tirto.id - Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Tbk, John Kosasih, mengakui gejolak geopolitik imbas perang Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Iran memengaruhi harga sejumlah komoditas. Salah satunya, yakni plastik.
"Terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah, sektor yang terdampak di BCA terutama terkait plastik, karena harga material mengalami peningkatan," kata John, saat konferensi pers secara virtual, Kamis (23/4/2026).
John menyatakan terdapat pula lonjakan harga dalam industri energi. Mengantisipasi lonjakan harga energi dan plastik, BCA disebut terus menjalin komunikasi dengan para nasabah mereka.
Menurut dia, nasabah korporasi BCA telah mengantisipasi kenaikan lonjakan harga tersebut. Meski demikian, John tidak mengungkapkan secara rinci antisipasi dari nasabah korporasi BCA.
Ia hanya menyebutkan nasabah korporasi BCA menangani lonjakan harga plastik-energi dengan baik.
"Terkait lonjakan harga komoditas dan energi, kondisi ini sudah diantisipasi oleh nasabah korporasi. Mereka sudah mempersiapkan langkah antisipasi menghadapi ketidakpastian global," tutur John.
"Langkah yang dilakukan adalah terus berkoordinasi dengan nasabah untuk melihat kondisi usaha dan mitigasi yang mereka lakukan. Sejauh ini kondisi masih terjaga dan nasabah tetap menjalankan usaha dengan baik," lanjut dia.
John turut menyinggung soal melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Adapun nilai tukar rupiah sempat tembus Rp17.300 per dolar AS pada Kamis ini.
Kata dia, portofolio kredit valuta asing (valas) BCA sekitar 4,9 persen atau di bawah 5 persen dari total kredit. Dengan persentase tersebut, risiko BCA atas pelemahan rupiah disebut masih tergolong kecil.
"Dampaknya [pelemahan rupiah] tidak signifikan. Untuk eksportir, pelemahan rupiah justru bisa menguntungkan. Namun, pelaku usaha tentu lebih mengharapkan kondisi yang stabil," tutur John.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id





































