Menuju konten utama

10 Dongeng Islami Sebelum Tidur untuk Anak Singkat & Menarik

Simak 10 dongeng Islami anak sebelum tidur untuk anak yang singkat, menarik, dan mudah dipahami.

10 Dongeng Islami Sebelum Tidur untuk Anak Singkat & Menarik
Ilustrasi Islami. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Membacakan dongeng sebelum tidur menjadi salah satu cara orang tua menanamkan nilai moral kepada anak sejak dini. Melalui kisah-kisah bernuansa Islami, orang tua bisa menghibur sekaligus menyampaikan pesan ihwal kejujuran, empati, hingga keteguhan iman secara sederhana.

Dalam tradisi Islam, cerita penuh hikmah atau ibrah kerap dipakai sebagai media pendidikan. Narasi yang disampaikan secara runtut dan menarik bikin anak lebih mudah memahami nilai kehidupan tanpa merasa digurui. Sejumlah kisah Islami pun dinilai efektif untuk membentuk karakter anak.

Berikut 10 dongeng anak islami, bisa dibacakan orang tua sebelum tidur.

Dongeng Islami 1: Kalung Anisa

Anisa adalah gadis kecil berusia lima tahun yang ceria. Suatu sore, ia menemani ibunya berbelanja di supermarket. Saat menunggu di kasir, matanya tertuju pada sebuah kalung mutiara kecil warna putih yang berkilau di dalam kotak pink. Anisa sangat menginginkannya.

Sebelumnya ia sudah berjanji tidak meminta apa pun selain yang disetujui, tetapi, karena sangat ingin, Anisa memberanikan diri bertanya untuk membeli kalung itu. Ibunya pun mengizinkan, dengan syarat Anisa mengembalikan kaus kaki pilihannya dan rela uang jajannya dipotong.

Anisa setuju dengan senang hati.

Sejak itu, kalung tersebut menjadi benda kesayangannya. Ia memakainya hampir setiap saat, bahkan saat tidur. Anisa merasa sangat cantik ketika mengenakannya.

Setiap malam, ayahnya membacakan dongeng sebelum tidur. Suatu malam, ayahnya bertanya.

"Anisa sayang Ayah?"

"Tentu, Yah. Anisa sayang sekali," jawabnya.

"Kalau begitu, boleh Ayah minta kalungmu?"

Anisa menolak dengan halus. Ia menawarkan mainan lain, tetapi ayahnya hanya tersenyum. Permintaan itu terulang beberapa kali di malam berbeda, tetapi Anisa belum rela melepas kalung kesayangannya.

Hingga suatu malam, Anisa datang dengan mata berkaca-kaca. Ia teringat bahwa Allah menyukai hamba yang ikhlas. Dengan berat hati, ia menyerahkan kalung itu. "Kalau Ayah mau, ambillah," katanya pelan.

Ayahnya menerima kalung itu, lalu mengeluarkan kalung lain, lebih indah dan asli. "Ini untuk Anisa," ujar Ayah.

Anisa pun tersenyum bahagia. Ia belajar bahwa keikhlasan dan kepercayaan kepada Allah akan membawa kebaikan. Apa yang kita lepaskan karena Allah, akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik.

Dongeng Islami 2: Wanita Pemerah Susu dan Anak Gadisnya

Pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab, hiduplah seorang janda miskin bersama anak gadisnya di pinggiran Kota Mekkah. Meski hidup sederhana, keduanya rajin beribadah dan bekerja keras dengan memerah susu kambing setiap pagi untuk dijual.

Suatu malam, Khalifah Umar berkeliling untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia tiba di dekat sebuah gubuk kecil yang lampunya masih menyala. Dari luar, ia mendengar percakapan ibu dan anak itu.

"Anakku, susu kita hari ini sedikit. Tidak cukup untuk dijual besok," kata sang ibu.

Anaknya menjawab lembut, "Tidak apa-apa, Bu. Itu rezeki dari Allah. Semoga besok lebih banyak."

Namun sang ibu merasa khawatir pelanggan akan pergi. Ia pun mengusulkan mencampur susu dengan air agar terlihat banyak. Mendengar itu, sang gadis langsung menolak.

"Jangan, Bu. Kita tidak boleh curang. Lebih baik jujur. Walaupun tidak ada yang melihat, Allah pasti melihat," ujarnya tegas.

Dari luar, Umar tersenyum kagum. Ia melihat bahwa gadis itu tetap jujur meski dalam kesulitan.

Keesokan harinya, Umar memanggil mereka ke istana. Ia memberi bantuan dan hadiah besar sebagai penghargaan atas kejujuran mereka, serta mendoakan agar kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Dongeng Islami 3: Kisah Salman al-Farisi Mencari Kebenaran

Salman seorang pemuda Persia yang lahir dalam keluarga terpandang. Sejak kecil, ayahnya sangat menyayanginya hingga ia jarang keluar rumah. Salman pun tumbuh sebagai anak taat.

Suatu hari, ketika dalam perjalanan, Salman melewati sebuah tempat ibadah dan melihat orang-orang khusyuk berdoa. Ia merasa tertarik dan mulai berpikir, "Mungkin ada kebenaran yang harus aku cari."

Sejak saat itu, hatinya terdorong untuk mencari agama yang benar.

Dengan tekad kuat, Salman meninggalkan rumahnya dan melakukan perjalanan jauh. Ia belajar dari banyak orang saleh di berbagai tempat. Meski sering menghadapi kesulitan, bahkan sempat menjadi seorang budak, Salman tidak pernah menyerah. Ia terus mencari kebenaran dengan sabar.

Suatu hari, ia mendengar kabar tentang seorang nabi yang akan datang di tanah Arab, yaitu Nabi Muhammad. Salman pun berusaha menemukan beliau.

Ketika akhirnya bertemu, Salman menguji tanda-tanda kenabian yang pernah ia pelajari. Ia melihat bahwa Nabi Muhammad tidak mencuri sedekah, menerima hadiah, dan memiliki tanda kenabian di punggungnya. Saat itu, Salman yakin dan langsung memeluk Islam dengan penuh haru.

Salman, dalam perjalanannya, tersadar bahwa mencari kebenaran butuh kesabaran, keberanian, dan keikhlasan. Dengan sungguh-sungguh, Allah akan menuntun hamba-Nya menuju jalan yang benar.

Dongeng Islami 4: Al-Balkhi dan Si Burung Pincang

Alkisah, hiduplah seorang lelaki saleh bernama Al-Balkhi. Ia memiliki sahabat dekat, Ibrahim bin Adham, yang dikenal bijaksana dan zuhud.

Suatu hari, Al-Balkhi berangkat untuk berdagang ke negeri jauh. Namun, belum lama perjalanan dimulai, ia justru kembali. Ibrahim bin Adham pun heran dan bertanya, "Mengapa engkau pulang begitu cepat?"

Al-Balkhi menjawab, "Aku melihat sesuatu yang membuatku berpikir. Saat beristirahat, aku melihat seekor burung pincang dan buta. Aku heran bagaimana ia bisa hidup."

Ia melanjutkan, "Ternyata, ada burung lain yang setiap hari datang membawakan makanan untuknya. Dari situ aku berpikir, jika burung itu saja diberi rezeki oleh Allah tanpa usaha, maka aku pun pasti akan dicukupkan meski tidak bekerja."

Mendengar itu, Ibrahim bin Adham tersenyum lalu berkata, "Wahai sahabatku, mengapa engkau memilih jadi seperti burung yang lemah itu? Mengapa tidak meneladani burung yang kuat, yang bekerja keras dan membantu sesamanya?"

Ucapan itu membuat Al-Balkhi tersadar. Ia menyadari bahwa sudah keliru memahami pelajaran tersebut.

Ia pun berkata, "Engkau benar. Aku harus berusaha dan tidak hanya menunggu." Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalanannya untuk berdagang.

Allah memang memberi rezeki kepada semua makhluk. Namun, manusia harus tetap berusaha dan bekerja keras.

Dongeng Islami 5: Sebutir Kurma Penjegal Doa

Setelah menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat melanjutkan perjalanan ke Masjid Al-Aqsa. Sebelum berangkat, ia membeli kurma dari seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram. Tanpa disadari, ia memakan sebutir kurma yang tergeletak di dekat timbangan, karena mengira itu bagian dari yang dibelinya.

Beberapa bulan kemudian, setiba di Al-Aqsa, Ibrahim beribadah dengan khusyuk dan berdoa kepada Allah.

Tiba-tiba, ia mendengar percakapan dua malaikat. Salah satu malaikat menyebut Ibrahim sebagai ahli ibadah yang doanya biasa dikabulkan. Namun malaikat lain berkata bahwa doanya kini tertolak karena ia sudah makan kurma yang bukan haknya.

Mendengar hal itu, Ibrahim sangat terkejut. Ia segera beristigfar dan menyadari kesalahannya. Tanpa menunda, ia kembali ke Mekkah untuk mencari pedagang tersebut dan meminta keikhlasan.

Sesampainya di sana, ia mengetahui bahwa pedagang itu sudah wafat. Ibrahim lantas menemui anak dan seluruh ahli warisnya satu per satu untuk meminta izin. Setelah semua mengikhlaskan, hatinya pun merasa tenang.

Beberapa waktu kemudian, saat kembali beribadah, ia mendengar bahwa doanya sudah diterima kembali karena ia memperbaiki kesalahannya.

Dalam Islam, kehalalan dan kejujuran sangat penting. Bahkan hal kecil seperti sebutir kurma bisa memengaruhi diterimanya doa. Karena itu, kita harus berhati-hati dan selalu menjaga diri dari hal yang bukan hak kita.

Dongeng Islami 6: Rasa Kasih Terlihat dalam Mata

Pada suatu sore yang sangat dingin, seorang lelaki tua duduk menggigil di tepi jalan bersalju. Ia menunggu seseorang mau memberinya tumpangan untuk menyeberangi sungai. Angin dingin membuat tubuhnya kaku, sementara beberapa penunggang kuda mulai melintas di hadapannya.

Satu per satu penunggang kuda lewat, tetapi lelaki tua itu tidak meminta bantuan. Hingga akhirnya, datang penunggang terakhir. Saat melihat matanya, lelaki tua itu merasa yakin, lalu berkata, "Tuan, maukah Anda menolong saya menyeberang?"

Penunggang itu segera berhenti dan dengan ramah membantu lelaki tua naik ke kudanya. Ia bahkan mengantar sampai ke rumah tujuan lelaki tersebut.

Di perjalanan, penunggang itu bertanya, "Mengapa Anda tidak meminta bantuan kepada orang-orang sebelumnya?"

Lelaki tua itu menjawab, "Saya melihat mata mereka, dan saya tidak menemukan kepedulian. Tapi pada dirimu, saya melihat kebaikan dan kasih sayang. Saya yakin Anda akan menolong."

Jawaban itu membuat penunggang kuda terdiam dan tersentuh. Ia pun berjanji dalam hati untuk selalu peduli pada orang lain. Penunggang itu adalah Salman.

Dalam Islam, kasih sayang dan kepedulian adalah akhlak mulia. Rasulullah mengajarkan untuk saling menolong dan berbuat baik kepada siapa pun.

Dongeng Islami 7: Asal-Usul Kumandang Azan

Seiring bertambahnya jumlah umat Islam pada masa awal di Kota Madinah, muncul kebutuhan untuk mengatur waktu berkumpul dalam menunaikan salat berjamaah.

Pada awalnya, kaum Muslim berkumpul secara alami di masjid tanpa ada tanda khusus sebagai pengingat waktu salat. Namun, kondisi ini semakin sulit dilakukan karena kesibukan masing-masing orang.

Para sahabat kemudian bermusyawarah untuk mencari cara terbaik memanggil umat Islam agar datang salat tepat waktu. Berbagai usulan pun muncul, seperti menyalakan api di tempat tinggi, membunyikan lonceng, hingga meniup tanduk.

Namun, banyak sahabat menolak usulan tersebut karena menyerupai cara umat lain.

Dalam musyawarah itu, Umar bin Khattab mengusulkan agar ditunjuk seseorang untuk memanggil umat Islam ketika waktu salat tiba. Usulan ini diterima, tetapi cara pemanggilannya masih belum ditentukan.

Suatu malam, Abdullah bin Zaid bermimpi melihat seseorang yang mengajarkan lafaz azan, dimulai dengan "Allahu Akbar". Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut kepada Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad menyatakan bahwa mimpi itu benar dan memerintahkan agar lafaz tersebut diajarkan kepada Bilal bin Rabah karena suaranya lantang. Bilal kemudian menjadi orang pertama yang mengumandangkan azan.

Menariknya, Umar bin Khattab juga mengaku mengalami mimpi serupa. Hal ini semakin menguatkan bahwa azan merupakan petunjuk dari Allah.

Sejak saat itu, azan menjadi panggilan resmi umat Islam untuk menunaikan salat, sekaligus syiar yang terus dikumandangkan hingga kini.

Dongeng Islami 8: Abu Hanifah dan Tetangganya

Di Kota Kufah, hiduplah seorang ulama besar bernama Abu Hanifah. Ia dikenal sebagai sosok rajin ibadah, bahkan sering menghabiskan malam untuk salat dan berdoa.

Di dekat rumahnya, tinggal seorang tukang sepatu. Setiap hari, lelaki itu bekerja keras hingga malam. Namun setelah pulang, ia sering makan, lalu minum sambil bernyanyi dengan suara keras hingga larut malam.

Suara itu terkadang mengganggu ibadah Abu Hanifah, tetapi ia tidak pernah menegur atau marah.

