tirto.id - Anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menggelar rapat bersama di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta Pusat, Jumat (23/1/2026).
Dalam rapat triwulanan tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa; Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo; Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar; serta Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu membahas sejumlah isu, salah satunya terkait upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.
“Iya dibahas dan langkah-langkah sinergis dan di depan tentunya (upaya stabilisasi rupiah oleh) Bank Indonesia,” ungkap Mahendra kepada para pewarta di selasar Kemenkeu.
Meski demikian, Mahendra menilai langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan bank sentral sejauh ini sudah berjalan dengan baik dan dapat terus dilanjutkan. Karena itu, dalam rapat yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut, pada dasarnya tidak ada pembahasan mengenai langkah baru yang perlu ditempuh BI untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda.
“Langkah-langkah yang dilakukan Bank Indonesia saya rasa memang sudah dilakukan dengan baik. Dan untuk dilanjutkan, tidak ada yang spesifik terkait dengan hal baru. Tapi lebih mengoptimalkan apa yang dilakukan oleh Bank Indonesia,” jelasnya.
Sementara itu, Perry yang turut hadir dalam rapat tersebut enggan merespons pertanyaan awak media.
Selain isu stabilisasi nilai tukar rupiah, rapat KSSK juga membahas secara umum berbagai perkembangan fiskal, moneter, serta kondisi sektor keuangan.
“Koordinasi aja, karena ini kan yang rapat regular 3 bulanan ya. Semua secara umum, ga ada isu spesifik lebih menyeluruh ada fiskal moneter dan sektor keuangan,” tukas Mahendra.
Menutup akhir pekan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup di level Rp16.820 per dolar AS, menguat 76 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.896. Rupiah bahkan sempat menguat hingga 80 poin, kian menjauh dari level Rp17.000 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah turut dipengaruhi oleh pelemahan indeks dolar AS di pasar global. Ia menjelaskan bahwa pelaku pasar saat ini menantikan keputusan penting dari Presiden AS Donald Trump.
"Pasar saat ini menunggu pemilihan Presiden AS Donald Trump untuk Ketua Fed berikutnya yang menggantikan Jerome Powell. Ketua The Fed yang lebih lunak akan meningkatkan spekulasi tentang penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































