Trump Ramah pada Duterte, Sebut Filipina Penting untuk Militer

Trump Ramah pada Duterte, Sebut Filipina Penting untuk Militer
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbincang dengan Presiden FIlipina Rodrigo Duterte saat makan malam gala memperingati 50 tahun ASEAN di Manila, Filipina, Minggu (12/11/2017). ANTARA FOTO/REUTERS/Jonathan Ernst
15 November, 2017 dibaca normal 1 menit
Keramahan yang ditujukan Trump pada Duterte mengabaikan tudingan pembunuhan massal yang dilakukan Presiden Filipina.
tirto.id - Donald Trump mengungkapkan bahwa hubungan erat antara Amerika Serikat (AS) dengan Filipina sangat penting untuk alasan militer. Hal tersebut diungkapkan Presiden AS saat mengakhiri kunjungan ke Manila, mengabaikan adanya tudingan pembunuhan massal yang dilakukan di bawah kekuasaan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte.

Trump juga mengklaim bahwa dirinya telah berhasil memperbaiki hubungan AS dengan Filipina yang sempat memanas pada tahun lalu saat Presiden Amerika ke 44 Barack Obama memberikan kritik atas program pemberantasan narkoba yang dijalankan oleh Duterte.

“Hubungan Filipina dengan pemerintah sebelumnya sangat mengerikan jika diungkapkan ke dalam kata-kata yang sopan. Menurut saya, sangat mengerikan merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan hal itu,” kata Trump kepada awak media, sebagaimana dilansir The Straits Times, Selasa (14/11/2017).

“Dan kini kami memiliki hubungan yang sangat erat dengan Filipina, yang amat penting bagi keperluan militer ketimbang kepentingan perdagangan,” tambahnya.

Saat kampanye pada pemilu tahun lalu, Duterte berjanji akan membasmi narkoba di tengah masyarakat dan mengklaim akan menghabisi nyawa 100 ribu orang.

Sejak Duterte mulai berkuasa 16 bulan lalu, ribuan orang tewas dan berbagai kelompok HAM menuding polisi dan pembunuh bayaran melakukan pembantaian massal.

Pada waktu itu, Presiden Obama juga mendesak agar Duterte mengikuti peraturan hukum saat berperang melawan narkoba.

Sebelumnya, Trump telah diminta oleh kelompok hak asasi manusia untuk menyuarakan kekhawatiran yang muncul terkait dengan perang narkoba di Manila.

Sementara itu, Filipina merupakan bekas koloni AS yang akhirnya menjadi sekutu pentingnya yang berada di Asia dan tetap terikat dalam suatu kesepakatan pertahanan bersama.

Baca juga artikel terkait KUNJUNGAN TRUMP atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - rat/rat)

Keyword