang tol Pejompongan.

Di sisi selatan, arah Semanggi, massa membakar ban di jalan. Mencoba menghentikan laju barakuda polisi. Adu mulut. Lemparan batu dan molotov. Tembakan gas air mata.

Massa buyar setelah polisi bertubi-tubi melepaskan tembakan gas air mata. Sebagian ke arah jalan Gerbang Pemuda, sebagian lagi ke arah Pejompongan, lainnya ke arah Semanggi.

Gempuran di Pintu Belakang

Saling serang antara Polisi dan Mahasiswa tak cuma terjadi di pintu depan gedung DPR. Di pintu belakang, Jalan Gelora, massa dan polisi berseteru.

Sebagian besar massa di pintu belakang gedung DPR adalah mahasiswa Universitas Pamulang, Unindra, Universitas Mercu Buana, Universitas Bhayangkara, dan Universitas Indonesia.

Sejak setengah lima sore, mahasiswa sudah mulai melempari botol air kemasan ke arah polisi. Mereka juga mendorong pagar pintu belakang hingga roboh. Kericuhan pecah. Polisi menembakkan gas air mata. Massa terburai. Sebagian mundur ke arah pertigaan lampu lalu lintas Stasiun Palmerah.

Nauval, salah satu mahasiswa, berkata perobohan pagar belakang gedung DPR karena permintaan demonstran untuk bertemu anggota Dewan tak digubris. Dia kesal dengan sikap DPR yang menunda pengesahan RKUHP karena tidak menyelesaikan masalah.

“Kalau tiba-tiba [paripurna] berikutnya disahin, gimana? Mending sekarang kita total. Ini momentum,” alibinya.

Mahasiswa yang semula mundur, maju lagi ke pintu gerbang, lalu membakar ban. Rombongan mahasiswa yang semula di pintu depan, menyusul ke belakang membantu kawan-kawannya.

Polisi membalas. Mereka kembali menumpahkan tembakan air mata di dekat lampu merah Stasiun Palmerah. Akibatnya, warga sekitar jadi sasaran serangan gas air mata.

Serangan itu membuat mahasiswa terpecah. Sebagian ke arah TVRI, sebagian lagi ke arah Stasiun Palmerah.

Di dekat gedung TVRI, kelompok massa lain dipukul mundur dari pintu depan DPR. Mendekati pukul delapan malam, mereka membakar pos polisi di pertigaan Hotel Mulia.

Bentrok Polisi dan Mahasiswa di sekitar DPR. tirto.id/Lugas
Bentrok Polisi dan Mahasiswa di sekitar DPR. tirto.id/Lugas

Serangan Gas Air Mata di Stasiun Palmerah

Di sekitar Stasiun Palmerah, massa meminta polisi untuk menghentikan tembakan gas air mata. Namun, polisi tidak menggubrisnya.

Selama dua jam mengepung stasiun, polisi menembakkan delapan gas air mata ke arah stasiun; dua tembakan di belakang pagar peron 2; dua gas air mata di rel peron 1; satu tembakan ke jembatan penyeberangan stasiun; satu tembakan di atap stasiun; dua lagi ke lantai dua stasiun tapi salah satu tembakannya meleset.

Dewi Nurita, pegawai swasta, menjadi korban gas air mata. Saat itu ia baru tiba di Stasiun Palmerah. Ia melihat di depannya, banyak mahasiswa yang akan pulang setelah aksi. Tiba-tiba, tiga tembakan gas air mata mendarat di dekatnya berdiri.

Ia terbatuk-batuk. Hampir menangis. Gas air mata bikin matanya pedih.

“Hampir mati gue,” kata Dewi.

Tembakan itu membuat banyak warga di dalam stasiun susah payah menyelamatkan diri. Ada yang pingsan dan sesak nafas. Ada yang berusaha keluar dari stasiun.

Sejak pukul setengah sebelas malam, massa mahasiswa mulai membubarkan diri. Setelahnya, massa sudah bercampur. Sebagian besar berasal dari warga sekitar. Mereka bertahan hingga pukul dua pagi.

Selama lima jam, pertigaan lampu merah Stasiun Palmerah menjadi titik serangan.

Sepanjang bentrokan antara polisi dan massa itu, sedikitnya ada 15 kendaraan yang terbakar. Empat di dekat Pasar Palmerah. Enam di pertigaan Palmerah. Lima di dalam pos polisi Palmerah.

Seorang pria berwajah cemas mendatangi saya di pertigaan tersebut. “Dari media? Bisa tolong bantu gue?”

Pria bernama Anka yang bekerja di salah satu pusat perbelanjaan di Senayan itu mengaku baru pulang dari kencan bersama kekasihnya. Namun, ketika pulang, motornya dicegat oleh polisi karena ada bentrokan di pertigaan Stasiun Palmerah.

Ia memilih mencari tempat aman dan meninggalkan motor. Nahas, ketika kembali, dia mendapati motornya sudah hangus.

“Motor gue ada di situ,” katanya menunjuk bangkai motor yang hitam legam.



Kembali Terulang Esok Harinya: Aksi 'STM Melawan'

Peristiwa kekerasan di lokasi yang sama kembali berulang pada esok harinya saat para pelajar sekolah teknik menengah dan sekolah menengah atas mendatangi gedung DPR.

Sejak Rabu siang kemarin, gelombang pelajar menuju arah depan gedung DPR di Jalan Gatot Subroto dihalang-halangi oleh pasukan polisi Indonesia. Ada yang diblokade oleh polisi di area Semanggi. Ada juga yang dicegat di depan Polda Metro Jaya. Sampai siang itu, ada sekitar 200 pelajar yang ditangkapi polisi.

Para pelajar lebih keras melawan tindakan berlebihan polisi. Video-video yang beredar di media sosial merekam perlawanan itu.

Satu video menggambarkan polisi menyetop pelajar di atas motor, lalu menendanginya, lalu teman-teman pelajar itu melawan balik dengan menendang, memukul, dan menyerbu hingga beberapa polisi lari tunggang langgang.

Satu video lain memperlihatkan para pelajar kegirangan saat disiram meriam air. Video lain menunjukkan gelombang pelajar memenuhi badan jalan, berderap dan berteriak-teriak. Satu poster dari foto yang mengabadikan demonstrasi para pelajar ini menggambarkan semacam sikap dan psike aksi menyeluruh sepanjang hari kemarin: Mahasiswa Orasi, Pelajar Eksekusi.

Psike itulah yang mengeras dalam satu bentrokan panas di sekitar areal dekat gedung DPR pada malam harinya.

Menyulut kemarahan warga akibat polisi menembakkan gas air mata secara sembarangan di wilayah Palmerah, massa berbondong-bondong berkerumun di rel kereta api di Jalan Tentara Pelajar pada pukul setengah delapan malam.

Di hadapan mereka, barikade pasukan tempur Brigade Mobil polisi dengan tameng dan helm menutup Jalan Gelora. Sesekali pasukan Brimob menembakkan gas air mata untuk membubarkan titik-titik massa.

Di halaman DPR, puluhan anggota Brimob masih menunggu. Pada pukul delapan malam, Kapolres Jakarta Pusat Harry Kurniawan mengerahkan pasukan Brimob itu untuk memukul mundur massa. Puluhan Brimob dan intel keluar dari area DPR melewati pintu pejalan kaki.


Massa menyebar ke arah Bendungan Hilir, ke arah Bentara Budaya Jakarta, dan ke arah Pasar Palmerah. Pasukan Brimob bergantian menguasai badan rel kereta api di Jalan Tentara Pelajar.

Beberapa kali massa itu melempari polisi dengan batu dan botol kaca. Badan jalan berserakan pecahan beling, batu, gas air mata, dan bekas-bekas yang terbakar. Beberapa kali polisi-polisi melakukan penyisiran.

Menjelang jam sembilan malam, puluhan polisi dan intel menangkap 14 orang yang mereka duga sebagai "massa perusuh", yang bersembunyi di sekitar Bentara Budaya Jakarta. Wartawan Tirto hanya bisa melihat pelan-pelan sembari seolah-olah mengaku sebagai bagian dari intel.

Mereka ditangkap satu per satu. Baju dan celana dilucuti, hanya menyisakan celana dalam. Polisi-polisi dan intel melayangkan bogem mentah. Mereka dikumpulkan di satu titik sembari menunggu mobil tahanan datang.

Tak lama berselang, ada satu orang diciduk dan dituding sebagai bagian dari massa. Tapi, lelaki itu menepis dan mengaku sebagai wartawan.

"Pak, saya wartawan. Jangan pukul-pukul. Profesional, dong," katanya.

Lelaki itu mengenakan kaus dengan tulisan Kompas.id dibalut jaket.

Namun, polisi-polisi itu tidak percaya begitu saja dan memukulinya. Tasnya dibongkar. Keyboard portabelnya dikeluarkan dari tas.

Si lelaki itu berteriak dan melawan. Ia berkata polisi jangan berlaku kasar kepada wartawan. Ia tidak terima keyboardnya dilempar ke jalanan.

Wartawan Tirto berusaha melerai sembari berkata kepada polisi bahwa kami adalah jurnalis. (Kami masih mengecek identitas si wartawan tersebut.)


Sementara dari kejadian di lokasi yang sama, beberapa saat sebelumnya, sepeda motor milik Putera Negara, jurnalis media daring Okezone.com, dibakar massa di pintu belakang Kompleks Parleman. Diparkir di Pos Polisi Palmerah karena keburu ada bentrokan, motornya terbakar setelah para pelajar berusaha memasuki Kompleks DPR lewat pintu pejalan kaki.

"Saya mencoba menyelamatkan diri karena panik massa sudah melemparkan batu dan barang lain,” kata Putera.

Baca juga artikel terkait DEMO MAHASISWA atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel , Reja Hidayat & Haris Prabowo
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Reja Hidayat, Felix Nathaniel & Haris Prabowo
Penulis: Felix Nathaniel , Reja Hidayat & Haris Prabowo
Editor: Mawa Kresna
Artikel Lanjutan
DarkLight