tirto.id - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling menyerang setelah sekitar sebulan perang kedua negara berada di situasi yang relatif tenang secara militer. Saling serang antara dua negara itu dilaporkan kembali terjadi pada Senin (31/8/2026) waktu Indonesia.
Menukil CNN, AS telah menyerang Pulau Larak di Selat Hormuz pada Senin pagi waktu Indonesia. Tak berselang lama, Iran membalas dengan melancarkan serangan rudal ke aset militer AS di Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA).
Menurut keterangan juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, serangan AS di Pulau Larak itu dilakukan dengan target dua peluncur roket di pulau tersebut. AS juga disebut memilih untuk menyerang Larak setelah menerima informasi bahwa Iran tengah bersiap menyebar ranjau laut di Hormuz.
Melalui unggahan di X, CENTCOM menyebut serangan tersebut menargetkan “pasukan penebar ranjau Iran yang menimbulkan ancaman nyata” di jalur penting distribusi energi dunia tersebut.
“Iran menciptakan ancaman tersebut dan militer AS melenyapkannya,” tulis keterangan CENTCOM.
Media pemerintah Iran melaporkan adanya ledakan pada Senin pagi. Suara ledakan disebut tampak berasal dari daratan kecil di lepas pantai Bandar Abbas di Iran bagian selatan. Ledakan menyebabkan korban jiwa dari pasukan Iran dan warga sipil.
Seiring serangan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian membuat pernyataan. Ia menyebut Iran “tidak akan pernah tinggal diam” dan mengingatkan AS bahwa pihaknya mampu merespons secara militer.
“Kami tidak mencari perang … tetapi dalam menghadapi agresi, kami tidak akan pernah tinggal diam, dan kami mampu memberikan respons yang tegas,” tutur Pezeshkian yang disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah, IRIB.
Hal serupa juga diungkap Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut serangan ke Larak sebagai “kesalahan strategis dan mematikan” oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump. IRGC juga bersumpah akan membalas.
Beberapa jam setelah serangan AS di Larak, Iran mengeklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Yordania dan UEA. Hal ini telah dikonfirmasi militer Yordania dan UEA.
Militer Yordania merilis pernyataan, sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat 8 rudal yang masuk wilayahnya. Seluruhnya diklaim berhasil dinetralisir, sebelum menimbulkan ancaman bagi warga sipil dan properti.
Sementara itu, militer UEA menyatakan telah mencegat serangan drone. UEA menyebut drone tersebut tampak datang dari wilayah Iran dan mendekat melalui perairan teritorial mereka.
Di sisi lain, IRGC menyatakan berhasil menghantam pangkalan King Hussein dan Al Azraq di Yordania lewat serangannya. Seturut Al Jazeera, serangan itu melibatkan rudal dan drone dan disebut IRGC sebagai operasi “Hukuman bagi Agresor”.
IRGC menyebut, serangan mereka berhasil “menghancurkan infrastruktur teknis dan perbaikan, serta lokasi penempatan pesawat tempur musuh". Berkebalikan dengan klaim militer Yordania, IRGC mengklaim operasi “Hukuman bagi Agresor” telah menimbulkan kerusakan yang signifikan.
Selain menyerang Yordania dan UEA, IRGC juga menyatakan telah menembak jatuh drone MQ-9 Reaper milik AS. Mereka mengeklaim drone itu jatuh di atas Selat Hormuz.
Trump Unggah Video AI soal Serangan ke Pulau Kharg
Sementara itu, seiring saling balas serangan terjadi, Donald Trump mengunggah sebuah video yang dihasilkan AI melalui sosial media miliknya pada Senin. Video itu menggambarkan pemboman Pulau Kharg oleh militer AS.
“Pulau Kharg hancur berkeping-keping!!! Presiden DJT,” tulis keterangan pada unggahan itu.
Akan tetapi, unggahan yang dihasilkan AI itu tampaknya tidak didasarkan pada peristiwa nyata. Sejauh ini tak ada laporan yang membuktikan bahwa pusat energi Iran itu telah diserang.
Meski begitu, Kharg telah berulang kali jadi objek ancaman Trump selama perang berlangsung. Pusat ekspor minyak Iran itu berulang kali diancam direbut atau dihancurkan oleh AS.
Saling serang yang terjadi hari ini menandai eskalasi baru dalam perang yang telah berkecamuk selama setengah tahun sejak 28 Februari lalu. Kini, konflik bermuara pada masa depan jalur pelayaran Selat Hormuz yang diperdebatkan.
Upaya negosiasi penghentian perang antara AS dan Iran kini dilaporkan sepenuhnya terhenti. Namun, sekutu AS macam Oman disebut terus berupaya menjalin komunikasi dengan Iran.
Oman dan Iran sebelumnya dilaporkan telah mencapai kesepahaman terkait otorisasi lalu lintas maritim melalui Hormuz. Hal itu sempat dinilai sebagai terobosan dalam perang, mengingat Iran dan AS tak kunjung mencapai kesepahaman dalam hal ini.
Akan tetapi, hal tersebut tampaknya tak memuaskan pihak AS. Pekan lalu, pemerintahan Trump mengumumkan upaya untuk mengisolasi Iran secara ekonomi dengan penerapan sanksi-sanksi tambahan. Hari ini, situasi tersebut kembali memburuk dengan dimulainya serangan antar dua negara yang bermusuhan itu.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































