tirto.id - Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Bali memetakan titik-titik rawan konflik dalam pelaksanaan Hari Raya Nyepi yang beririsan dengan Hari Idul Fitri, khususnya dalam momentum takbiran. Tiga daerah yang diatensi adalah Kabupaten Jembrana, Kabupaten Buleleng, dan Kota Denpasar.
Kabag Ops BIN Daerah Bali, Teddy M. Budiman, mengungkap terdapat beberapa potensi kerawanan pada Nyepi dan Idul Fitri. Pertama adalah potensi konflik dan isu SARA yang dapat muncul akibat kesalahpahaman aktivitas masyarakat non-Hindu saat Nyepi dan munculnya isu tersebut di media sosial.
"Tim Siber dari BIN Daerah Bali telah melakukan upaya-upaya. Salah satunya dengan melakukan Report as Spam (RAS) terhadap akun-akun yang menyebarkan narasi negatif yang memicu munculnya hoaks dan tersebarluasnya hoaks, serta memicu potensi kerawanan dalam momentum Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri," ungkap Teddy di Kantor Gubernur Bali, Senin (16/03/2026).
Kedua, lonjakan mobilitas masyarakat yang berpotensi menimbulkan kemacetan, kepadatan transportasi, serta kerawanan kriminalitas di jalur mudik dan pusat transportasi. Teddy melihat, potensi tersebut sudah mulai terlihat di dua hari pertama arus mudik Lebaran.
Oleh sebab itu, BIN Daerah Bali tengah meningkatkan kegiatan deteksi dini dan cegah dini melalui pemantauan situasi wilayah, serta pengumpulan informasi oleh unsur intelijen dan aparat keamanan.
Di samping itu, BIN Daerah Bali juga melakukan penggalangan terhadap tokoh agama, masyarakat, dan adat dalam menjaga toleransi dan keharmonisan antarumat beragama.
"Di beberapa kelompok yang kami nilai memiliki potensi untuk menumbuhkembangkan intoleransi, kami juga menempatkan petugas-petugas untuk bisa memonitor perkembangan kegiatannya, sehingga pergerakan dari kelompok-kelompok itu bisa terus kami waspadai," jelas Teddy.
Panglima Kodam (Pangdam) IX/Udayana, Mayjen TNI Piek Budyakto, menjelaskan antrean kendaraan menjadi salah satu kerawanan yang diantisipasi selama Lebaran 2026. Dia menyebut, antrean di Pelabuhan Gilimanuk sempat mengular hingga 10–15 jam selama akhir pekan.
"Semoga hari ini sampai besok atau lusa bisa dikeluarkan semua antrean tersebut. Paling tidak, nanti tanggal 18 untuk yang mudik keluar Bali sudah selesai, sudah kosong," imbuhnya.
Untuk pengamanan selama Nyepi dan Lebaran 2026, Kodam IX/Udayana menurunkan 1326 personel TNI dengan sasaran pengamanan objek vital, sumber energi, bandara, telekomunikasi, dan rumah sakit. Selain itu, pawai ogoh-ogoh menjelang Nyepi juga menjadi sasaran pengamanan TNI.
"Ada berita hoaks yang ada di media sosial. Hal itu biasanya adalah oknum yang ingin memecah belah atau membuat suasana tidak bagus," tambah Piek.
Sementara itu, Gubernur Bali, Wayan Koster, mengungkap umat muslim di Bali terkonsentrasi di wilayah Kota Denpasar, Kabupaten Buleleng, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Karangasem, dan Kabupaten Tabanan.
Namun, Koster melihat tidak ada permasalahan dalam penyelenggaraan malam takbiran dikarenakan mayoritas merayakan Idul Fitri di tanggal 21 Maret.
"Suatu langkah bagus di Denpasar sudah ada kesepakatan tidak ada takbiran, kemudian juga di Buleleng, bahkan ada yang lebih awal mengadakan takbiran. Kalau itu terjadi, maka tanggal 19 Maret tidak ada takbiran, jadi tidak ada hal yang perlu dirisaukan," kata Koster.
Hanya umat Islam dari Muhammadiyah yang diprediksi menyelenggarakan Idul Fitri di tanggal 20 Maret. Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali sudah mengantisipasi penyelenggaraan takbiran di tanggal 19 Maret.
"Sudah ada imbauan agar takbirannya dilaksanakan di rumah masing-masing. Kebetulan yang melaksanakan takbiran tanggal 19 enggak terlalu banyak. Aman, kondusif, dan saya sudah memfasilitasi untuk melakukan itu (takbiran)," tutupnya.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































