Bagaimana WikiLeaks Memuluskan Jalan Trump ke Gedung Putih?

Donald Trump Jr, anak tertua kandidat presiden AS Donald Trump menghadiri konvensi nasional Partai Republik di Cleveland, Ohio, AS. (18/7/2016). REUTERS/Jonathan Ernst
Oleh: M Faisal Reza Irfan - 17 November 2017
Dibaca Normal 4 menit
Apa yang terbaru dari bocoran komunikasi antara Donald Trump Jr dan WikiLeaks?
Keluarga Trump kembali bikin geger Amerika. Kali ini bukan sang presiden rambut oranye—dengan segala ejekannya tentang Korea Utara—melainkan putra tertuanya, Donald Trump Jr. yang menjadi atensi pemberitaan. Pada Senin (13/11/2017) lalu, The Atlantic merilis serangkaian pesan pribadi antara Trump Jr. dengan WikiLeaks melalui pesan pribadi di Twitter. Pertukaran pesan itu dilakukan selama dan setelah pemilihan presiden Amerika pada 2016 dan telah dikonfirmasi Trump Jr.

Percakapan kedua belah pihak meliputi permintaan WikiLeaks akan informasi pajak penghasilan Donald Trump Sr., desakan agar Trump mengkampanyekan bahwa pemilu telah dicurangi pada hari pemungutan suara, sampai permintaan Julian Assange agar supaya diangkat sebagai sebagai duta besar Australia untuk AS.

Pengacara Trump, Alan S. Futerfas menyatakan akan menunggu kesempatan yang tepat untuk menanggapi kebocoran dokumen tersebut. “Kami tidak bermasalah dengan dokumen yang beredar tersebut dan pertanyaan-pertanyaan seputar dokumen itu bisa diajukan di forum yang tepat,” tambahnya seperti dilansir The New York Times. Julian Assange, pendiri WikiLeaks, mengungkapkan bahwa dirinya tidak bisa mengkonfirmasi kebenaran kabar tersebut.

Salinan percakapan tersebut sedianya sudah diserahkan kepada Kongres untuk ditindaklanjuti sebagai bagian dari investigasi terhadap campur tangan Rusia dalam kampanye dan pemilihan presiden Amerika pada 2016. Seruan kepada Kongres untuk meminta Trump bersaksi secara terbuka perihal intervensi Rusia juga meningkat.

Baca juga: Travel Ban dan Ucapan Terima Kasih Donald Trump

Washington menuduh Kremlin terlibat upaya meningkatkan peluang kemenangan Donald Trump seraya menurunkan elektabilitas saingannya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton dalam pemilu 2016. Selain itu, bocornya pesan Trump turut meyakinkan dinas intelijen AS bahwa WikiLeaks punya andil dalam campur tangan Rusia dengan menyebar informasi yang diperoleh dari hasil peretasan.

Para analis menyebutkan, reputasi keluarga Trump dipertaruhkan dengan bocornya percakapan Trump-WikiLeaks. Publik tentunya masih ingat pada Juni 2016, Trump mengadakan pertemuan dengan Natalia Veselnitskaya, pengacara yang memiliki koneksi kuat dengan Jaksa Agung Rusia. Pertemuan tersebut disinyalir membahas strategi untuk melemahkan Clinton yang kelak mengundang penyelidikan tentang dugaan hubungan Rusia dengan Trump.

Masih dari sumber New York Times, Mark Warner, petinggi Partai Demokrat di Komite Intelijen Senat menjelaskan apabila pesan tersebut terbukti benar, maka “ada satu lagi contoh bagaimana Rusia, agen Rusia—dalam hal ini WikiLeaks—berupaya mengontak pejabat senior di Organisasi Trump maupun kampanyenya.”

Bernilaikah dokumen?

Atlantic melaporkan kontak langsung pertama antara Trump Jr. dan WikiLeaks terjadi pada 20 September 2016. Saat itu WikiLeaks mengirim pesan ke akun Twitter Trump Jr tentang munculnya laman-laman anti-Trump, putintrump.org. Trump Jr. membalas: “Off the record, entah siapa ini, tapi aku bisa cari tahu.”

Beberapa hari setelahnya, tepatnya pada 3 September—satu hari sebelum WikiLeaks mengumumkan peretasan 20 ribu email Kongres Nasional Demokratik Nasional—sebuah pesan masuk ke akun Trum Jr. berbunyi: “Hiya. Akan sangat bagus jika kalian bisa mengomentari atau meramaikan cerita ini.” Trump Jr. lantas membalas, “Sudah dilakukan tadi. Dahsyat betul apa yang dia [Hillary Clinton] bawa.” Tak lama berselang, Trump Jr. kembali bertanya: “Ada apa di balik bocoran Rabu yang terus saya baca ini?”

Balasan ke Trump Jr. datang agak lama. Pada 12 Oktober ia menerima pesan:“Hei Donald, senang melihatmu dan ayahmu membicarakan publikasi kami.” WikiLeaks menambahkan, “Alangkah baiknya jika ayahmu menyertakan tautan ini saat me-mention kami.” Dalam pesannya, WikiLeaks menambahkan tautan ke email ketua tim kampanye Clinton, John Podesta, yang telah diretas.

Baca juga: Trump Ramah pada Duterte, Sebut Filipina Penting untuk Militer

Tak sampai setengah jam, Donald Trump yang waktu itu masih menjadi kandidat mengeluarkan cuitannya. "Sedikit sekali informasi luar biasa seperti WikiLeaks yang diterbitkan di media-media pembohong. Dusta! Kecurangan sistem!" tulis Trump.

Usai cuitan itu, WikiLeaks kembali mengirimkan pesan yang bunyinya: “Hai Don. Kami punya ide yang tak biasa ... Bocorkan satu atau lebih informasi tentang pajak ayahmu." Seperti disebut Atlantic, Wikileaks memaparkan tiga alasan mengapa pembocoran ini akan menguntungkan keluarga Trump dan WikiLeaks. "Pertama, The New York Times telah menerbitkan potongan informasi tentang pajak Trump pada 1 Oktober; kedua, sisanya bisa dirilis kapan saja 'melalui sumber-sumber yang paling bias (misalnya, New York Times/MSNBC)'".

Adapun alasan ketiga, menurut WikiLeaks, bocoran tersebut akan menambah bobot "imparsialitas kita". "Itu artinya, hal-hal yang kami publikasikan tentang Clinton akan memiliki dampak lebih besar karena tidak dianggap berasal dari sumber pro-Trump atau pro-Rusia yang terus dituduhkan kampanye Clinton pada pihak kita."

Baca juga: Reaksi Dunia Terhadap Kemenangan Donald Trump

Seminggu setelah kontak Trump Jr.-WikiLeaks, pihak Trump mulai mengeluarkan pernyataan bantahan mengenai kontak tersebut. Mike Pence menjelaskan tuduhan persekongkolan antara Trump dan WikiLeaks adalah “jauh dari kebenaran.”

Editor-at-large CNN Chriss Cillizza berpendapat pemberitaan terbaru mengenai Trump membuktikan bahwa hubungan Trump dan Rusia bukan isapan jempol belaka dan kini menjadi pukulan telak bagi pihak Trump.

Meski demikian sebagian pihak memandang komunikasi pribadi yang dilakukan Trump Jr.dan WikiLeaks di Twitter selama masa kampanye presiden 2016 tidak melanggar undang-undang AS. Percakapan yang dilakukan Trump dan WikiLeaks yang cenderung berbau kolusi bukan sebuah kejahatan khusus jika merujuk pada undang-undang federal.

Di sisi lain, muncul perdebatan di kalangan pakar hukum apakah tim kampanye Trump telah melanggar peraturan kampanye yang melarang warga asing menyumbang uang atau 'benda bernilai' lainnya ke kampanye.

“Jika saya warga negara asing dan saya menyumbang seribu dolar untuk kampanye, berarti itu bernilai. Kalau saya memberikan sebuah berkas, itu juga bisa dianggap sesuatu yang bernilai. Jadi, pertanyaan muncul dalam kontroversi Donald Trump, Jr. sekarang ini apakah menyumbang pada informasi tentang Hillary Clinton ... bisa dipandang 'sesuatu yang bernilai' menurut undang-undang?” tanya Rick Hasen, profesor hukum spesialis undang-undang pemilihan dari University of California.

Maksud Julian Assange

Dari permasalahan yang timbul di atas, muncul pertanyaan tak kalah penting; mengapa Julian Assange si pendiri WikiLeaks terkesan membantu Trump? Apa motivasinya?

Jawabannya, menurut sebagian analis, sederhana: Assange membutuhkan tempat yang bisa membuat dirinya tak lagi menjadi pesakitan.

Keterlibatan Assange bermula pada akhir Juli 2016. Ketika itu, WikiLeaks pertama kali 'terjun' dalam palagan pilpres AS. Di awal kemunculannya, mereka langsung membuat gebrakan; meretas dan merilis sekitar 19 ribu email yang menunjukan Partai Demokrat berusaha menjegal pencalonan Bernie Sanders.

Sejak itu Assange mulai merapat ke kubu Trump dan memojokkan Clinton, hingga berpuncak pada skandal email yang menurunkan elektabilitas Clinton menjelang pemilihan. Tak hanya Clinton yang jadi korban peretasan, kepala kampanyenya John Podesta pun bernasib sama. Dua hantaman ke tubuh Demokrat menjelang babak akhir kampanye cukup berpengaruh besar pada terpilihnya Trump.



Angela Richter, rekan Assange di WikiLeaks pernah menyatakan, bagi Assange pilihan antara Trump atau Clinton adalah sama buruknya. Richter menegaskan, “Mungkin pikirnya, Trump adalah orang yang kacau, tapi itu akan jadi lebih menarik jika memihak pada Trump. Apabila Hillary jadi presiden, semuanya akan sama.”

Max Chafkin dan Vernon Silver dari Bloomberg dalam artikel "How Julian Assange Turned WikiLeaks Into Trump's Best Friend" menjelaskan, yang menjadi dasar pertimbangan Assange memilih Trump ialah faktor keamanan pribadi. Pada 2010, pemerintah AS menyatakan agar WikiLeaks diselidiki setelah organisasi tersebut merilis ratusan ribu dokumen Departemen Luar Negeri AS hasil retasan.

Saat peretasan terjadi, Hillary yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri segera memerintahkan perburuan terhadap Assange untuk diadili. Tentu tak mungkin Assange berkubu pada pihak yang berupaya menangkapnya.

Belum lagi fakta bahwa Ekuador (negara yang menyediakan kedutaan besarnya sebagai tempat perlindungan Assange di London) akan menyelenggarakan pemilihan presiden pada 2017. Kepala negara yang waktu itu juga jadi pelindung utamanya, Rafael Correa kemungkinan tidak kembali mencalonkan diri dalam pemilihan. Artinya, ketika Correa tidak lagi menjabat, Ekuador bisa saja menolak permintaan suaka Assange dan mendeportasinya ke AS untuk diadili. Skenario ini bisa terealisasi, jika Hillary menang pemilu. Maka satu-satunya pilihan realistis bagi Assange adalah merapat ke Trump.

Trump berkali-kali menolak diasosiasikan dengan Assange. Namun, beberapa kali kejadian mencatat sebaliknya. Pada kampanyenya di Pennsylvania, Trump pernah mengatakan bahwa ia "menyukai WikiLeaks" dan memuji Assange sebagai "pejuang kebebasan," serta "pembawa kebenaran. Trump juga menyatakan bahwa kasus pemerkosaan yang melibatkan Assange adalah "karangan media" belaka.

Sekarang publik tinggal menunggu apakah Trump akan mengakui jasa-jasa Assange atau justru membuatnya semakin menjadi pesakitan.

Baca juga artikel terkait DONALD TRUMP atau tulisan menarik lainnya M Faisal Reza Irfan
(tirto.id - Politik)

Reporter: M Faisal Reza Irfan
Penulis: M Faisal Reza Irfan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight