tirto.id - Pasar global kembali diwarnai sentimen hawkish menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak. Nilai tukar dolar AS menunjukkan ketahanan pada perdagangan Rabu (2/9/2026), imbas serangan udara AS ke Iran yang memicu pembalasan dari Teheran.
Ketegangan geopolitik ini mengerek harga minyak mentah dan menghidupkan kembali kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi.
Mengutip Reuters, pasar berjangka menunjukkan minyak mentah Brent naik 0,92 persen menjadi 95,52 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,89 persen ke 91,02 dolar AS, memperpanjang reli yang terjadi pada sesi sebelumnya.
Indeks dolar AS, yang mengukur posisi mata uang Paman Sam terhadap enam mata uang utama termasuk yen dan euro, terpantau stabil di level 99,67.
Daya Tarik Safe-Haven dan Spekulasi Suku Bunga The Fed
Di tengah ketidakpastian ini, imbal hasil obligasi pemerintah AS terus meningkat, memperkuat daya tarik dolar sebagai aset safe-haven. Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve pun semakin menguat, meskipun data ekonomi terbaru seperti lowongan pekerjaan JOLTS Juli dan indeks manufaktur ISM Agustus dirilis di bawah perkiraan pasar.
"Kewaspadaan berkelanjutan diperlukan atas situasi di Timur Tengah hari ini," ujar Kumiko Ishikawa, analis senior FX di Sony Financial Group dikutip dari Reuters.
Menariknya, data ekonomi yang lemah dari AS justru tak mampu menekan dolar. Menurut Ishikawa, "jika angka-angka tersebut lemah, dampaknya dapat diimbangi oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah."
Alat FedWatch dari CME Group menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada September mencapai 67 persen, melonjak dari sekitar 40 persen sepekan sebelumnya. Sentimen ini didorong oleh pidato Ketua Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pekan lalu serta pernyataan Gubernur Fed Michael Barr pada Selasa bahwa bank sentral AS perlu menaikkan suku bunga jika inflasi tak kunjung mendingin.
Imbal hasil acuan obligasi 10 tahun AS naik tipis ke 4,8 persen, sementara imbal hasil 10 tahun Jepang mencapai 3 persen pada Rabu pagi setelah mencatat rekor 30 tahun pada Selasa.
Kenaikan imbal hasil ini mendorong pelarian modal ke aset-aset safe-haven seperti dolar AS, sekaligus menekan instrumen berisiko termasuk saham.
Dampak Terhadap Kurs Yen dan Peluang Intervensi Pasar
Pasar kini menantikan rilis data ketenagakerjaan dan inflasi harga konsumen Agustus yang akan keluar sebelum pertemuan Fed pada 15-16 September. Laporan ketenagakerjaan Jumat mendatang diperkirakan menunjukkan penambahan 56.000 pekerjaan, berdasarkan estimasi median survei Reuters.
Sementara itu, posisi yen Jepang masih tertekan di angka 160,21 per dolar—bertahan di atas level psikologis 160 meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan semakin kuat. Intervensi bersama AS dan Jepang akhir Juli lalu hanya memberikan kelegaan sementara, menarik yen dari level terendah 40 tahun di 163,99, namun mata uang tersebut telah kehilangan sekitar setengah dari keuntungannya.
Tony Sycamore, analis pasar di IG, menilai peluang intervensi terkoordinasi putaran lain masih tipis selama ketegangan di Selat Hormuz belum mereda.
"Tampaknya ada sedikit peluang untuk intervensi terkoordinasi aktual putaran lain sampai ada penurunan ketegangan di Selat Hormuz yang meredam harga minyak," jelasnya.
Pelemahan Valuta Asing Lain dan Koreksi Aset Kripto
Di sisi lain, dolar Selandia Baru sedikit melemah ke 0,5889 dolar AS menjelang keputusan Reserve Bank of New Zealand yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga seperempat poin menjadi 2,75 persen. Poundsterling melemah 0,04 persen ke 1,3509 dolar AS, sementara dolar Australia stabil di 0,7143 dolar AS.
Di pasar kripto, bitcoin turun 0,07 persen menjadi 77.376,22 dolar AS dan ethereum melemah 0,08 persen ke 2.418,26 dolar AS, mencerminkan peralihan aset investor ke instrumen yang lebih aman di tengah ketidakpastian geopolitik.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id







































