Menuju konten utama
Mozaik

Barang Siapa Kencing, Harus Membayar Pajak Urine

Di zaman Romawi Kuno, urine dipajak oleh pemerintah. Sebab, urine dimanfaatkan untuk berbagai hal, dari mencuci pakaian sampai industri pewarna kain.

Barang Siapa Kencing, Harus Membayar Pajak Urine
Header Mozaik Pajak Urine Zaman Romawi Kuno. tirot.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - “Uang tidak bau (pecunia non olet)" adalah adagium Latin yang santer dikaitkan dengan Kaisar Romawi Vespasianus (69-79 M).

Secara metaforis, maknanya cukup sederhana: tidak masalah bagaimana cara manusia mendapatkan uang, sebab segalanya bernilai sama. Jika ditelusuri, hal itu berkaitan dengan zat cair buangan kandung kemih yang mengusik indera penciuman.

Seia sekata dengan tulisan Robert Penn Warren dalam All the King’s Men (1981: 359), frasa itu menguat sejak Kaisar Romawi Vespasianus membebankan pajak urine untuk mengais pundi-pundi kekaisaran. Pajak tersebut tak mengenal golongan. Sebab, kencing adalah bagian tak terpisahkan dari manusia sehingga mudah sekali dikenai biaya.

Siapa pun yang kencing di toilet umum tak lepas dari pungutan pajak. Cara tersebut berhasil menambal kas negara yang rontok akibat perang di era sebelumnya, rezim Kaisar Nero.

Pada masa Romawi Kuno, urine memang benar-benar menjelma zat serba-guna. Cairan ekskresi manusia itu menjadi bahan baku penting untuk penatu, penyamakan kulit hewan, dan bahkan obat kumur mulut.

Gebrakan dari Sang Kaisar

Dalam buku yang beken dikenal The Year of Four Emperors, sepeninggal Nero, perang saudara antarahli waris kekaisaran menjadi medan laga yang cukup populer di sejarah Romawi Kuno.

Secara berturut-turut, Galba, Otho, Vitellius, dan Vespasianus, berebut takhta dan saling klaim gelar kaisar. Namun, hanya nama terakhir sekaligus putra bungsu Nero, Vespasianus, yang berhasil bertahan. Lalu, dia proklamasikan dinasti Flavian yang baru, dengan Titus dan Domitianus sebagai penerusnya.

Pengeluaran negara di masa Nero membengkak gila-gilaan, yang sebagian besar digunakan untuk memuaskan hasrat dan egonya. Akibatnya, Vespasianus mewarisi utang dari pendahulunya dan masalah baru: perbendaharaan kekaisaran hampir habis.

Demi mendongkrak kas negara, Vespasianus bahkan memungut bea berat di wilayah Aleksandria, Mesir, yang jaraknya ribuan kilometer dari episentrum Roma.

Sejarawan Cassius Dio menulis dalam Roman History (1925: bagian 65, hlm. 273), “Pertama-tama, dia [Vespasianus] mengumpulkan sejumlah besar [pajak] dari mereka dengan berbagai cara, tidak mengabaikan satu pun sumber, betapa pun tercela sumber tersebut, melainkan memanfaatkan setiap sumber, baik yang suci maupun yang tidak senonoh, yang dapat digunakan untuk memperoleh uang.”

Ketika Vespasianus bersama putranya, Titus, melakukan perjalanan ke Aleksandria, tak sedikit warga lokal meneriakinya lantaran pungutan pajak yang mencekik. Tak banyak bicara, Vespasianus langsung memerintahkan pengawalnya untuk “menghargai” setiap kepala orang yang melontarkan ejekan kepadanya.

“Enam obol [satuan angka Yunani] lagi untuk mereka,” titahnya.

Titus, yang mencela cara ayahnya memalak pajak dengan sangat menjijikkan, justru mendapat pengalaman yang menampar realitas. Vespasian menempelkan koin di hidung anaknya dan berkata, "Pecunia non olet."

Pungutan Bau Jenis Baru

Dari ragam pajak aneh yang dikenakan Vespasianus, bisa dibilang pajak urine (vectigal urinae) yang paling cocok menempati urutan teratas. Yang pertama kali mencetuskan pungutan tersebut memang Nero, tetapi dia telah membatalkannya setelah waktu singkat.

Nama Vespasianus-lah yang paling sohor menerapkan pajak ini pada tahun 70 Masehi. Ia bahkan menjadikan urine sebagai penyumbang utama pundi-pundi uangnya.

Lalu, mengapa dia bersikeras menghidupkan kembali pajak tersebut? Lagi pula, apa nilai gunanya sesuatu yang sebenarnya “dibuang” sehingga seseorang mau membelinya?

toilet umum Romawi Kuno

toilet umum Romawi Kuno. foto/istockphoto

Pada akhirnya abad pertama Masehi, terdapat lebih dari 140 titik jaman umum Roma, yang disebut foricae publicae atau cloaca maxima Roma.

Masyarakat umum memperoleh akses gratis terhadapnya, kecuali para pengumpul urine, yang seringkali merupakan kontraktor swasta. Mereka harus membayar negara untuk hak eksklusif mengambil urine dan menjualnya kembali. Biasanya, pengepul urine mengetuk tong di bawah bangku atau urinoir, juga menempatkan amfora sebagai wadah penampung, lalu mengangkutnya.

Mula-mula, pihak kekaisaran membuka tender di pasar lelang untuk hak tersebut, menawarkan jumlah tetap setiap tahunnya. Pengaju tawaran tertinggi berhak mengambil zat kemih itu dari jamban-jamban kota. Akibatnya, setiap jamban menjadi perusahaan skala kecil yang berkontribusi langsung ke pundi-pundi kekaisaran.

Meskipun tidak seberat pajak tanah atau serumit pemungutan suara, pajak urine menuntut akurasi. Ada inspektur yang bertugas meninjau standardisasi ukuran amfora dan mengaudit para pengepul untuk memastikan iuran negara dibayar menyeluruh.

Efek riak ekonominya menggurita. Permintaan terhadap bejana dan tembikar meningkat, menuntut industri lokal menyesuaikan produksi untuk menampung cairan korosif itu.

Urin sebagai Industri, Sterilisasi, dan Tradisi

Bukti arkeologi Pompeii dan Ostia memperlihatkan situs-situs batu dan saluran tempat menampung serta mengolah urine, yang disebut fullonicae. Itulah bukti material dari ekonomi yang mengalihfungsikan limbah menjadi komoditas.

Sejumlah fullonicae berukuran kecil hingga besar telah ditemukan di Ostia. Kebanyakan merupakan properti pribadi yang terindikasi milik para keluarga kaya. Empat di antaranya dipublikasikan oleh A.L. Pietrogrande pada 1976 dalam jurnal Scavi yang dikelola publikasi lokal Ostia; dua lainnya digali oleh C. De Ruyt dan A. Pellegrino.

Pada masa Romawi Kuno, urine memang serbaguna. Di balik baunya yang mengusik, ada kimia sederhana, yakni urea, yang berfungsi mengurai zat menjadi amonia bila dibiarkan (biasanya selama 24 jam atau lebih). Amonia itulah agen alkali yang efektif memecah lemak, memutihkan kain, dan melembutkan kulit.

Fullones atau fuller (para penatu cucian professional) mengandalkan urine untuk membuat toga putih bersinar. Prosesnya dimulai dari merendam, menginjak-injak kain (mirip agitator mesin cuci modern), lalu membilas secara berulang. Amonia adalah kunci teknis yang menjadikan urine bernilai.

Mereka yang tak memiliki sabun mengandalkan urine sepenuhnya untuk membersihkan pakaian kotor.

Namun demikian, ada efek samping yang tak bisa diremehkan.

"Perendaman yang berkepanjangan dalam air pasti membuat kaki para fuller sangat rentan terhadap infeksi bakteri, virus, dan jamur. Paparan berulang kali terhadap urine dan tanah [bahkan hanya selama satu jam per hari] akan menyebabkan dermatitis iritasi, [ditandai dengan] kulit menebal, kering, dan pecah-pecah. Paru-paru fullers, yang terpapar belerang dan terbakar setiap hari, mungkin juga menderita komplikasi pernapasan parah," tulis Mark Bradley dalam Foul Bodies in Ancient Rome (2015: 10).

Industri penyamakan kulit hewan

Industri penyamakan kulit hewan. foto/istockphoto

Dalam industri penyamakan pada zaman Romawi Kuno, kulit hewan akan direndam di dalam urine untuk merontokkan sisa-sisa rambut serta kotoran membandel lainnya, lalu menggosok-gosoknya agar teksturnya lunak.

Tak berakhir di situ, fungsi alkalinitas urine juga bermanfaat sebagai mordan untuk kebutuhan pewarna tekstil. Sebenarnya fungsi tersebut bisa digantikan tawas. Sayangnya, batuan tersebut mahal dan sering dikendalikan oleh monopoli. Maka, urine hadir sebagai alternatif industri ramah kantong.

Namun yang paling mengejutkan, orang Romawi Kuno percaya bahwa urine dapat memutihkan gigi. Mereka menggunakannya dalam keadaan darurat sebagai pasta gigi. Kebiasaan tersebut lebih menunjukkan logika utilitarian daripada universalitas budaya.

Reaksi sosial pada masa-masa itu beragam. Sebagian menganggapnya pragmatis; sebagian lain melihatnya sebagai intrusi moral.

Seperti larik terakhir puisi "Your Teeth!: to Egnatius" karya penyair Romawi Catullus, “Di Negara Spanyol, setiap pria terbiasa menggunakan air kencingnya sendiri untuk menyikat gigi dan gusi merahnya setiap pagi, jadi fakta bahwa gigimu begitu mengkilap hanya menunjukkan bahwa kamu yang paling banyak kencing.”

Eksistensi urine makin meluas jauh ke Abad Pertengahan, ketika kebutuhan mordan dan alkali membuat urin tetap bernilai lama setelah Roma runtuh.

Efek domino vectigal urinae oleh Vespasianus juga turut mewaris ke cabang nomenklatur tata bahasa Eropa modern. Di Italia, urinoir publik atau jamban kuno disebut vespasianos; di Prancis disebut vespasiennes.

Namun, terlepas dari asal-usul lucu dari istilah-istilah tersebut, kita tidak dapat membantah keberhasilan pajak Vespasianus. Sejarah meriwayatkan, Vespasianus telah meninggalkan kekayaan yang fantastis untuk para ahli warisnya.

Baca juga artikel terkait URINE atau tulisan lainnya dari Abi Mu'ammar Dzikri

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Abi Mu'ammar Dzikri
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin