Menuju konten utama
Lebaran Idulfitri 2023

Berbagi Angpau saat Lebaran: antara Sedekah & Tuntutan Sosial

Tradisi berbagi angpau saat Idulfitri merupakan cara warga membangun keintiman atau kohesi sosial di momen lebaran, kata sosiolog.

Berbagi Angpau saat Lebaran: antara Sedekah & Tuntutan Sosial
Pedagang menjual amplop lebaran di Jalan Raya Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jum'at (17/6). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

tirto.id - Selain ketupat, opor hingga kue nastar, momen lebaran juga identik dengan angpau. Tradisi berbagi angpau ini biasanya dilakukan saat silaturahmi usai melakukan salat id. Sebagian umat Islam biasanya akan berbagi kebahagiaan dengan cara memberikan uang kepada anak-anak dan orang-orang terdekat yang dibungkus dengan amplop bertuliskan “Selamat Idulfitri” atau ucapan sejenisnya.

Novi Hidayati Afsari, seorang dosen di sebuah universitas di Bandung, Jawa Barat, beberapa tahun terakhir turut menjadi bagian dari para pemberi angpau lebaran. Dalam keluarga besarnya, ia dianggap telah memiliki penghasilan yang stabil sehingga tuntutan sosial itu menghampirinya.

“Tiap tahun ngasih karena gini, ini di samping budaya, [memberi angpau] juga [menjadi] tuntutan sosial. Pasti, kan, kalau yang sudah bekerja dianggap sudah berpenghasilan dan lain sebagainya dan biasanya yang meminta keponakan yang kecil-kecil," kata Novi menceritakan salah satu rutinitasnya dalam menyambut lebaran beberapa tahun terakhir.

Sembari tertawa, ia tak menampik bahwa pada mulanya ada rasa berat yang membebani pundaknya ketika beralih dari yang semula berperan sebagai penerima, kemudian menjadi bertanggung jawab membagi angpau lebaran dari penghasilan sendiri.

“Di awal saya punya penghasilan jelas itu beban. Belum bisa memprediksikan. Tuntutannya berbeda, dulu saya dikasih, sekarang [saya] yang harus ngasih," katanya.

"Pada saat awal pasti beban, ke sini-ke sini karena sudah ketahuan nominalnya berapa [yang harus dikeluarkan setiap tahun] justru ini menjadi motivasi dan dorongan dan ada saja rejekinya untuk memenuhi hak tersebut,” kata dia menambahkan.

Salah satu dorongan kuat yang meneguhkan Novi tetap menjalankan tradisi berbagi angpau ini adalah untuk memperpanjang pahala sang ibu, yang sudah terlebih dahulu dipanggil Yang Maha Kuasa.

“Motivasi untuk memberi juga, kan, saya almarhumah ibu kan sudah tidak ada. Kadang ya sebagai bentuk jariyah dari ibu, atas nama ibu. Kenapa saya tetep ngasih juga? Ya minimal ini diatasnamakan pemberian dari ibu saya. Biar pahalanya tetap mengalir," katanya.

Selain itu, ia menyebut bahwa keluarga dari pihak ayahnya adalah pihak yang dikunjungi ketika lebaran. Ia bercerita tentang suasana ramainya hari raya Idulfitri di rumah ayahnya yang dijadikan tempat berkumpul tersebut.

Untuk itu, sejak mulai berpenghasilan, ia membiasakan diri untuk mengkalkulasikan seluruh kebutuhan hari raya termasuk angpau yang akan dibagi ke sanak saudaranya.

"Ini bagian dari tuntutan sosial, saya keluarga bapak itu yang dikunjungi, bukan yang berkunjung. Jadi benar-benar semua ke rumah, sehingga itu [angpau] harus dipersiapkan," katanya.

Ia berterus terang bahwa setiap tahun dirinya menghabiskan kurang lebih 5 juta rupiah untuk keperluan berbagi angpau tersebut. Salah satu pos pendapatan yang ia alokasikan untuk keperluan ini adalah THR.

“Sumbernya dari berbagai sumber. Kadang THR saja sudah tidak cukup untuk diplotkan. Seperti biasa kalau saya tiap tahun habis 5 jutaan. Belum termasuk beli amplopnya. Jadi kadang THR tidak mencukupi untuk hal seperti itu juga. THR mah sudah dipastikan ya, jadi saya tuh pasti THR untuk yang seperti itu. Ditambah dengan penghasilan lain yang sudah dipikirkan dan sudah diperhitungkan," katanya.

Saat ini, ia memilih untuk melihat tradisi ini sebagai bagian dari niat baik untuk berbagi kebahagiaan dengan sanak saudara. Ia meyakini bahwa niat baik akan selalu bertemu dengan jalannya.

“Daripada saya menggerutu tidak ikhlas, mending ikhlas saja, tetap saja bisa ngasih. Alhamdulillah ada aja [sumbernya]. Jadi prinsipnya ketika kita niatnya baik, pasti ada aja rejekinya. Intinya jangan sampai memaksakan," katanya.

Cerita lain datang dari penerima angpau, Lita (23). Ia bercerita tentang sejumlah memori masa kecil hingga remaja saat masih kerap menerima angpau dari sanak saudaranya. Ia bilang dirinya pernah mendapat angpau dengan nominal hingga 50 ribu rupiah dalam satu amplop. Dalam satu musim lebaran, ia pernah mendapatkan total Rp300 ribu dari sanak saudaranya.

“Paling banyak per orang dapat Rp50 ribu, lebaran kalau ditotal bisa dapet 300 ribuan," katanya bercerita.

Ia mengatakan, uang angpau yang ia peroleh saat Idulfitri biasanya ia manfaatkan untuk membeli barang atau makanan yang ia inginkan.

