tirto.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat di bawah kepemimpinan Bupati Jeje Ritchie Ismail resmi memulai pendataan tahap awal untuk relokasi warga terdampak longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Jumat (30/1/2026).
Pemkab Bandung Barat memetakan zona merah risiko bencana. Di samping itu, tim SAR gabungan menambah dua unit alat berat untuk mempercepat pencarian 25 korban yang hingga kini masih tertimbun material longsor.
Jeje mengatakan pendataan dilakukan secara detail dengan memilah rumah per rumah berdasarkan zonasi terdampak, terancam, dan zona aman. Fokus utama pendataan ini adalah mereka yang rumahnya hilang atau masuk zona merah risiko bencana.
“Kami lakukan pendataan wilayah berdasarkan zona merah dan zona kuning. Pada hari ini sudah ada sebagian warga yang diperbolehkan pulang dan selanjutnya akan kami lakukan pendataan ulang,” ucap Jeje di Bandung, Jumat dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan proses relokasi selanjutnya akan dibarengi dengan penyediaan hunian sementara (huntara) bagi warga yang rumahnya tidak memungkinkan untuk kembali ditempati.
Untuk rencana penyediaan hunian tetap (huntap), kata Jeje, Pemkab Bandung Barat melakukan pengecekan terhadap tanah carik desa yang berpotensi dijadikan lokasi relokasi warga terdampak.
Sementara itu Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bandung Barat, Ade Zakir, mengatakan pemerintah daerah telah menerima data awal terkait zonasi rumah warga yang masuk kategori terdampak, terancam, maupun aman.
“Jadi, kemarin kami sudah mendapatkan data zonasi rumah masyarakat yang terdampak, terancam, dan aman. Saat ini sedang kami pilah rumah per rumah. Bagi yang berada di luar zona tersebut, kami juga mengimbau agar segera kembali ke rumah masing-masing,” ujarnya.
Meski demikian ia mengakui pemerintah daerah masih menghadapi sejumlah kendala administratif dalam proses penetapan relokasi, termasuk penghitungan dan penetapan zona merah yang masih dalam tahap evaluasi internal.
Ade menegaskan pendataan yang teliti dan akurat menjadi hal krusial agar proses relokasi benar-benar tepat sasaran serta tidak menempatkan warga pada risiko bencana serupa pada masa mendatang.
Pada kesempatan yang sama Pemkab Bandung Barat juga menginisiasi pembangunan sumur bor di sekitar enam titik yang dibutuhkan warga sebagai langkah untuk mengatasi gangguan pasokan air bersih yang masih dialami sebagian pengungsi yang telah kembali ke rumah mereka.
Tim SAR Tambah 2 Alat Berat Cari Korban Longsor Cisarua

Tim SAR menambah dua unit alat berat seiring kondisi cuaca yang lebih mendukung pada hari ketujuh operasi pencarian korban longsor di Kecamatan Cisarua. Langkah ini dilakukan guna mempermudah pencarian dan evakuasi.
Direktur Operasi Basarnas, Yudhi Bramantyo, menyampaikan bahwa faktor cuaca sangat berpengaruh terhadap kelancaran kegiatan pencarian, khususnya di sektor-sektor utama yang menjadi fokus operasi.
“Kami berharap cuaca hari ini lebih kondusif sehingga pencarian bisa dilakukan secara maksimal. Untuk mendukung hal tersebut, kami juga menurunkan tambahan dua alat berat guna mempercepat proses evakuasi,” ujarnya di Bandung, Jumat, dikutip dari Antara.
Yudhi juga mengatakan Basarnas menambah dua unit alat berat jenis excavator PC 200 yang akan ditempatkan di perbatasan sektor A2 dan A3 guna mempercepat pencarian dan penanganan dampak longsor sesuai peta operasi.
Sebagai informasi, operasi SAR di Cisarua memasuki hari ketujuh sejak tanah longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026). Tim SAR gabungan telah mengevakuasi puluhan jenazah korban yang tertimbun material longsor.
Berdasarkan data terakhir pada Kamis (29/1/2026) pukul 18.30 WIB, SAR gabungan telah mengevakuasi sebanyak 55 kantong jenazah dari lokasi kejadian dan sekitar 25 lainnya masih dicari.
Proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat juga terus berjalan, dengan 41 kantong jenazah yang telah berhasil diidentifikasi oleh pihak berwenang.
Wilayah pencarian fokus pada sektor-sektor yang memang dipetakan sebagai area tertinggi dampak longsor, sambil terus mengantisipasi kemungkinan longsor susulan yang dipicu kondisi tanah yang labil dan cuaca ekstrem.
Personel dari berbagai instansi, termasuk Basarnas, TNI, Polri, BPBD dan relawan, secara bergantian menyisir titik-titik rawan dengan bantuan alat berat, anjing pelacak, hingga teknologi pendukung lainnya.
Sementara itu, jumlah warga yang masih belum ditemukan terus menjadi fokus pencarian SAR, dengan keluarga korban dan relawan terus berharap cuaca bersahabat mempercepat pekerjaan di lapangan.
Basarnas dan tim SAR tetap meminta doa serta dukungan dari masyarakat agar operasi yang sudah berjalan lebih dari seminggu itu dapat memberikan hasil terbaik bagi para korban dan keluarga terdampak bencana longsor di Cisarua.
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































