tirto.id - Wakil Kepala Badan Penyelenggara Haji (BP Haji), Dahnil Anzar Simanjuntak, menyampaikan evaluasi ihwal pelayanan jemaah haji tahun 2025, salah satunya dampak dari sistem multisyarikah atau banyaknya perusahaan penyedia layanan haji yang terlibat di penyelenggaraan haji. Dari jumlah satu syarikah pada tahun lalu, tahun ini jumlahnya melonjak menjadi delapan.
“Kemudian, yang keempat ternyata multisyarikah, multisyarikah itu teman-teman sekalian adalah perusahaan yang menangani pelayanan terhadap jemaah kita, tahun yang lalu itu hanya 1 syarikah kemudian tahun ini 8 syarikah,” kata Dahnil, dalam konferensi pers di Kantor BP Haji, Jakarta Pusat, Rabu, (11/6/2025) malam.
Menurut Dahnil, terlalu banyaknya syarikah yang mengurusi layanan haji memperlihatkan adanya kendala karena adanya persaingan yang tak sehat. Terlebih, dia menilai syarikah memiliki permasalahannya sendiri dalam melayani jemaah haji di Tanah Suci.
Sebagai langkah perbaikan sekaligus masa transisi perpindahan penyelenggaraan haji, BP Haji berencana membatasi jumlah syarikah dengan jumlah maksimal hanya dua perusahaan pada musim haji 2026. Dengan jumlah yang lebih sedikit, BP Haji berharap koordinasi layanan bisa lebih baik dan mutu pelayanan bisa ditingkatkan.
“Kemungkinan besar kami dari badan penyelenggara haji tahun depan akan memastikan tidak akan menggunakan multisyarikah, paling banyak itu 2 syarikah supaya kemudian bisa fokus dan kemudian bisa ada pembanding 1 syarikah dengan syarikah yang lain,” tutur Dahnil.
Dahnil juga menyoroti beberapa hal lain yang menjadi catatan BP Haji selama pemantauan dan pendampingan di lapangan. Salah satunya adalah persoalan transportasi jemaah, terutama saat puncak ibadah haji.
“Jadi kalau kemudian ditemukan bahwasannya banyak jamah Indonesia yang jalan, begitu, terpaksa jalan ketika dari Musdalifah ke Mina atau dari Arafah ke Musdalifah bahkan harus menunggu lama dari hotel ketika menuju ke Arafah, itu terkait dengan banyaknya kejadian wanprestasi syarikah transportasi ini,” terang Dahnil.
Sementara itu, di sisi konsumsi, distribusi makanan juga belum sepenuhnya berjalan lancar. Dahnil mengatakan pihaknya menerima laporan bahwa makanan tidak selalu sampai ke jemaah, terutama dalam dua hingga tiga hari terakhir menjelang kepulangan.
“Sekali lagi, catering banyak yang tidak tidak commit terhadap kualitas catering, dan hari ini saja, tepat 2-3 hari ini kita masih temukan catering tidak sampai ke hotel sehingga jamaah ada yang tidak makan pagi, siang, dan malam yang kemudian oleh catering diganti uang sebagai penggantinya. Tapi yang jelas ada wanprestasi yang kemudian merugikan jamah terkait dengan ini,” tuturnya.
Dalam aspek layanan kesehatan, Dahnil menyebut Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) belum bisa beroperasi secara maksimal, meskipun sudah mengantongi izin terbatas. Ditambah dengan jumlah tenaga medis yang terbatas, hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam melayani jemaah haji Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 ribu orang.
Dahnil menyoroti pentingnya memperhatikan kelayakan kesehatan (istitha’ah) calon jemaah. Ia menyebut menemukan bahwa sejumlah jemaah yang diberangkatkan sebenarnya berada dalam kondisi fisik yang tidak ideal untuk melaksanakan ibadah haji.
“Sehingga sebenarnya jemaah haji kita ini tidak bisa berangkat ke Saudi Arabia namun kemudian dengan berbagai hal kemudian tetap diberangkatkan. Sebenarnya sangat tidak sehat dan itu yang juga diprotes oleh kementerian haji dan umroh di Arab Saudi,” katanya.
Dahnil juga menemukan adanya fenomena ‘nebeng’ haji di mana para petugas tak melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya. Dia menyebut bahwa ke depan, pihaknya akan melakukan evaluasi petugas haji khususnya yang berada di daerah.
“Karena ada juga kemudian petugas yang kita temukan itu nebeng naik haji, kira-kira begitu jadi ada di daerah kemudian sekadar nebeng naik haji tapi kemudian tidak melakukan fungsinya sebagaimana mestinya sebagai petugas haji,” tutur Dahnil
Meskipun demikian, BP Haji memberikan apresiasi terhadap para petugas haji karena masih banyak lagi petugas yang sudah menjalankan fungsinya dan bekerja secara ikhls dan tulus. Padahal, katanya, kuota jemaah dan petugas masih belum sebanding.
“Jadi, jemaah kita adalah jemaah haji terbesar di dunia 200.000an lebih sedangkan petugas kita sangat terbatas kurang lebih ada 4.000-an,” pungkas Dahnil.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id
