Setali tiga uang dengan cerita Novi, di keluarga Lita juga ada aturan tak tertulis bahwa anggota keluarga yang sudah bekerja diharapkan berbagi angpau saat momen lebaran tiba.

“Kalau yang udah kerja atau orang tua biasanya ngasih angpau ke anak kecil. Kalau udah gede misal SMA/kuliah gitu jarang dapet angpau," katanya.

Sedekah adalah Hal Baik, tapi Jangan Sampai Memberatkan

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Fahrurrozi atau Gus Fahrur menyebut, kebiasaan berbagi angpau tersebut adalah hal yang baik. Sebab, kata Gus Fahrur, hal tersebut termasuk bentuk membahagiakan orang lain.

“Memberi, menyenangkan orang, itu, kan, salah satu ajaran nabi, kan. Termasuk amalan yang disukai Allah," kata dia saat dihubungi reporter Tirto.

Ia mengatakan tak ada batasan khusus terkait pihak-pihak yang layak menerima angpau lebaran tersebut. Meskipun yang jamak ditemui adalah anak-anak.

“Boleh dilakukan pada orang muslim, non-muslim pada tetangga-tetangga. Kan, kadang orang di kampung ada yang muslim ada yang non-muslim, nggak ada masalah. Biasanya kalau anak kecil-kecil itu, kan, datang berombongan, kita kasih 5 ribuan. Memberi hadiah itu baik-baik aja," katanya.

Namun demikian, ia memberikan batasan supaya pihak yang memberi tidak memaksakan diri, jangan sampai dapat menyulitkan dirinya sendiri di kemudian hari.

“Tentu saja yang namanya sedekah itu, kan, harus dilakukan dengan ikhlas. Ya ngapain kalau sampai utang. Namanya sedekah itu, kan, dengan kerelaan hati, nyenengin. Tentu saja nggak perlu memberatkan diri sendiri kan," kata Gus Fahrur.

“Kata Al-Qur’an juga begitu, kan, jangan kamu kaya tanganmu diborgol ke atas, artinya terlalu pelit tapi juga jangan diobral sehingga kamu sampai pinjem atau sampai utang. Semampunya nggak usah ngoyo-ngoyo," katanya menambahkan.

Hal senada diungkapkan Ketua Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad. Ia menyebut bahwa Idulfitri adalah momen suka cita, sehingga membagi kebahagian dalam momen tersebut adalah hal baik selama tak ada intensi buruk di baliknya.

“Lebaran itu, kan, suasana gembira, bagus memberi kegembiraan untuk orang lain. Apalagi kalau yang diberi itu fakir miskin. Asal mungkin yang dilarang memberi angpau yang dengan tujuan untuk menyuap atau supaya berpihak kepada dia,” kata dia.

Sementara itu, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti mengatakan, sedekah tidak boleh diniatkan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk menunjukkan kasih sayang terhadap sesama.

"Berbagi angpau atau hadiah saat Idulfitri adalah perbuatan dan tradisi yang baik. Bagi yang mampu sebaiknya bisa menyisihkan sebagian rejeki bagi sanak keluarga sebagai tanda kasih sayang dan jalinan silaturrahim," kata Abdul Mu'ti.

Namun, kata dia, dalam bersedekah tidak boleh berlebihan dan memaksakan diri.

“Sedekah diberikan dengan ikhlas sesuai kemampuan. Tidak boleh memaksakan diri dan menyombongkan diri," ujarnya menambahkan.

Berbagi Angpau = Membangun Kohesi Sosial

Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Ida Ruwaida melihat, tradisi berbagi angpau saat hari raya Idulfitri merupakan cara masyarakat untuk membangun keintiman atau kohesi sosial di momen lebaran.

“Pembagian uang pada saat lebaran, bagi sebagian orang dimungkinkan merupakan bagian dari zakat maal, yang dibagikan kepada sanak kerabat, juga anak anak. Pada konteks ini, maka pembagian uang sekaligus media membangun kohesi sosial, atau keintiman sosial," kata Ida.

Namun demikian, Ida menyebut ada perbedaan mendasar antara angpau Imlek dan angpau yang biasa dibagikan saat momen Idulfitri. Terutama dalam hal segmentasi penerimanya.

“Pemberian angpau tidak menjadi tradisi lebaran, tapi melekat menjadi bagian dari tradisi Imlek. Namun karena pada hari Idulfitri juga ada pembagian uang, yang kadang dimasukkan ke dalam amplop, maka sebagian orang menyebutnya sebagai angpau," ujar Ida memaparkan.

Ia menambahkan, “Pemberian uang tersebut sebagai wujud keriaan, terutama pada anak anak. Berbeda halnya dengan tradisi angpau di Imlek, bahwa penerimanya adalah mereka-mereka yang berstatus lajang/belum menikah, tidak terbatas usia," imbuhnya.

Meski demikian, Ida menyebut bahwa setiap daerah mungkin memiliki cara yang berbeda-beda dalam membangun kohesi sosial dimaksud. Sebagian dengan cara berbagi angpau, namun ada pula yang menggelar open house untuk mengundang sanak kerabat berkumpul di rumahnya.

“Pemberian uang sejauh ini tidak menjadi simbol sosial di masyarakat Indonesia, karena setiap wilayah di negeri ini bisa jadi menunjukkan bentuk keriaan, kebersamaan, solidaritas yang berbeda [saat Idulfitri]. Ada yang dalam bentuk 'open house', tanpa membagikan uang," tandasnya.

Baca juga artikel terkait IDUL FITRI 2023 atau tulisan lainnya dari Fatimatuz Zahra

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Fatimatuz Zahra
Penulis: Fatimatuz Zahra
Editor: Abdul Aziz