Menuju konten utama

Berapa Harga Minyak Dunia saat Konflik AS-Iran Memanas Lagi?

Eskalasi terbaru ini membawa kembali ancaman gangguan pasokan dari kawasan Teluk yang selama ini menjadi urat nadi energi global.

Berapa Harga Minyak Dunia saat Konflik AS-Iran Memanas Lagi?
Suasana dari kapal tongkang akomodasi (Barge 222) Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Rabu (15/6/2022). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah serangan langsung dilancarkan pada akhir pekan lalu, sehingga memicu lonjakan harga minyak mentah dunia di awal pekan ini. Eskalasi terbaru ini membawa kembali ancaman gangguan pasokan dari kawasan Teluk yang selama ini menjadi urat nadi energi global.

Melansir Reuters, pada perdagangan Selasa (1/9/2026), harga minyak mentah Brent berjangka tercatat menguat 56 sen atau 0,6 persen menjadi 91,05 dolar AS per barel pada pukul 00.44 GMT.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga melonjak 83 sen atau 1 persen ke level 86,59 dar AS per barel.

Peningkatan ini memperpanjang reli pada sesi sebelumnya, dimana Brent ditutup melesat 2,7 persen dan WTI meroket 2,8 persen, masing-masing menyentuh rekor tertinggi sejak akhir Agustus lalu.

Akar konflik ini bermula dari pertukaran serangan langsung pertama antara Washington dan Tehran pada Minggu (30/8/2026), setelah nyaris sebulan kedua negara hanya terlibat dalam kebuntuan di bidang ekonomi.

Menanggapi hal itu, Presiden AS Donald Trump pada Senin mengancam akan melancarkan serangan balasan lebih lanjut terhadap Iran, langkah yang secara signifikan meninggikan suhu ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Ancaman militer yang bergulir cepat ini langsung merambat ke sentimen pasar komoditas. Menurut Tim Waterer, Kepala Analis Pasar di KCM, situasi tersebut menghidupkan kembali skenario pembalasan dari pihak Iran.

"Hal ini membawa potensi pembalasan Iran. Hal itu pada gilirannya meningkatkan kemungkinan kerusakan pada infrastruktur energi di sekitar Teluk dan menambah ketidakpastian baru bagi pengiriman melalui Selat Hormuz. Kedua risiko tersebut tercermin dalam kecenderungan harga minyak yang lebih kuat," jelas Waterer.

Selat Hormuz sendiri menjadi episentrum kekhawatiran. Data pelayaran dari Kpler menunjukkan bahwa selama akhir pekan, jumlah kapal komoditas yang terlihat melintasi jalur strategis tersebut turun drastis menjadi hanya lima unit per hari.

Sejak ditutup oleh Iran pada 28 Februari, menyusul serangan gabungan AS dan Israel, selat yang sebelumnya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global ini masih belum menunjukkan tanda-tanda akan dibuka kembali.

Berbagai upaya mediasi yang digagas oleh Qatar dan Oman pun disebut masih mandek tanpa kemajuan berarti. Risiko nyata terhadap pelayaran pun kembali terkonfirmasi pada Selasa ini. Badan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan bahwa sebuah kapal tanker dilaporkan terkena tiga proyektil saat berlayar keluar dari Selat Hormuz.

Beruntung, insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun dampak lingkungan yang dilaporkan.

Di tengah situasi genting tersebut, Presiden Trump pada Jumat lalu mengumumkan kesepakatan dengan Venezuela yang bertujuan mengontrol cadangan minyak negara Amerika Selatan itu. Langkah ini disebutnya nantinya akan membantu mengisi kembali Cadangan Minyak Strategis AS yang saat ini berada di titik terendah dalam 44 tahun terakhir.

Ke depan, para analis yang disurvei Reuters pada Agustus lalu memprediksi harga minyak akan tetap bertahan di atas 80 dolar AS per barel sepanjang tahun 2026, selama gangguan pelayaran di kawasan Teluk masih berlanjut. Kombinasi antara konflik militer yang eskalatif dan penyempitan jalur suplai utama dinilai akan terus memberikan tekanan ke atas pada harga komoditas energi dalam jangka menengah.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto