Menuju konten utama

Cerita Pasien Cuci Darah usai BPJS PBI Dicabut: Sesak Napas

Sartini sempat menjalani perawatan dua minggu karena stroke. Ia mengharuskan menjalani cuci darah secara rutin tiap minggunya.

Cerita Pasien Cuci Darah usai BPJS PBI Dicabut: Sesak Napas
Ibu Sartini yang merupakan salah satu pasien cuci darah yang BPJS PBI-nya dicabut. FOTO/Dokumentasi istimewa.

tirto.id - Sartini, mengalami sesak napas usai tak menjalani pengobatan cuci darah setelah kepesertaan BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) mendadak dinonatifkan atau dicabut oleh pemerintah. Dia merupakan pasien cuci darah di RSUD Banyumas.

"Kondisi ibu saya sekarang merasakan sesak napas, tidak bisa tidur tiap hari, badan terasa berat dan nyeri pinggang. Semoga ke depannya tidak terjadi lagi kepada pasien-pasien seperjuangan," keluh Cece Trisna, menceritakan kondisi ibunya, saat dihubungi reporter Tirto, Kamis (5/2/2026).

Cece Trisna, mengungkap kepesertaan BPJS PB ibunya diketahui tidak lagi berlaku saat hendak mendaftar tindakan cuci darah pada Selasa (3/2/2026). Padahal, sebelumnya tidak ada pemberitahuan terkait pencabutan keanggotaan tersebut.

"Ibu saya berangkat ke rumah sakit kemudian melakukan registrasi ulang di bagian pendaftaran, tetapi dengan sangat kecewa ibu saya ditolak pendaftarannya karena BPJS dinonaktifkan oleh pemerintah," kata Cece.

Cece mengungkap ibunya sudah melakukan cuci darah sejak April 2025. Tindakan itu dijalaninya setelah dia menderita diabetes, hipertensi, lalu diagnosa kebocoran ginjal pada Agustus 2024.

Menurut Cece, ibunya sempat dirawat dua minggu karena stroke. Dokter kemudian mengharuskan Sartini menjalani cuci darah secara rutin tiap minggunya.

Saat BPJS PB dicabut, kata Cece, ibunya diberitahukan untuk mendatangi kantor BPJS yang jaraknya satu jam dari rumah. Akhirnya, keanggotaan itu tidak langsung diurus saat itu oleh Sartini.

"Berhubung tempat tinggal ibu dan rumah sakit berbeda kabupaten, jadi saya tidak bisa langsung mengurus pengaktifan BPJS karena lokasi kantor BPJS saya sangat jauh. Akhirnya, ibu saya tidak bisa melakukan cuci darah sampai saat ini," tutur Cece.

Keanggotaan BPJS itu kemudian dibantu diurus oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) Banyumas. Dari keterangan BPJS, Sartini harus mendaftar keanggotaan berbayar.

"Sampai saat ini, saya dan keluarga masih mengusahakan pembuatan BPJS mandiri agar ibu saya bisa melakukan cuci darah secepatnya," ungkap Cece.

Cece mengungkapkan ibunya adalah kepala keluarga yang tidak bekerja dan tinggal seorang diri di rumah. Dahulu, ibunya guru honorer sebelum akhirnya menderita sakit seperti saat ini.

Baca juga artikel terkait BPJS atau tulisan lainnya dari Ayu Mumpuni

tirto.id - Flash News
Reporter: Ayu Mumpuni
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama