tirto.id - Menteri Agama, Nasaruddin Umar, meminta maaf atas keterlambatan distribusi makanan yang dialami jemaah haji Indonesia di sejumlah hotel. Peristiwa itu terjadi usai fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Menag menegaskan jemaah yang tidak menerima makanan akan mendapat kompensasi. “Kemarin ada keterlambatan distribusi makanan. Kita sudah antisipasi dengan cara jemaah yang tidak dapat makanan dikasih kompensasi uang,” ujar Nasaruddin di Makkah, Arab Saudi, Rabu (11/6/2025).
Selama berada di Makkah Al-Mukarramah, jemaah menerima 84 kali layanan katering. Selain itu, pada fase puncak haji di Armuzna, disediakan 15 kali makan, dan 27 kali makan saat berada di Madinah Al-Munawwarah. Layanan ini bekerja sama dengan sejumlah penyedia makanan.
“Kami tidak ingin mengurangi sedikit pun hak-hak jemaah. Kalau ada keterlambatan seperti ini, akan kami penuhi. Mari kita saling memaafkan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kenyataannya seperti ini. Maka kami datang langsung untuk memastikan pagi ini tidak ada lagi masalah,” lanjutnya.
Menag juga berdialog dengan jemaah terkait layanan konsumsi selama fase Armuzna. Jemaah menyatakan makanan cukup melimpah dan mereka merasa puas.
Sementara itu, dalam keterangan terpisah, Amirulhaj sekaligus Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Muhadjir Effendy, menyoroti perlunya perbaikan sistem distribusi makanan siap saji yang disiapkan oleh pengelola.
“Kemarin banyak yang tidak kebagian karena distribusinya per kelompok, bukan by name. Mestinya ada label nama supaya saat dikirim ke hotel, jemaah tahu ini untuk siapa,” ujarnya di Jeddah, Arab Saudi.
Ia menambahkan, makanan siap saji tersebut memiliki daya simpan panjang, bahkan hingga satu tahun, sehingga sebagian jemaah membawanya pulang sebagai oleh-oleh.
“Saya temui di beberapa tempat, makanan ini ada yang dibawa pulang sebagai souvenir. Jadi, sangat penting distribusinya benar-benar tertib agar jemaah yang membutuhkan benar-benar menerima haknya,” imbuhnya.
Meski demikian, Muhadjir menilai kualitas makanan sangat baik, namun sistem distribusinya di lapangan masih perlu evaluasi agar lebih tepat sasaran.
“Tempat pemrosesan makanannya sangat bagus, higienis, dan standarnya tinggi. Dari sisi pengelolaan saya kira sangat baik,” pungkasnya.
Penulis: Fahreza Rizky
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id
































