tirto.id - Bank Indonesia (BI) mencatat kinerja industri pengolahan pada triwulan II 2025 masih berada pada fase ekspansi. Hal ini tercermin dari Prompt Manufacturing Index (PMI) sebesar 50,89 persen. Meski begitu, kinerja industri pengolahan sampai akhir Juni tersebut mengalami pelambatan dari Triwulan sebelumnya yang masih berada pada level 50,89 persen.
Pelambatan kinerja industri pengolahan tersebut dirorong oleh turunnya serapan tenaga kerja pada triwulan II 2025 yang hanya berada pada level 48,75 persen atau berada dalam zona kontraksi. Berbalik arah dari triwulan sebelumnya yang masih berada pada angka 50,49 persen.
“Kondisi penggunaan tenaga kerja triwulan III 2025 diprakirakan masih berada pada zona kontraksi, tercermin dari nilai indeks yang relatif stabil dari triwulan sebelumnya, yaitu 48,75 persen,” tulis Bank Indonesia, dalam laporannya, dikutip Sabtu (19/7/2025).
Sejalan dengan itu, komponen penerimaan barang input pada triwulan II 2025 juga berada pada zona kontraksi di posisi 48,75 persen. Kontraksi tersebut lebih dalam dari triwulan I 2025 yang sebesar 49,02 persen.
Sebaliknya, volume persediaan barang jadi sampai akhir Juni 2025 tercatat masih kuat dengan indeks sebesar 51,33 persen, kendati lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang masih sebesar 52,69 persen. Pada saat yang sama, volume pesanan industri pengolahan juga masih berada di zona ekspansi dengan indeks 51,10 persen, lebih rendah dibanding 52,94 persen pada triwulan I 2025.
“Pada triwulan II 2025 komponen volume produksi terindikasi meningkat dengan indeks sebesar 53,45 persen dibandingkan dengan 52,28 persen pada triwulan sebelumnya seiring dengan permintaan yang terjaga pada sejumlah event Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan kapasitas penyimpanan yang memadai,” bunyi laporan Bank Indonesia tersebut.
Sementara itu, jika dilihat dari sub-lapangan usahanya, kinerja cukup apik masih terjadi pada industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman dengan indeks 57,61 persen dan industri mesin dan perlengkapan dengan indeks 58,24 persen. Sedangkan yang mencatatkan kontraksi adalah industri barang dari logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik dengan indeks 48,62 persen dan industri furniture dengan indeks 42,40 persen.
Secara total, kinerja lapangan usaha industri pengolahan di triwulan III diperkirakan masih berada pada zona ekspansif dengan indeks sebesar 50,85 persen.
“Berdasarkan komponen pembentuknya, mayoritas komponen diprakirakan berada pada fase ekspansi dengan indeks tertinggi pada komponen volume persediaan barang jadi, diikuti oleh volume produksi, volume total pesanan, dan kecepatan penerimaan barang input,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id





































