Menuju konten utama

Ciri-Ciri Asam Lambung Naik saat Puasa dan Cara Mengatasinya

GERD atau asam lambung naik bisa terjadi saat puasa. Berikut ciri-ciri asam lambung naik saat puasa dan 12 tips cara mengatasi gejala GERD.

Ciri-Ciri Asam Lambung Naik saat Puasa dan Cara Mengatasinya
ilustrasi organ lambung. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Asam lambung naik atau GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan atau esofagus. Ciri asam lambung naik yang paling umum ialah munculnya sensasi panas di dada yang bisa disertai mual dan muntah. Gejala ini juga termasuk ciri asam lambung naik saat puasa yang sering terjadi.

GERD disebabkan oleh pelemahan katup esofagus di bagian bawah sehingga penghubung kerongkongan dan lambung tersebut tak menutup dengan sempurna. Asam lambung naik terjadi saat otot di bawah kerongkongan (LES) melemah dan membuat katup esofagus di bagian bawah terbuka.

Pada kondisi normal, katup di bagian bawah kerongkongan berfungsi sebagai pintu masuk satu arah yang dilintasi oleh makanan dan cairan dari mulut menuju ke lambung. Setelah sampai ke lambung, makanan dan cairan akan melalui proses pencernaan. Karena katup di bagian bawah kerongkongan menjadi pintu satu arah, makanan di lambung tidak dapat mengalir kembali ke atas.

Kondisi berbeda terjadi di penderita GERD karena katup bagian bawah kerongkongan tak tertutup sempurna atau sedikit terbuka saat makanan sudah masuk lambung. Akibatnya, asam dari lambung naik ke kerongkongan dan memunculkan sensasi panas di dada.

Ciri-Ciri Asam Lambung Naik saat Puasa

Gejala asam lambung naik yang paling utama adalah rasa terbakar di dada yang disebut heartburn. Nyeri dada saat puasa sering terjadi karena sensasi panas akibat GERD ini.

Sensasi panas yang disebut heartburn sering kali terasa setelah makan ataupun beberapa jam setelahnya. Para penderita GERD juga kerap merasakan sensasi panas di dada ketika berbaring atau saat tidur. Tak jarang, heartburn membuat penderita GERD terbangun dari tidur secara terpaksa dengan rasa tidak nyaman, atau bahkan kesakitan.

Namun, ciri-ciri asam lambung naik saat puasa dapat beragam. Berikut ini ciri-ciri asam lambung naik saat puasa:

  1. Heartburn atau nyeri dada saat puasa.
  2. Mulut terasa asam dan pahit karena asam lambung naik.
  3. Merasa cepat kenyang meski baru makan sedikit.
  4. Sering mengeluarkan sendawa saat puasa.
  5. Merasakan sakit di leher.
  6. Perut kembung atau mual.
  7. Mulut berbau.
  8. Batuk kering atau batuk terus menerus.
  9. Suara serak
  10. Sensitif terhadap makanan tertentu.
  11. Kesulitan menelan makanan.
  12. Sensasi benjolan di kerongkongan.
  13. Tenggorokan terasa sakit atau terbakar.
  14. Asma.
  15. Muntah.
  16. Kesulitan tidur pada malam hari.

Hukum Puasa bagi Penderita Asam Lambung

Secara umum, orang Islam yang sedang sakit diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Di sisi lain, orang yang sedang sakit lalu memutuskan tetap berpuasa tetap diperbolehkan, asal tidak membahayakan keselamatan jiwanya.

Asam lambung naik termasuk masalah kesehatan dengan keparahan gejala berbeda-beda pada tiap individu. Jika kondisi gejala GERD amat parah, tidak puasa di bulan Ramadhan diperbolehkan.

Penderita GERD dapat mengganti puasa (menqodho puasa) di bulan lainnya ketika gejala asam lambung naik sudah berkurang. Jika qodho puasa tidak memungkinkan, penderita GERD bisa mengganti puasa Ramadhan dengan membayar fidyah.

Lantas, asam lambung naik saat puasa batal atau tidak? Perlu dipahami bahwa penderita asam lambung tidak memiliki kendali atas naiknya asam lambung. Oleh karena itu, asam lambung naik tidak membatalkan puasa, kecuali jika sudah berdampak parah.

Hukum puasa bagi penderita asam lambung bisa merujuk pada pendapat para ulama fikih tentang status puasa orang yang sakit.

Mengutip dari artikel "Orang Sakit Tetap Berpuasa: Bisa Makruh, Haram, bahkan Wajib" di laman nu.or.id, Syekh Nanawi Al-Bantani dalam Kitab Kaasyifatus Sajaa, membagi hukum puasa bagi orang sakit menjadi 3 jenis sebagai berikut:

  1. Makruh berpuasa: Jika puasa diperkirakan akan mengakibatkan madharat (dampak buruk) bagi orang yang sakit.
  2. Haram berpuasa: Jika puasa diduga kuat akan membahayakan tubuh dan bahkan mengancam keselamatan jiwa orang yang sakit.
  3. Wajib berpuasa: Jika sakitnya ringan (seperti pusing, sakit gigir, sakit telinga, dan lainnya), kecuali ada indikasi bahwa puasa akan memperparah sakitnya.

Puasa untuk Penderita Asam Lambung

Secara medis, orang yang menderita asam lambung tetap diperbolehkan untuk berpuasa. Puasa dapat menjadi salah satu mekanisme untuk mengistirahatkan pencernaan.

Laporan riset bertajuk "Impact of Ramadan Fasting on the Severity of Symptoms Among a Cohort of Patients With Gastroesophageal Reflux Disease" di dalam Jurnal Cureus (2023), memuat kesimpulan bahwa puasa Ramadhan bisa berdampak baik bagi penderita GERD.

Hasil penelitian yang melibatkan 53 pasien GERD berusia 16-67 tahun itu menunjukkan gejala heartburn berkurang signifikan setelah melaksanakan puasa Ramadhan. Penurunan gejala asam lambung naik tersebut, terutama pada heartburn yang muncul saat tidur dan setelah makan.

Penelitian yang sama pun menunjukkan gejala heartburn akibat asam lambung naik saat puasa paling sering terjadi pada partisipan yang makan sedikit, makan mendekati waktu tidur, dan mengonsumsi produk susu atau makanan manis.

Ada beberapa faktor risiko yang bisa memicu penyakit asam lambung, seperti pola makan tidak teratur; mengonsumsi makanan pedas, asam, berminyak, dan berlemak; obesitas; tidak mengontrol porsi makanan; dan merokok. Mengurangi sejumlah penyebab GERD itu bisa menurunkan gejala asam lambung naik saat puasa.

Mengutip artikel Tirto.id yang memuat penjelasan Prof. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, SpPD, FINASIM, dan Dr. Dedy G. Sudrajat SpPD, K-GEH, FINASIM, serta sejumlah sumber yang lain, berikut 12 tips puasa untuk penderita asam lambung:

1. Segera buka puasa saat waktunya tiba

Penderita GERD disarakankan untuk segera berbuka puasa saat waktu maghrib tiba. Menunda berbuka puasa, apalagi jika sampai berjam-jam, dapat meningkatkan asam lambung dan memperparah gejala GERD.

2. Makan dengan perlahan

Makan dengan perlahan-lahan saat buka puasa maupun sahur sangat disarankan bagi penderita asam lambung. Pemilik GERD juga disarankan memulai buka atau sahur dengan meminum air hangat dan memakan camilan ringan. Lalu, makan baru dilanjutkan dengan makanan berat seperti nasi dan lainnya. Pola konsumsi seperti ini bisa membuat kinerja lambung lebih optimal dan tida memicu produksi banyak asam.

3. Jangan konsumsi makanan pedas, asam, dan berlemak

Makanan pedas, asam, dan berlemak bisa memicu asam lambung naik. Saat sahur, hindari makanan berlemak agar tak membuat lambung bekerja terlalu keras. Menjauhi makanan pedan dan asam saat sahur maupun berbuka juga penting karena keduanya bisa memperparah gejala asam lambung naik.

5. Pilih sumber karbohidrat yang berserat

Untuk sumber karbohidrat, menu buka dan sahur penderita GERD sebaiknya berupa makanan yang kaya serat. Misalnya adalah gandum dan nasi merah.

6. Perbanyak konsumsi sayur dan buah

Sayuran, buah-buahan, dan protein hewani tanpa lemak baik untuk pencernaan. Karena itu, penderita GERD disarankan mengonsumsi menu sahur dan buka puasa yang dominan dengan sayur dan buah.

7. Utamakan makanan yang dikukus atau dipanggang

Penderita GERD sebaiknya menghindari makanan gorengan karena bisa meningkatkan produksi asam lambung dan kadar lemak dalam tubuh. Utamakan mengonsumsi makanan yang dikukus atau dipanggang daripada digoreng.

8. Jauhi makanan dan minuman mengandung gas

Mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gas, seperti kol, nangka, kembang kol, kopi, teh, dan minuman bersoda, dapat memperparah asam lambung. Maka itu, menu sahur dan buka penderita GERD sebaiknya terbebas dari jenis-jenis makanan maupun minuman tersebut.

9. Minum Obat Asam Lambung saat Sahur dan Berbuka Puasa

Obat asam lambung dapat diminum menjelang waktu imsak, setelah berbuka, atau sebelum tidur. Hal ini dilakukan untuk mencegah refluks asam lambung selama berpuasa.

10. Jangan lekas tidur usai sahur dan buka puasa

Tidur tidak laman setelah makan bisa meningkatkan tekanan pada lambung dan memicu asam lambung naik ke esofagus (kerongkongan) dengan mudah. Maka itu, penderita GERD sebaiknya menunda tidur beberapa jam setelah makan sahur atau buka puasa.

Minimal, jeda waktu antara makan dan tidur adalah 1-2 jam atau lebih tergantung pada keparahan dari gejala asam lambung naik. Makin lama jarak antara makan dan tidur dapat menurunkan risiko asam lambung naik. Posisi tidur penderita GERD sebaiknya juga tidak berbaring melainkan setengah tegak (misalnya bisa diganjal bantal). Dengan posisi tidur setengah tegak, potensi asam lambung naik (refluks asam lambung) bisa dikurangi.

11. Jaga asupan cairan untuk tubuh

Puasa sejak terbit fajar (waktu subuh) hingga maghrib tentu mengurangi asupan cairan untuk tubuh. Kurang cairan tidak baik bagi penderita GERD. Maka itu, antara waktu berbuka hingga sahur atau sebelum imsak, penderita GERD sebaiknya memperbanyak minum air putih atau mendapatkan asupan cairan dari jus buah.

12. Kelola emosi agar tidak stres

Stres bisa menjadi pemicu gejala GERD. Stres dapat membuat tubuh lebih sensitif terhadap sejumlah kecil asam di kerongkongan. Penderita GERD perlu pintar-pintar mengelola emosi agar tidak mudah stres. Memperbanyak istirahat dan beribadah, atau mencoba teknik yoga dan meditasi bisa menjadi solusi untuk mencegah stres.

Selain dengan mencoba sejumlah tips di atas, penderita GERD harus menyadari bahwa respons setiap tubuh orang bisa berbeda-beda. Penyebab asam lambung naik saat puasa bisa beragam. Oleh karena itu, penderita GERD sangat disarankan segera berkonsultasi dengan dokter jika gejala asam lambung naik saat puasa semakin memburuk.

Baca juga artikel terkait PUASA atau tulisan lainnya dari Umi Zuhriyah

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Umi Zuhriyah
Penulis: Umi Zuhriyah
Editor: Addi M Idhom