tirto.id - Bagi sebagian musisi yang sudah mapan, masuk ke ruang rekaman mungkin sekadar urusan teknis memproduksi suara. Namun bagi Drewgon, melangkah masuk ke Studio Lokananta di Surakarta terasa seperti meruntuhkan tembok tebal keterbatasan geografis yang selama ini mengurung daya kreatifnya.
"Sebagai anak yang datang dari Maluku Tenggara, akses adalah sesuatu yang sangat berharga. Tidak semua kesempatan tersedia di sana karena jaraknya sangat jauh," ujar rapper asal Maluku Tenggara itu, Senin (29/6/2026).
Drewgon tidak sendirian. Ia adalah satu dari lima finalis Bintang Muda Lokananta (BML) Vol 2—sebuah program inkubasi yang mengumpulkan talenta dari wilayah yang berjauhan: Bandung, Banjarnegara, Semarang, Maluku Tenggara, hingga Surakarta.
Lima finalis ini tumbuh dari akar yang berbeda. Ada yang berasal dari pusat peradaban indie, ada pula yang besar di daerah yang bahkan kesulitan mencari studio rekaman standar.
Pada Sabtu lalu, Lokananta Records bersama PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) (PPA) dan PT Danareksa (Persero) resmi merilis album kompilasi hasil inkubasi ini. Album tersebut memuat lima trek: "Kelak" (Tuan Sendiri, Bandung), "Requiem for the White Wolf" (Gardenia, Banjarnegara), "Kuharap Tetap Begini" (BeverlyLine, Semarang), "Panggajo Majo" (Drewgon, Maluku Tenggara), dan "Pop Karir" (Barmy Blokes, Surakarta).
Bagi kelima musisi ini, rilisan fisik atau digital hanyalah bonus. Esensi utama BML Vol. 2 adalah bagaimana program ini membedah dan menjawab problem klasik musisi daerah: ketimpangan fasilitas dan gagapnya manajemen industri.
Mengubah Intuisi Mentah Jadi Karya Matang
Seorang pengunjung mengamati koleksi kaset dan piringan hitam yang dipajang saat musim liburan di Museum Lokananta di Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, pada 27 Maret 2026. ANTARA/Xinhua/Bram Selo

Label “abal-abal” acap kali disematkan pada musisi asal daerah. Padahal, sebetulnya yang terjadi bukanlah mereka miskin ide, melainkan macetnya jalur produksi.
Kondisi tersebut dirasakan betul oleh Gardenia, unit musik asal Banjarnegara.
"Di daerah kami [Banjarnegara], akses studio rekaman yang memadai masih terbatas," keluh mereka.
Masuk ke Lokananta, personel Gardenia tidak hanya mencicipi ruang rekam legendaris, tapi juga bimbingan mematangkan karakter suara.
Pengalaman tersebut meninggalkan impresi mendalam hingga mereka berseloroh, "Kalau nanti membuat lagu-lagu berikutnya, kami ingin Lokananta menjadi tempat merekam album kedua kami.”
Guyonan tersebut sebetulnya ditarik dari pengalaman Gardenia selama inkubasi di studi bersejarah di Kota Solo tersebut. Infrastruktur mumpuni saja tidak akan menghasilkan karya magis, tanpa adanya cetak biru yang matang.
Di sinilah aspek inkubasi BML bekerja mengubah pola pikir musisi daerah yang terbiasa bekerja "semestinya" menjadi "seharusnya".
BeverlyLine asal Semarang, misalnya, dipaksa merombak total proses kreatif mereka. Jika sebelumnya mereka menggantungkan proses pada intuisi mentah, di program ini mereka belajar arti penting cetak biru sebuah lagu.
"Program ini membuat kami lebih disiplin menyusun struktur karya yang matang. Itu yang paling berkesan dan paling berpengaruh bagi kami," ungkap mereka.
Bukan cuma soal estetika musik, Drewgon bahkan mendapat privilege mewah yang jarang didapat musisi arus utama, yakni membongkar arsip negara. Ia diizinkan membedah dan menggunakan sampel lagu-lagu Lokananta era 1980-an untuk diolah kembali menjadi karya baru—sebuah eksperimen yang nyaris mustahil ia lakukan di kampung halamannya.
Modal Mahal: Buka Jejaring Panggung Baru
Manejemen Lokananta saat merilis album kompilasi Bintang Muda Lokananta Vol.2, Sabtu (26/6/2026). foto/Dok. Lokananta

Penyakit umum musisi daerah yang mulai mencicipi popularitas adalah ketidaksiapan mengelola ekosistem internal band. Kreativitas melimpah sering kali mandek karena manajemen yang berantakan. Kondisi ini diakui oleh Barmy Blokes, sebagai representasi tuan rumah Surakarta.
Melalui ruang mentor BML, mereka disadarkan bahwa band adalah sebuah organisasi yang butuh strategi matang. Perjalanan sebuah grup musik rupanya tidak cukup hanya bermodal romantisasi idealisme.
"Yang paling berdampak buat kami adalah wawasan. Kami belajar menyusun roadmap, planning, dan menjadi lebih disiplin dalam mengelola band," kata mereka.
Ketika manajemen internal membaik dan kualitas rekaman terjamin, pasar akan merespons dengan sendirinya. Dampak instan ini langsung dirasakan oleh Tuan Sendiri. Band asal Bandung ini mengaku bahwa jejaring adalah modal paling mahal yang mereka bawa pulang dari program ini.
"Yang paling berharga bukan hanya ilmunya, tetapi juga lingkungan yang kami temukan di sini. Setelah ikut BML, mulai banyak tawaran manggung datang [dari Yogyakarta dan Madiun]. Buat kami ini sangat berdampak," kata perwakilan Tuan Sendiri.
Rawat Masa Depan Musik, Buka Pintu Pelosok
Lokananta hadirkan ajang pencarian bakat untuk dukung kemajuan industri kreatif nasional. ANTARA/HO-Lokananta

Peningkatan skala program ini tercermin dari antusiasme pendaftar. Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan dan TJSL PPA, Swasti Kartikaningtyas, mencatat ada lonjakan peminat dari 186 peserta pada volume pertama menjadi 250 peserta pada BML Vol 2.
"Kami berharap musik yang lahir dari sini tidak berhenti sampai di sini. Ke depan harus ada seri-seri berikutnya dengan peningkatan kualitas program," lontar Swasti.
Inisiator Bintang Muda Lokananta sekaligus CEO Lokananta, Wendi Putranto, menegaskan bahwa proyek ini mengemban misi ideologis untuk merawat masa depan musik Indonesia. Ruang inkubasi sengaja dirancang terstruktur agar tidak menjadi kompetisi bakat instan yang jamak di televisi.
"Bintang Muda Lokananta Vol 2 adalah cara Lokananta Records berkolaborasi dengan PPA dan Danareksa merawat masa depan musik Indonesia dengan memberi ruang yang layak bagi talenta-talenta baru dari berbagai daerah untuk terdengar lebih luas," jelas Wendi.
Wendi menambahkan, album kompilasi yang dilepas ke pasar bukan sekadar dokumentasi seremonial korporasi. "Tetapi penanda bahwa Lokananta terus bergerak sebagai rumah arsip, ruang temu, sekaligus panggung tumbuh bagi generasi baru musik Indonesia."
Pada akhirnya, cerita dari lima sudut daerah ini membuktikan bahwa Bintang Muda Lokananta berhasil menyentuh akar masalah industri musik tanah air ketimpangan akses.
Di tengah ekosistem industri yang makin tersentralisasi dan kompetitif, bakat mentah dari pelosok sering kali hanya butuh satu hal yakni seseorang yang bersedia membukakan pintu.
Bagi mereka pintu gerbang menuju industri nasional itu kini bernama Lokananta. Dan dari Maluku Tenggara, Drewgon menitipkan sebuah harapan tipis yang kini menebal.
Penulis: Romensy Augustino
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































