Menuju konten utama

BPS: Jumlah Pengangguran di Bali Turun Jadi 43,13 Ribu

Pengangguran di Provinsi Bali pada Februari 2025 mengalami penurunan, berbanding terbalik dengan peningkatan angka pengangguran nasional.

BPS: Jumlah Pengangguran di Bali Turun Jadi 43,13 Ribu
Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, usai Rilis Indikator Strategis di Kantor BPS Provinsi Bali, Selasa (08/04/2025). Tirto.id/Sandra Gisela

tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mengungkap tingkat pengangguran terbuka (TPT) Provinsi Bali pada bulan Februari 2025 sebesar 1,58 persen atau turun 0,21 persen dibandingkan Agustus 2024 dan turun 0,29 persen dibandingkan Februari 2024.

Hal tersebut terlihat dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 77,40 persen dari jumlah angkatan kerja Bali yang tercatat sebesar 2,74 juta. Jumlah ini kontras dengan realitas tingkat pengangguran terbuka secara nasional yang mencatatkan angka 4,76 persen.

“Jumlah angkatan kerja meningkat 23,67 ribu orang dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Dari angkatan kerja, terdiri dari 2,69 juta orang yang sudah terserap di lapangan pekerjaan, yang menjadi pengangguran itu sebanyak 43,13 ribu orang atau turun 7,55 ribu orang dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya,” ungkap Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, di Kantor BPS Bali, Senin (05/05/2025).

Dari jumlah penduduk yang sudah bekerja, terjadi peningkatan untuk pekerja penuh, yaitu ke angka 1,99 juta orang. Sementara itu, pekerja paruh waktu mengalami penurunan sebanyak 71,70 ribu orang ke angka 0,64 juta orang. Populasi setengah penggangguran tercatat mengalami peningkatan sebesar 4,94 ribu orang ke angka 0,06 juta orang.

Lebih lanjut, jika dilihat dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), jumlah pekerja laki laki mengalami penurunan sebesar 0,32 persen ke angka 83,45 persen. Sedangkan, jumlah pekerja perempuan mengalami peningkatan cukup signifikan sebesar 0,90 persen ke angka 71,39 persen.

“Angka ini (TPAK Provinsi Bali) relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan Agustus 2024 dan Februari 2024,” kata Agus.

Berdasarkan hasil Sakernas (Survei Angkatan Kerja Nasional) Februari 2025, terdapat tiga lapangan usaha dengan jumlah penyerapan tenaga kerja paling banyak di Provinsi Bali, yakni pedagang besar dan eceran (19,51 persen), diikuti oleh pertanian, kehutanan, dan perikanan (19,12 persen), serta industri pengolahan (15,89 persen).

Peningkatan terbesar terletak di industri pengangkutan dan pergudangan (7,93 ribu orang), penyediaan akomodasi dan makan-minum (7,83 ribu orang), dan perdagangan besar dan eceran (5,30 ribu orang). Penurunan tampak di industri pengolahan (-8,72 ribu orang), pendidikan (-1,73 ribu orang), serta informasi dan komunikasi (-0,68 ribu).

“Jumlah penduduk yang bekerja dalam kegiatan formal tercatat 1,34 juta orang, sementara yang bekerja dalam kegiatan informal sebanyak 1,36 juta orang. Jika dibandingkan dengan Februari 2024, persentase penduduk yang bekerja pada kegiatan formal mengalami penurunan sebesar 0,09 persen,” jelas Agus.

BPS juga mengungkap tingkat pendidikan dari penduduk yang bekerja di Pulau Dewata. Sebagian besar tenaga kerja didominasi oleh mereka yang memiliki pendidikan setingkat SD ke bawah, dengan persentase mencapai 28,75 persen. Sementara itu, tenaga kerja yang memiliki pendidikan tinggi (universitas) tercatat sebesar 13,19 persen dan diploma sebesar 5,73 persen.

Namun, data yang kontras tampak dari TPT menurut tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan. TPT tertinggi tercatat pada jenjang pendidikan diploma ke atas yaitu sebesar 2,91 persen, sementara TPT terendah tampak pada jenjang pendidikan SMP ke bawah, yaitu sebesar 0,61 persen.

“Dibandingkan dengan Agustus 2024, tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2025 mengalami penurunan pada dua jenjang pendidikan, yaitu pada jenjang pendidikan SMP ke bawah dan SMA. Pada jenjang pendidikan SMP ke bawah, penurunan tercatat sebesar 0,71 persen, sementara penurunan pada lulusan SMA sebesar 0,28 persen. Sementara itu, TPT pada jenjang pendidikan diploma ke atas mengalami kenaikan sebesar 0,86 persen,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait PENGANGGURAN atau tulisan lainnya

tirto.id - Insider
Reporter: Sandra Gisela
Kontributor: Sandra Gisela
Editor: Hendra Friana