Menuju konten utama

Bahlil: Negara Tak Mungkin Maju Kalau Jumlah Pengusaha Tak Naik

Dibandingkan Indonesia, Amerika Serikat dan Singapura memiliki rasio pengusaha lebih dari 10 persen.

Bahlil: Negara Tak Mungkin Maju Kalau Jumlah Pengusaha Tak Naik
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bersiap menyampaikan keterangan terkait izin tambang nikel Kepulauan Raja Ampat di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/6/2025). Pemerintah mencabut empat izin usaha pertambangan (IUP) nikel di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, antara lain milik PT Anugerah Surya Pratama (PT ASP) di Pulau Manuran, PT Kawei Sejahtera Mining (PT KSM) di Pulau Kawei, PT Mulia Raymond Perkasa (MRP) di Pulau Manyaifun dan Pulau Batang Pele. Serta PT Nurham Pulau Waegeo karena ditemukan sejumlah pelanggaran. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nz

tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pertumbuhan jumlah pengusaha hingga dobel digit merupakan syarat mutlak bagi Indonesia untuk menjadi negara maju.

Saat ini, proporsi pengusaha di Indonesia masih jauh dari ideal, yakni sekitar 3,1 persen hingga 3,2 persen dari total populasi yang berjumlah 280 juta jiwa.

“Negara tidak mungkin maju kalau jumlah pengusahanya tidak naik. Idealnya, jumlah pengusaha harus dobel digit,” kata Bahlil dalam agenda Hari Kewirausahaan Nasional 2025 di Kompleks Kementerian UMKM, Selasa (10/6/2025).

Ia membandingkan Indonesia dengan beberapa negara yang lebih dulu mencapai status negara maju, seperti Amerika Serikat dan Singapura yang memiliki rasio pengusaha lebih dari 10 persen, serta Malaysia dan Thailand yang masing-masing sudah mencapai lebih dari 6 persen.

“Bahkan, Singapura kini telah menembus angka 11-12 persen,” ujarnya.

Bahlil menambahkan, pertumbuhan wirausaha harus disertai dengan semangat nasionalisme agar tidak mudah tergoda menjual kepentingan bangsa.

“Kita membutuhkan pengusaha yang patriot. Ini sejalan dengan apa yang disampaikan Presiden Prabowo, jadilah pengusaha nasionalis, jangan gadaikan negara ke bangsa lain. Ini rohnya,” tegasnya.

Ia juga menyoroti peran besar UMKM dalam sejarah perekonomian nasional, khususnya saat menghadapi krisis ekonomi 1998. Menurutnya, UMKM terbukti menjadi penopang utama ekonomi Indonesia di saat sektor besar terpukul.

“Kalau ditarik data, dari 130 juta lapangan kerja, 120 jutanya diserap oleh UMKM. Total pelaku usaha kita 99,3 persen adalah UMKM. Saat saya menjabat Menteri Investasi, jumlah UMKM ada 64 juta,” ungkap Bahlil.

Kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga sangat signifikan, yakni mencapai 61 persen. Karena itu, kata Bahlil, memperkuat sektor UMKM dan meningkatkan jumlah pengusaha adalah kunci ketahanan ekonomi nasional.

“Selama UMKM kuat, insya Allah Indonesia akan jauh dari tempaan krisis, dan kalau ada krisis, makroekonomi kita kuat,” ucapnya.

Baca juga artikel terkait PENGUSAHA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra