Menuju konten utama

Harga Minyak Mentah AS Hari Ini 26 Agustus: Turun 1,7 Persen

Harga WTI turun 1,7 persen menjadi $80,99 per barel. Gangguan pasokan minyak global akibat konflik diperkirakan mencapai 5-7 juta barel per hari.

Harga Minyak Mentah AS Hari Ini 26 Agustus: Turun 1,7 Persen
Suasana dari kapal tongkang akomodasi (Barge 222) Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Rabu (15/6/2022). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Rabu (26/8/2026) pagi, melanjutkan penurunan yang terjadi pada sesi sebelumnya.

Penurunan harga dipicu oleh harapan pasar bahwa Selat Hormuz dapat kembali dibuka setelah Iran menyebut telah melanjutkan pembicaraan dengan Oman mengenai pengelolaan jalur perairan strategis tersebut.

Mengutip Reuters, Rabu (26/8/2026), kontrak berjangka minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) turun 1,37 dolar AS atau 1,7 persen menjadi 80,99 dolar AS per barel pada pukul 22.40 waktu setempat. Sehari sebelumnya, harga WTI sempat merosot 3,1 persen dan ditutup pada level terendah sejak 13 Agustus.

Sementara itu, Iran menyatakan telah kembali melanjutkan pembicaraan dengan Oman untuk mengelola Selat Hormuz, di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dari Presiden AS Donald Trump.

Meski begitu, Iran dan Oman telah beberapa kali melakukan pembicaraan selama beberapa pekan terakhir mengenai pengaturan lalu lintas kapal melalui jalur perairan tersebut. Sebelum perang dimulai pada Februari, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Dalam upaya menekan perekonomian Iran, AS pada Senin (24/8/2026) mengumumkan perluasan sanksi untuk memutus sumber pemasukan utama Iran. Washington juga mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada negara-negara yang tetap melakukan bisnis dengan Iran, meski menyatakan hukuman tersebut tidak akan langsung diberlakukan.

Sementara itu, perhitungan Reuters pada Selasa (25/8/2026), menunjukkan bahwa hampir separuh pasokan minyak dunia pada 2026 berasal dari negara-negara yang tengah terdampak konflik. Kondisi tersebut menegaskan bahwa gangguan pasokan saat ini telah melampaui skala krisis energi yang pernah terjadi sebelumnya.

Enam bulan lalu, serangan AS dan Israel ke Iran memicu krisis pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan krisis tersebut akan berakhir.

Pada saat yang sama, perang Rusia-Ukraina juga memaksa sejumlah negara melakukan pengurangan produksi dan kapasitas pengolahan minyak, termasuk Kazakhstan yang terdampak pada tahun ini.

Konflik yang masih berlangsung di Libya serta pembatasan AS terhadap ekspor minyak Venezuela pada awal tahun turut menambah tekanan terhadap pasokan energi global.

Secara keseluruhan, negara-negara yang terdampak konflik tersebut memproduksi sekitar 45 juta barel minyak per hari berdasarkan tingkat produksi pada 2025. Angka itu setara dengan lebih dari 43 persen pasokan minyak global, berdasarkan perhitungan Reuters yang menggunakan data Badan Energi Internasional (IEA).

Gangguan tersebut meningkatkan ketergantungan dunia terhadap pasokan minyak dari AS, meskipun pasokan dari negara tersebut juga sesekali terganggu akibat cuaca ekstrem.

Namun, tidak semua gangguan pasokan minyak yang terjadi tahun ini berlangsung secara bersamaan. Dengan Arab Saudi mengalihkan pengiriman minyak melalui Laut Merah dan negara-negara eksportir di kawasan Teluk secara diam-diam tetap mengirimkan minyak melalui Selat Hormuz, gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk saat ini diperkirakan mencapai sekitar 5 juta hingga 7 juta barel per hari (bph), menurut perkiraan para analis.

Risiko terhadap keseluruhan arus pengiriman minyak masih tinggi, seperti ditunjukkan oleh serangan di Laut Merah dan di sekitar Terusan Suez, Mesir, pada Juli lalu.

Konflik di kawasan Teluk dan perang Rusia-Ukraina juga telah memangkas kapasitas penyulingan minyak global sekitar 10 persen. Ukraina telah menargetkan sebagian besar jaringan kilang minyak Rusia, termasuk menyerang fasilitas yang berjarak hingga sekitar 2.700 kilometer (1.680 mil) dari wilayah yang dikuasai Ukraina.

Rusia kini menghadapi kekurangan bahan bakar dan telah melarang ekspor bensin serta solar, sehingga semakin memperketat pasokan bahan bakar di pasar global.

Kenaikan harga bahan bakar menjadi salah satu pendorong utama inflasi. Kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap meningkatnya biaya pinjaman dan membantu mendorong utang AS ke rekor 40 triliun dolar AS.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra