tirto.id - Sampah elektronik, atau yang sering disebut dengan e-waste, adalah limbah yang berasal dari peralatan elektronik yang sudah tidak digunakan atau rusak. Contohnya termasuk handphone, laptop, televisi, kulkas, charger, baterai, dan berbagai perangkat elektronik lainnya.
Seiring perkembangan teknologi yang begitu cepat, banyak perangkat elektronik menjadi usang hanya dalam hitungan tahun, bahkan bulan. Perangkat yang rusak ini akhirnya dibuang begitu saja.
Hal ini karena tidak semua orang menyadari bahwa sampah elektronik memiliki kandungan bahan kimia yang berbahaya dan dapat merusak lingkungan jika tidak dikelola dengan benar.
Sampah elektronik mengandung berbagai zat beracun seperti merkuri, timbal, kadmium, dan bahan kimia lainnya. Jika dibuang sembarangan ke tempat pembuangan akhir (TPA), zat beracun tersebut dapat mencemari tanah, air, dan udara.
Karena itu, sampah elektronik dikategorikan sebagai limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) yang pengelolaannya harus mengikuti aturan khusus. Membuangnya secara sembarangan bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga berisiko melanggar hukum.
Contoh Sampah Elektronik 
Ilustrasi Handphone rusak. FOTO/iStockphoto

Contoh sampah elektronik sangat beragam dan umumnya berasal dari peralatan yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-sehari. Sampah elektronik paling umum dan mudah dijumpai adalah handphone dan laptop yang sudah rusak maupun tidak terpakai.
Kedua perangkat tersebut memiliki komponen logam berat seperti timbal dan merkuri yang berbahaya jika dibuang sembarangan. Selain itu, salah satu kelengkapan dari kedua perangkat tersebut yaitu charger dan earphone yang tidak terpakai juga ikut memiliki zat beracun.
Contoh lainnya adalah peralatan rumah tangga elektronik, seperti kulkas, mesin cuci, televisi, blender, dan microwave. Peralatan ini biasanya memiliki masa pakai yang cukup panjang. Namun jika rusak atau diganti baru, benda-benda yang sudah tidak terpakai itu menjadi limbah.
Peralatan rumah tangga elektronik mengandung bahan pendingin, plastik keras, serta logam-logam yang memerlukan proses khusus dalam daur ulangnya agar tidak mencemari lingkungan.
Selain itu, terdapat komponen berukuran kecil, tapi cukup sering dibuang begitu saja, yaitu baterai bekas dan lampu neon. Baterai kecil sekalipun, misalnya baterai jam, baterai handphone, atau baterai remot, mengandung zat kimia berbahaya. Sementara lampu neon mengandung merkuri.
Tempat Pembuangan Sampah Elektronik E-Waste
Saat ini, provinsi DKI Jakarta memiliki program menyediakan tempat untuk mendaur ulange-waste. Program ini berada di bawah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta. Melalui perogram ini diharapkan adanya pengelolaan e-waste secara aman dan bertanggung jawab.
Program ini menyediakan fasilitas dropbox yang tersebar di beberapa halte Transjakarta, sehingga masyarakat dapat membuat sampah elektronik kecil seperti handphone, charge, atau baterai bekas dengan mudah dan terarah.
Selain dropbox yang tersebar pada halte Transjakarta, DLH DKI Jakarta juga menyediakan layanan jemput sampah elektronik gratis bagi warga yang memiliki e-waste dengan berat minimal 5 kilogram.
E-waste yang dapat dikelola oleh DLH DKI Jakarta, meliputi:
- Kabel-kabel yang telah rusak seperti charger dan earphone
- Handphone
- Kulkas
- Mesin cuci
- Kompor induksi
- Alat listrik atau elektronik lainnya
Sementara itu, dropbox e-waste tersebar di di halte Transjakarta berikut:
- Halte Kampung Melayu
- Halte Cawang Sentral
- Halte Pulo Gadung
- Halte Flyover Pramuka
- Halte Harmoni
- Halte Kota
- Halte Tegal Mampang
- Halte Blok M
- Halte Simpang Ragunan Ar-Raudhah
Dampak Sampah Elektronik
E-waste merupakan limbah berbahaya yang terus meningkat secara global dan menimbulkan berbagai risiko serius terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
Menurut Geneva Environment Network, e-waste mengandung zat-zat beracun seperti merkuri, timbal, kadmium, dan arsenik yang dapat mencemari tanah, air, udara, serta organisme hidup.
Paparan zat-zat ini dapat menyebabkan dampak kesehatan serius seperti kanker, keguguran, kerusakan saraf dan penurunan IQ. Berikut adalah dampak utama dari sampah elektronik:
- Pencemaran lingkungan: E-waste tidak dapat terurai secara hayati dan dapat mencemari tanah, air, dan udara jika tidak dikelola dengan benar.
- Risiko kesehatan: Paparan bahan kimia beracun dari e-waste dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius, termasuk gangguan neurologis dan kanker.
- Kehilangan sumber daya berharga: E-waste mengandung logam-logam langka dan berharga seperti neodymium, indium, dan kobalt. Jika tidak didaur ulang dengan benar, sumberdaya ini akan hilang dan menambah tekanan terhadap penambangan sumber daya alam baru.
Penulis: Dewi Sekar Pambayun
Editor: Elisabet Murni P
Masuk tirto.id




























