tirto.id - Australia akan secara resmi mengakui Negara Palestina dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 pada September 2025. Langkah ini menjadi bagian dari upaya global untuk mendorong solusi dua negara, menghentikan kekerasan di Gaza, dan mempercepat pembebasan sandera.
Dukungan Australia terhadap pembentukan dua negara sebenarnya telah dimulai sejak 1947, ketika negara ini menjadi yang pertama menyetujui Resolusi 181 PBB.
Kala itu, Menteri Luar Negeri Australia, H.V. Evatt, memainkan peran penting dalam mendorong lahirnya Israel dan Palestina secara berdampingan. Kini, lebih dari tujuh dekade kemudian, Australia kembali menegaskan komitmennya terhadap solusi damai yang adil.
Keputusan ini juga dipengaruhi oleh komitmen reformasi besar dari Otoritas Palestina, termasuk penolakan terhadap kekerasan dan pengakuan terhadap hak Israel untuk eksis.
Australia melihat momen ini sebagai peluang historis untuk memperkuat suara-suara moderat di Timur Tengah dan mengikis pengaruh kelompok ekstremis seperti Hamas.
Apa Saja Negara yang Berkomitmen Mengakui Palestina
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese menyampaikan, keputusan pemerintahannya didasarkan pada pertimbangan matang. Ia menegaskan pengakuan terhadap Palestina bukan langkah simbolik semata.
Anthony Albanese menekankan pentingnya komitmen dari pihak Palestina sebagai prasyarat. Australia menghendaki jaminan, kelompok ekstrem seperti Hamas tidak memiliki peran dalam negara di masa mendatang.
"Solusi dua negara adalah harapan terbaik umat manusia untuk memutus siklus kekerasan di Timur Tengah dan mengakhiri konflik, penderitaan, dan kelaparan di Gaza," kata Albanese dalam konferensi pers sebagaimana dikutip dari laman Reuters.
Dukungan global terhadap kemerdekaan Palestina terus menguat. Laporan Antara menyebutkan, hingga pertengahan 2025, sebanyak 147 negara telah menyatakan pengakuan resmi terhadap Palestina sebagai negara berdaulat.
Gelombang pengakuan terus bertambah sejak awal 2024, dengan sepuluh negara baru, termasuk Irlandia, Norwegia, Spanyol, dan Armenia, resmi masuk dalam barisan pendukung. Namun, di tengah derasnya arus pengakuan internasional, Amerika Serikat tetap bergeming.
Negeri adidaya itu kembali menegaskan penolakannya terhadap status kenegaraan Palestina. Amerika menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB untuk menggagalkan upaya Palestina meraih keanggotaan penuh pada 2024.
Berikut ini laporan Al Jazeera mengenai daftar negara yang telah berkomitmen mengakui Palestina:
- Zimbabwe
- Zambia
- Yemen
- Vietnam
- Venezuela
- Vanuatu
- Uzbekistan
- Uruguay
- Ukraine
- Uganda
- UAE
- Turkmenistan
- Turkey
- Tunisia
- Trinidad and Tobago
- Togo
- Thailand
- Tanzania
- Tajikistan
- Syria
- Sweden
- Suriname
- Sudan
- Sri Lanka
- Spain
- South Sudan
- South Africa
- Somalia
- Slovenia
- Slovakia
- Sierra Leone
- Seychelles
- Serbia
- Senegal
- Saudi Arabia
- Sao Tome and Principe
- Saint Vincent and the Grenadines
- Saint Lucia
- Saint Kitts and Nevis
- Rwanda
- Russia
- Romania
- Qatar
- Poland
- Philippines
- Peru
- Paraguay
- Papua New Guinea
- Pakistan
- Oman
- Norway
- North Korea
- Nigeria
- Niger
- Nicaragua
- Nepal
- Namibia
- Mozambique
- Morocco
- Montenegro
- Mongolia
- Mexico
- Mauritius
- Mauritania
- Mali
- Maldives
- Malaysia
- Malawi
- Madagascar
- Libya
- Liberia
- Lesotho
- Lebanon
- Laos
- Kyrgyzstan
- Kuwait
- Kenya
- Kazakhstan
- Jordan
- Jamaica
- Ivory Coast
- Ireland
- Iraq
- Iran
- Indonesia
- India
- Iceland
- Hungary
- Honduras
- Holy See
- Haiti
- Guyana
- Guinea-Bissau
- Guinea
- Guatemala
- Grenada
- Ghana
- Georgia
- Gambia
- Gabon
- Ethiopia
- Eswatini
- Equatorial Guinea
- El Salvador
- Egypt
- Ecuador
- East Timor
- DRC
- Dominican Republic
- Dominica
- Djibouti
- Czech Republic
- Cyprus
- Cuba
- Costa Rica
- Congo
- Comoros
- Colombia
- China
- Chile
- Chad
- Central African Republic
- Cape Verde
- Cambodia
- Burundi
- Burkina Faso
- Bulgaria
- Brunei
- Brazil
- Botswana
- Bosnia and Herzegovina
- Bolivia
- Bhutan
- Benin
- Belize
- Belarus
- Barbados
- Bangladesh
- Bahrain
- Bahamas
- Azerbaijan
- Armenia
- Argentina
- Antigua and Barbuda
- Angola
- Algeria
- Albania
- Afghanistan
Penulis: Satrio Dwi Haryono
Editor: Syamsul Dwi Maarif
Masuk tirto.id





























