Menuju konten utama

ASN di Bantul Wajib Bikin Biopori, Jika Tidak Mau Tukin Ditunda

Bupati Bantul wajibkan ASN bikin biopori untuk mengurangi timbulan sampah organik.

ASN di Bantul Wajib Bikin Biopori, Jika Tidak Mau Tukin Ditunda
Bupati Bantul, Abdul Halim saat diwawancarai awak media usai acara Muhammadiyah Jogja Expo (MJE) di JEC, Kabupaten Bantul, Jumat (12/9/2025). tirto.id/ Abdul Haris

tirto.id - Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, mewajibkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di bawah jajarannya untuk membuat biopori sebagai solusi pengentasan sampah organik. Bagi ASN yang tidak patuh, akan disaksi dengan penundaan tunjangan kinerja.

"Baru aja kita terbitkan edaran ASN, pamong, pegawai BUMD, wajib hukumnya membangun biopori secara mandiri di rumah masing-masing," kata Halim saat diwawancarai awak media usai acara Muhammadiyah Jogja Expo (MJE) di JEC, Kabupaten Bantul, Jumat (12/9/2025).

Halim bilang, 70 persen sampah yang ada di Kabupaten Bantul merupakan sampah organik. Sehingga permasalahan sampah di Bumi Projotamansari dapat terselesaikan dari rumah masing-masing dengan biopori.

Sebab itu, Halim meminta agar 10 ribu ASN menjadi contoh di masyarakat untuk membuat biopori di rumahnya. Sehingga tidak ada sampah sisa makanan yang harus dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan.

“Sisa-sisa makanan jangan dibuang ke TPST Piyungan, buang di halaman sendiri dengan biopori itu,” tegasnya.

Namun, bagi ASN yang tidak membangun biopori di rumahnya, Halim menyebut telah menyiapkan sanksi tersendiri.

"Sanksinya bisa penundaan pembayaran tunjangan kinerja. Bisa dilakukan skorsing-skorsing dan seterusnya," tandas Halim.

Ia berharap agar ASN dapat menjadi agen perubahan dalam menyelesaikan persoalan sampah di Bantul.

"ASN kita harapkan jadi agen perubahan. Dialah yang harus memulai lebih dahulu," katanya.

Sebagai informasi, Biopori adalah lubang vertikal di tanah yang berfungsi untuk menyerap air hujan dan mengolah sampah organik secara langsung di tempat.

Biasanya dibuat dengan diameter sekitar 10–30 cm dan kedalaman hingga 100 cm, lubang ini diisi sampah organik seperti daun kering atau sisa dapur untuk mendukung aktivitas mikroorganisme tanah.

Selain membantu mengurangi genangan air dan risiko banjir, biopori juga memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburannya, dan menghasilkan kompos alami.

Metode ini menjadi solusi sederhana namun efektif untuk mengatasi persoalan sampah rumah tangga dan krisis daya serap tanah di wilayah perkotaan maupun pedesaan.

Baca juga artikel terkait SAMPAH ORGANIK atau tulisan lainnya dari Abdul Haris

tirto.id - Flash News
Kontributor: Abdul Haris
Penulis: Abdul Haris
Editor: Siti Fatimah