Menuju konten utama

BPDP Ungkap Penerimaan Ekspor Sawit 2025 Capai Rp31 Triliun

Namun demikian, Zaid mengakui produktivitas sawit Indonesia masih kalah dari Malaysia. Oleh karena itu, pemerintah akan meningkatkan lagi potensi yang ada.

BPDP Ungkap Penerimaan Ekspor Sawit 2025 Capai Rp31 Triliun
Lahan perkebunan kelapa sawit milik petani di Kabupaten Mukomuko.(Foto Dok.Antarabengkulu.com)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengungkapkan, realisasi penerimaan pungutan ekspor sawit mencapai Rp31 triliun di sepanjang 2025. Jika dibandingkan dengan data tahun 2024 yang hanya mencapai Rp25,76 triliun, realisasi pungutan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya di tahun lalu tercatat lebih besar.

“Kurang lebih di … penerimaan kita di kurang lebih di Rp31 triliun di tahun 2025,” ungkap Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim dalam Media Briefing BPDP, di Hotel Movenpick, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).

Meski begitu, sumber Penghasilan BPDP ini dikembalikan lagi untuk membiayai program-program pengembangan kelapa sawit rakyat yang diamanatkan pemerintah kepada badan di bawah Kementerian Keuangan tersebut. Adapun, program yang dibiayai menggunakan hasil pungutan ekspor di antaranya adalah insentif dan pendanaan program pengembangan B40.

“Yang utama kita lakukan dari sektor hulu dulu nih. Sektor hulu adalah peremajan sawit rakyat. Yang kita berikan bantuan hibah kepada pekebun sawit rakyat. Bukan ke industri ya, ke pekebun sawit rakyat yang sifatnya bantuan dan ini bukan pinjaman. Tidak perlu dikembalikan lagi,” papar Zaid.

Selain itu, dana hasil pungutan ekspor juga dimanfaatkan untuk peremajaan sawit rakyat, pemberian bantuan sarana-prasarana, kegiatan-kegiatan pengembangan SDM, hingga pendidikan dan pelatihan kepada para petani rakyat.

Terlepas dari itu, Zaid mengakui, meskipun sawit merupakan aset strategis nasional yang efektif untuk mendongkrak perekonomian dan penyerapan tenaga kerja, namun produktivitas sawit Indonesia masih kalah dari Malaysia. Berdasar data yang dipaparkannya, pada 2025 produktivitas sawit Indonesia hanya sebesar 3,61 MT/hektare/tahun, dengan luas lahan sebesar 12,91 juta hektare (angka sementara).

Sedangkan, produktivitas sawit Malaysia pada periode yang sama mencapai 4,02 MT/hektare/tahun, dengan luas lahan hanya 5,04 juta hektare (angka sementara).

“Harapan kita kedepan di 2040, 2045 sawit ini produktivitasnya akan semakin meningkat dan dua setengah kali lipat tadi. Terus, nah ini data berdasar publikasi BPS 2024 ternyata perluasan lahan ini belum tentu meningkatkan kenaikan produksi,” katanya.

Luas lahan sawit yang lebih luas dari Malaysia menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Menurut Zaid, dengan luas lahan lebih besar, semestinya meningkatkan produktivitas sawit dapat dilakukan. Karenanya, pada tahun ini pemerintah menarget, produktivitas CPO dari perkebunan sawit rakyat dapat mencapai 3 juta ton per tahun.

“Dari 16 juta hektare kurang lebih lahan Indonesia, posisi pekebun sawit rakyat itu yang coklat. 42 persen kalau yang perkebunan negara itu hanya 4 persen. Sisanya sebesar 54 persen itu perkebunan swasta. Artinya apa? Kalau kita lihat posisi ini, peran pekebun sawit rakyat ini sangat berpengaruh. Dan ini yang perlu kita dukung. Pekebun sawit rakyat,” tegas dia.

Baca juga artikel terkait SAWIT atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Ekbis
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fahreza Rizky