Menuju konten utama

Bank Masih Lelet Pangkas Bunga Kredit, BI Ungkap Biang Keroknya

BI menilai upaya perbankan untuk menekan biaya dana masih menghadapi tantangan, terutama imbas special rate kepada nasabah prioritas atau deposan besar.

Bank Masih Lelet Pangkas Bunga Kredit, BI Ungkap Biang Keroknya
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kiri) didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kanan) menyampaikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (18/12/2024). Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuan BI atau BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 6 persen untuk mempertahankan stabilitas perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian pasar keuangan global akibat arah kebijakan Amerika Serikat (AS) dan eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai wilayah. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bank Indonesia (BI) mencatat penurunan suku bunga kredit perbankan masih berjalan lambat meskipun kebijakan akomodatif telah ditempuh.

Hingga Januari 2026, suku bunga kredit hanya turun sebesar 40 basis poin (bps) secara tahunan, dari 9,20 persen pada Januari 2025 menjadi 8,80 persen.

“Suku bunga kredit perbankan yang baru turun 40 bps, dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi sebesar 8,80 persen pada Januari 2026,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG BI, Kamis (19/2/2026).

Perry mengungkapkan bahwa transmisi penurunan suku bunga kebijakan ke sektor perbankan terus berlanjut, namun masih terbatas. Hal ini terlihat dari penurunan suku bunga deposito yang juga terbatas.

"Transmisi penurunan suku bunga kebijakan terhadap suku bunga perbankan terus berlanjut, tetapi lebih terbatas. Suku bunga deposito 1 bulan baru turun sebesar 68 bps dari 4,81 persen pada Januari 2025 menjadi 4,13 persen pada Januari 2026," ujar Perry.

Menurutnya, upaya perbankan untuk menekan biaya dana masih menghadapi tantangan, terutama karena tingginya pemberian special rate kepada nasabah prioritas atau deposan besar. Saat ini, porsi dana mahal tersebut mencapai 26,42 persen dari total Dana Pihak Ketiga (DPK).

"Sehingga upaya untuk mengurangi pemberian special rate kepada deposan besar yang saat ini masih mencapai 26,42 persen dari total DPK, perlu terus dilanjutkan," ucapnya.

Bank sentral menilai penurunan biaya dana (cost of fund) ini harus segera ditransmisikan secara lebih agresif ke sektor riil melalui penurunan suku bunga kredit.

Di sisi lain, permintaan kredit perbankan menunjukkan peningkatan. Pada Januari 2026, pertumbuhan kredit mencapai 9,96 persen (year-on-year/yoy), sedikit meningkat dibandingkan posisi Desember 2025 yang sebesar 9,69 persen (yoy).

Pertumbuhan ini ditopang oleh seluruh segmen utama, dengan kredit investasi mencatatkan lonjakan yang lebih tinggi sebesar 22,38 persen (yoy). Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh 4,13 persen (yoy) dan kredit konsumsi tumbuh 6,58 persen (yoy)

"Perkembangan positif kredit ini didukung peningkatan kegiatan ekonomi, pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial Bank Indonesia, serta realisasi program prioritas pemerintah," jelas Perry.

Ke depan, BI optimistis pertumbuhan kredit akan semakin kuat seiring dengan meningkatnya permintaan dari sektor korporasi dan rumah tangga. Namun, BI mengingatkan perbankan untuk terus meningkatkan efisiensi agar suku bunga kredit dapat lebih kompetitif.

"Ke depan, upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan agar dapat mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tuturnya.

Baca juga artikel terkait SUKU BUNGA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana