tirto.id - Ada banyak contoh khutbah Jumat keteladanan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Contoh khutbah dapat disampaikan di pelaksanaan shalat Jumat sebelum Hari Raya Iduladha.
Umat Islam dianjurkan mengambil nilai-nilai teladan dari para nabi dan rasul. Menjelang Iduladha, salah satu nabi yang dapat diteladani adalah Nabi Ibrahim As.
Tidak hanya Nabi Ibrahim As, bahkan keluarganya meliputi Siti Hajar dan Nabi Ismail As, turut mendukung perintah dari Allah Swt.
Contoh Khutbah Jumat Keteladanan Nabi Ibrahim & Keluarganya
Sikap dan perilaku yang dapat diteladani dari Nabi Ibrahim dan keluarganya seperti senantiasa patuh, ikhlas hingga meninggalkan prasangka buruk.Berikut ini beberapa contoh khutbah Jumat keteladanan Nabi Ibrahim dan keluarganya:
1. Khutbah Jumat Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim
Bismillaahirrahmaanirrahiim..Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
لْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ
اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Alhamdulillah. Kita dapat berkumpul hari ini, Jumat, ............... dalam majelis salat dan khotbah Jumat yang insyaallah dipenuhi rahmat Allah Swt.
Selawat dan salam Allah semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad Saw, sosok uswatun-hasanah yang membawa kita dari zaman kegelapan menuju masa yang terang benderang.
Hadirin kaum muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,
Khatib memulai khotbah memulai dengan berwasiat kepada diri sendiri maupun jemaah sekali untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Swt. Sebab sebaik-baiknya orang beriman adalah mereka yang senantiasa bertakwa kepada Allah, menjalankan perintah dan menjauhi segala laranganNya.
Dalam kesempatan ini, khatib akan menyampaikan khotbah seputar meneladani keluarga Nabi Ibrahim.
Hadirin kaum muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,
Di bulan Zulhijah, terdapat banyak amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan, salah satunya kurban. Berkurban adalah ibadah menyembelih hewan kurban yang memenuhi ketentuan tertentu pada Hari Raya Iduladha (10 Zulhijah) dan hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah).
Hukum pelaksanaan ibadah tersebut sunah muakadah begitu dianjurkan ditunaikan umat Islam terutama yang memiliki kelapangan rezeki. Allah Swt. sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Al-Kautsar ayat 1 – 3 sebagai berikut:
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ
Arab Latinnya:
Innā a‘ṭainākal-kauṡar(a). Faṣalli lirabbika wanḥar. Inna syāni'aka huwal-abtar(u).
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah memberimu [Nabi Muhammad] nikmat yang banyak. Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah! Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus [dari rahmat Allah],” (QS. Al-Kautsar [108]: 1-3).
Hadirin kaum muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,
Pensyariatan ibadah kurban tidak dapat dilepaskan dari contoh yang dilakukan keluarga Nabi Ibrahim. Sebenarnya tidak hanya ibadah kurban, banyak teladan dari keluarga Nabi Ibrahim yang dapat ditiru kaum muslim.
Pertama, Nabi Ibrahim As. pernah diperintahkan Allah Swt. untuk menempatkan istrinya, Siti Hajar bersama putranya, Nabi Ismail As. di sebuah lembah yang sunyi dan sepi. Nabi Ibrahim As. tidak mengetahui maksud wahyu Allah Swt. tersebut.
Kendati demikian, kepatuhan dan ketakwaan Nabi Ibrahim atas perintah Allah Swt. membuatnya rela berkorban menempatkan anak dan istrinya di sebuah lembah yang gersang dan tandus. Bahkan Siti Hajar mendukung wahyu yang diberikan kepada suaminya dengan ikhlas dan tawakal. Padahal Nabi Ismail As. waktu itu masih menyusu.
Diperkirakan lembah yang dimaksud terletak di sebelah utara palestina sekitar 1600 Km. Peristiwa Nabi Ismail dan Siti Hajar di tempatkan di lembah termuat dalam firman Allah Swt. Surah Al-Ibrahim ayat 37 sebagai berikut:
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ
Arab Latinnya:
Rabbanā innī askantu min żurriyyatī biwādin gairi żī zar‘in ‘inda baitikal-muḥarram(i), rabbanā liyuqīmuṣ-ṣalāta faj‘al af'idatam minan-nāsi tahwī ilaihim warzuqhum minaṡ-ṡamarāti la‘allahum yasykurūn(a).
Artinya:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya [dan berada] di sisi rumah-Mu [Baitullah] yang dihormati. Ya Tuhan kami, [demikian itu kami lakukan] agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur,” (Al-Ibrahim [14]: 37).
Hadirin kaum muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,
Setelah ditempatkan di lembah, Siti Hajar suatu ketika kehabisan air minum hingga tidak dapat menyusui Nabi Ismail As. Demi mendapatkan air, Siti Hajar berlari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Shafa dan Maruah. Allah Swt. kemudian mengurus Malaikat Jibril membuat mata air Zam-Zam.
Tidak hanya menghilangkan dahaga Siti Hajar, mata air Zam-Zam membuat wilayah sekitar menjadi tidak gersang. Maka dari itu, lembah tandus berubah menjadi wilayah makmur yang mendorong para pedagang datang untuk membeli air ke Siti Hajar dan Nabi Ismail As.
Kedua, Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail As. Tidak menolakan sedikit pun, Nabi Ismail As. justru menyetujui perintah Allah Swt. supaya Nabi Ibrahim menyembelih dirinya.
Kemudian tepat 10 Zulhijah sewaktu Nabi Ismail As. berusia 7 tahun (ada yang berpendapat 13 tahun), Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah Swt. Berkat rahmat dan kasih sayang Allah SWT, Ismail tidak jadi dikurbankan.
Saat Ibrahim hendak menyembelih putranya, Allah Swt. mengganti Ismail dengan seekor domba. Peristiwa Nabi Ibrahim menyembelih Ismail termuat dalam firman Allah SWT Surah As-Saffat ayat 102-107 sebagai berikut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ
Arab Latinnya:
Falammā balaga ma‘ahus-sa‘ya qāla yā bunayya innī arā fil-manāmi annī ażbaḥuka fanẓur māżā tarā, qāla yā abatif‘al mā tu'mar(u), satajidunī in syā'allāhu minaṣ-ṣābirīn(a). Falammā aslamā wa tallahū lil-jabīn(i). Wa nādaināhu ay yā ibrāhīm(u). Qad ṣaddaqtar-ru'yā, innā każālika najzil-muḥsinīn(a). Inna hāżā lahuwal-balā'ul-mubīn(u). Wa fadaināhu biżibḥin ‘aẓīm(in).
Artinya:
“Ketika anak itu sampai pada [umur] ia sanggup bekerja bersamanya, ia [Ibrahim] berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?' Dia [Ismail] menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan [Allah] kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.'
Ketika keduanya telah berserah diri dan dia [Ibrahim] meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan [untuk melaksanakan perintah Allah], Kami memanggil dia, 'Wahai Ibrahim, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menebusnya dengan seekor [hewan] sembelihan yang besar,” (QS. As-Saffat [37]: 102-107).
Hadirin kaum muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,
Keluarga Nabi Ibrahim As. memberikan teladan kepada kita bahwa Allah Swt. memberikan perintah tidak semata-mata untuk mencelakakan makhlukNya. Terdapat berbagai hikmah dibalik suatu kejadian yang menimpa kehidupan kita.
Pertama, kita harus selalu ikhlas atas segala yang terjadi sebab semuanya adalah milik Allah Swt. Kedua, sebagai seorang muslim sudah sepatutnya senantiasa bertakwa dan mematuhi segala perintah Allah Swt.
Demikianlah khotbah seputar meneladani keluarga Nabi Ibrahim As. Semoga apa yang telah disampaikan memberikan kebermanfaatan bagi khatib maupun jemaah sekalian. Terlebih Allah Swt. menjadi rida atas segala amalan yang kita perbuat. Aamiin allahumma aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
Khutbah II
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الصَّادِقِ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ، وَعَلٰى إِخْوَانِهِ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَارْضَ اللهم عَنْ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَآلِ الْبَيْتِ الطَّاهِرِيْنَ، وَعَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الْأَئِمَّةِ الْمُهْتَدِيْنَ، أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَعَنِ الْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَاتَّقُوْهُ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلٰى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَاتَّقُوْهُ يَجْعَلْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مَخْرَجًا، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
2. Khutbah Jumat Meneladani Nabi Ibrahim
Pendahuluan.....Jemaah salat dan khutbah Jumat rahimakumullah,
Ada banyak rasul dan nabi yang diturunkan oleh Allah Swt kepada umat manusia. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan, Allah Swt. memiliki 313 rasul dan 124 ribu nabi.
Terlepas dari jumlah nabi dan rasul, salah satu anbia yang dianjurkan untuk dijadikan teladan adalah Nabi Ibrahim As. Allah Swt. bahkan memerintahkan Nabi Muhammad Saw. untuk banyak mengenang jasa-jasa Nabi Ibrahim As.
Jemaah salat dan khutbah Jumat rahimakumullah,
Keteladanan pertama yang dicontohkan Nabi Ibrahim As adalah keberanian untuk mereformasi keyakinan masyarakat dan penguasa dari menyembah materi, benda, dan berhala menjadi kepada Allah Swt. Tak hanya berani, Nabi Ibrahim juga menyampaikan dengan santun, terutama kepada ayahnya. Hal ini diceritakan dalam Surah Maryam ayat 41-47 sebagai berikut:
وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِبْرٰهِيْمَ ەۗ اِنَّهٗ كَانَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا
اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـًٔا
يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ قَدْ جَاۤءَنِيْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِيْٓ اَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا
يٰٓاَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطٰنَۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلرَّحْمٰنِ عَصِيًّا
يٰٓاَبَتِ اِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يَّمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطٰنِ وَلِيًّا
Arab Latinnya:
Ważkur fil-kitābi ibrāhīm(a), innahū kāna ṣiddīqan nabiyyā(n). Iż qāla li'abīhi yā abati lima ta‘budu mā lā yasma‘u wa lā yubṣiru wa lā yugnī ‘anka syai'ā(n). Yā abati innī qad jā'anī minal-‘ilmi mā lam ya'tika fattabi‘nī ahdika ṣirāṭan sawiyyā(n). Yā abati lā ta‘budisy-syaiṭān(a), innasy-syaiṭāna kāna lir-raḥmāni ‘aṣiyyā(n). Yā abati innī akhāfu ay yamassaka ‘ażābum minar-raḥmāni fa takūna lisy-syaiṭāni waliyyā(n). Qāla arāgibun anta ‘an ālihatī yā ibrāhīm(u), la'illam tantahi la'arjumannaka wahjurnī maliyyā(n).
Artinya:
"Ceritakanlah [Nabi Muhammad, kisah] Ibrahim di dalam Kitab [Al-Qur’an]! Sesungguhnya, dia adalah seorang yang sangat benar dan membenarkan lagi seorang nabi. Ketika dia [Ibrahim] berkata kepada bapaknya, “Wahai Bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak pula bermanfaat kepadamu sedikit pun? Wahai Bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu yang tidak datang kepadamu. Ikutilah aku, niscaya aku tunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai Bapakku, janganlah menyembah setan! Sesungguhnya setan itu sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
Wahai Bapakku, sesungguhnya aku takut azab dari [Tuhan] Yang Maha Pemurah menimpamu sehingga engkau menjadi teman setan.” Dia [bapaknya] berkata, “Apakah kamu membenci tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika tidak berhenti [mencela tuhan yang kusembah], engkau pasti akan kurajam. Tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama,” (QS. Maryam [19]: 41-46).
Jemaah salat dan khutbah Jumat rahimakumullah,
Keteladanan kedua yang dapat dicontoh dari Nabi Ibrahim adalah kerelaan dan kesabaran untuk menyembelih Nabi Ismail atas perintah Allah Swt. Peristiwa ini juga menjadi teladan disyariatkannya ibadah kurban kepada umat Islam.
Contoh teladan ketiga dan terakhir dari Nabi Ibrahim adalah kepatuhan atas perintah Allah Swt. untuk merekonstruksi Ka'bah. Baitullah adalah kiblat sekaligus tempat untuk umat Islam menjalankan ibadah haji.
Jemaah salat dan khutbah Jumat rahimakumullah,
Demikianlah khutbah Jumat tentang meneladani Nabi Ibrahim As. Semoga kita dapat mencontoh keberanian, kesabaran, dan ketaatan Nabi Ibrahim As. kepada Allah Swt. Amiin amiin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
Khutbah Kedua...
3. Khutbah Idul Adha Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim
Pendahuluan...Allahu Akbar (3x) walillahilhamdu,
Jemaah salat dan khutbah Iduladha rahimakumullah,
Nabi Ibrahim As. memiliki anggota keluarga yang saleh seperti Siti Hajar, Siti Sarah, Nabi Ismail, dan Nabi Ishak. Kesalehan keluarga Nabi Ibrahim patut untuk dipelajari dan diteladani umat Islam.
Nabi Ibrahim adalah suri teladan yang baik, dibuktikan dengan gelarnya yang banyak mulai ululazmi, khalilullah hingga abu ambia. Hal ini juga ditegaskan dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 4 sebagai berikut:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰۤؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاۤءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗٓ اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ لَاَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ اَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
Arab Latinnya:
Qad kānat lakum uswatun ḥasanatun fī ibrāhīma wal-lażīna ma‘ah(ū), iż qālū liqaumihim innā bura'ā'u minkum wa mimmā ta‘budūna min dūnillāh(i), kafarnā bikum wa badā bainanā wa bainakumul-‘adāwatu wal-bagḍā'u abadan ḥattā tu'minū billāhi waḥdahū illā qaula ibrāhīma li'abīhi la'astagfiranna laka wa mā amliku laka minallāhi min syai'(in), rabbanā ‘alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr(u).
Artinya:
"Sungguh, benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu pada [diri] Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaumnya, 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami mengingkari [kekufuran]-mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.' Akan tetapi, [janganlah engkau teladani] perkataan Ibrahim kepada ayahnya, 'Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, tetapi aku sama sekali tidak dapat menolak [siksaan] Allah terhadapmu.' [Ibrahim berkata,] 'Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal, hanya kepada Engkau kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,'" (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4).
Jemaah salat dan khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Istri Nabi Ibrahim, Siti Hajar adalah seorang ibu yang sabar dalam mendidik anaknya, sekalipun ditinggalkan di tanah yang gersang dan tandus. Tak hanya itu, Siti Maryam memberikan dorongan kepada suami untuk taat kepada perintah Allah Swt.
Allahu Akbar (3x) walillahilhamdu,
Jemaah salat dan khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Di sisi lain, anak Nabi Ibrahim, yakni Nabi Ismail dikenal sebagai seorang yang taat kepada perintah Allah Swt. Bahkan ketika Nabi Ibrahim datang dengan perintah dari Allah Swt. untuk menyembelihnya, Nabi Ismail langsung setuju. Kisah ini dijelaskan dalam Surah As-Saffat ayat 102-107 sebagai berikut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ
Arab Latinnya:
Falammā balaga ma‘ahus-sa‘ya qāla yā bunayya innī arā fil-manāmi annī ażbaḥuka fanẓur māżā tarā, qāla yā abatif‘al mā tu'mar(u), satajidunī in syā'allāhu minaṣ-ṣābirīn(a). Falammā aslamā wa tallahū lil-jabīn(i). Wa nādaināhu ay yā ibrāhīm(u). Qad ṣaddaqtar-ru'yā, innā każālika najzil-muḥsinīn(a). Inna hāżā lahuwal-balā'ul-mubīn(u). Wa fadaināhu biżibḥin ‘aẓīm(in).
Artinya:
"Ketika anak itu sampai pada [umur] ia sanggup bekerja bersamanya, ia [Ibrahim] berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?' Dia [Ismail] menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan [Allah] kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar,".
Ketika keduanya telah berserah diri dan dia [Ibrahim] meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan [untuk melaksanakan perintah Allah], Kami memanggil dia, 'Wahai Ibrahim, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya, ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menebusnya dengan seekor [hewan] sembelihan yang besar,” (QS. As-Saffat [37]: 102-107).
Allahu Akbar (3x) walillahilhamdu,
Jemaah salat dan khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Demikian khutbah tentang keteladanan keluarga Nabi Ibrahim. Semoga kita dapat mencontoh kesabaran dan ketaatan mereka kepada Allah Swt. Amiin amiin ya rabbal alamin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua...
Editor: Yulaika Ramadhani
Penyelaras: Syamsul Dwi Maarif
Masuk tirto.id




