Suatu malam, suasana jadi berbeda. Tidak terdengar lagi suara nyanyian dari rumah tetangganya. Abu Hanifah pun merasa heran dan mencari tahu. Ternyata, tetangganya itu ditangkap dan ditahan.

Keesokan paginya, setelah salat subuh, Abu Hanifah segera pergi menemui pemimpin setempat untuk meminta agar tetangganya dibebaskan. Permintaan itu pun dikabulkan.

Setelah keluar dari tahanan, tukang sepatu itu berjalan pulang bersama Abu Hanifah. Sesampainya di rumah, Abu Hanifah berkata dengan lembut, "Aku tidak mengecewakanmu, bukan?"

Tetangganya merasa sangat terharu. Ia tidak menyangka orang yang sering ia ganggu justru menolongnya. Ia pun berterima kasih dan berjanji untuk berubah menjadi lebih baik.

Sejak saat itu, ia tidak lagi membuat keributan di malam hari.

Dongeng Islami 9: Penjual Minyak Wangi dan Seuntai Kalung

Seorang pemuda singgah di Baghdad dalam perjalanan menuju tanah suci. Ia membawa sebuah kalung berharga, tapi tak seorang pun bersedia membelinya. Akhirnya, ia menitipkan kalung itu kepada seorang penjual minyak wangi yang terkenal jujur, lalu melanjutkan perjalanannya.

Setelah menunaikan ibadah haji, pemuda itu kembali ke Baghdad untuk mengambil kalungnya. Ia juga membawa hadiah sebagai tanda terima kasih.

Namun, saat ia menyampaikan maksudnya, penjual minyak wangi justru menolak dan mengusirnya dengan kasar. Orang-orang di sekitar pun ikut membela si penjual dan menyalahkan pemuda itu, hingga ia dipukuli.

Dalam keadaan terluka, seseorang menyarankan agar ia mengadukan masalahnya kepada Sultan Buwaihi. Pemuda itu pun menceritakan kejadian sebenarnya kepada sang sultan.

Sultan kemudian memberi siasat.

Ia meminta pemuda itu duduk di depan toko penjual minyak wangi selama beberapa hari tanpa banyak bicara. Pada hari keempat, sultan datang bersama pasukannya untuk mencari kalung.

Kehadiran rombongan itu membuat penjual minyak wangi ketakutan.

Setelah keadaan kembali tenang, penjual itu mulai gelisah dan berusaha mengingat. Ia pun membongkar barang-barangnya hingga akhirnya menemukan kalung tersebut di dalam sebuah guci.

Dia mengatakan kalau kalung tersebut berasal dari si pemuda.

Sultan akhirnya mengambil kalung dari si penjual minyak wangi, lalu mengembalikannya kepada pemuda tadi.

Dongeng Islami 10: Tobatnya Malik bin Dinar

Malik bin Dinar pernah dikenal sebagai seorang lelaki yang lalai. Ia bekerja sebagai polisi, tetapi hidupnya dipenuhi kebiasaan buruk, termasuk gemar minum khamr. Di tengah kehidupannya itu, ia punya anak perempuan yang sangat ia sayangi.

Suatu hari, anak kecil itu wafat. Kesedihan mendalam pun menyelimuti hati Malik. Namun, ia belum juga meninggalkan kebiasaan buruknya.

Hingga pada suatu malam, ia tertidur dalam keadaan lalai dan bermimpi seakan hari kiamat telah tiba. Ia melihat semua manusia dibangkitkan. Tiba-tiba, seekor ular besar mengejarnya. Malik lari ketakutan mencari perlindungan.

Di tengah pelariannya, ia bertemu seorang lelaki tua berpakaian putih. Namun lelaki itu berkata bahwa ia terlalu lemah untuk menolong. Malik terus berlari hingga hampir terjatuh ke dalam api neraka, sebelum akhirnya ia diarahkan menuju sebuah tempat penuh cahaya.

Di sana, ia melihat anak-anak kecil, termasuk putrinya. Anak itu datang menghampirinya dan menyelamatkannya dari kejaran ular tersebut. Dengan lembut, anak itu berkata bahwa ular itu adalah gambaran dari perbuatan buruk ayahnya, sementara lelaki tua tadi adalah amal baiknya yang masih sedikit.

Putrinya kemudian mengingatkan dengan ayat Al-Quran agar hatinya kembali tunduk kepada Allah. Mendengar itu, Malik menangis dan tersadar dari mimpinya.

Sejak saat itu, ia segera meninggalkan kebiasaan buruknya, menghancurkan minuman keras yang dimilikinya, dan bersungguh-sungguh bertobat kepada Allah.

Baca juga artikel terkait DONGENG atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Iswara N Raditya